Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 137


__ADS_3

"Kenapa lihat-lihat?" tanya Irene curiga. Sejak tadi Ares sepertinya terus memperhatikannya.


"Siapa yang lihat-lihat? Percaya diri banget. Aku cuma mau tanya, kamu mau main lagi, nggak? Bantu tim memenangkan 5 kali battle untuk hari ini," kilah Ares.


"Kamu gila, apa? Tanganku bisa keriting kalau main game terus!" protes Irene.


"Kamu kan yang sudah janji sendiri mau menemaniku main game seharian kalau aku masuk peringkat 5. Resiko ditanggung sendiri."


"Ya, aku memang bilang begitu. Tapi, aku kira hanya permainan santai, bukan untuk masuk turnamen," keluh Irene.


Sebelumnya Irene sudah membantu tim Ares memenangkan 5 pertandingan. Tim demi tim yang dihadapi memiliki skill permainan yang semakin meningkat membuat otak mau tidak mau terkuras untuk menciptakan strategi terbaik.


Masih sangat jauh tahap yang harus ditempuh untuk masuk menjadi salah satu tim dalam turnamen e-sport tingkat dunia yang seleksinya diadakan selama satu bulan. Setiap tim harus mengumpulkan banyak poin kemenangan untuk mengungguli tim lain dan bisa masuk jajaran top 100.


"Setidaknya bantu sampai timku masuk finalis di turnamen itu. Tidak adil kan kalau kamu tinggal begitu saja," kata Ares yang sangat mengharapkan kerjasama Irene.


"Kenapa? Sekarang kamu mau mengakui kehebatan permainanku?" Irene sedikit menyombongkan diri.


"Untuk akun baru lumayan lah permainannya. Walaupun skill bagus tapi nol pengalaman juga tidak bisa dikatakan hebat."


"Oke, aku akan membantu sesekali saja kalau senggang. Kamu cari saja anggota tim inti. Aku cukup jadi cadangan. Tapi, kalau nanti peringkatmu bisa naik ke 3 besar di jurusan, aku mau maju membawa timmu masuk 50 besar."


"Janji, ya!" ucap Ares semangat.


"Janji!" jawab Irene


Ia yakin Irene punya potensi yang bagus dalam permainan game tersebut. Ia merasa Irene sudah lama tahu tentang game itu, hanya saja pura-pura sebagai anak baru.


"Teman-temanku sepertinya sangat menyukaimu," kata Ares sembari membaca chat di timnya.


Mereka masih membahas kehebatan Irene dalam lima permainan yang mereka mainkan sekaligus. Mereka membandingkan Irene dengan Xiuqi yang sudah lama pensiun dari dunia game.


Xiuqi merupakan salah satu player wanita yang mampu menempati top 10 player dunia. Tidak ada yang tahu asal asli wanita itu, namun kebanyakan orang percaya Xiuqi berasal dari Tiongkok, seperti namanya.


***

__ADS_1


"Tuan Muda, di ruang tamu ada orang yang mengaku sebagai kakek dan nenek dari Nona Irene," kata salah seorang pelayan.


Alan mengerutkan dahi. Ia merasa heran kakek nenek Irene datang ke sana tanpa pemberitahuan. Kebetulan suasana rumah sedang sepi, hanya ada dirinya yang telah berada di rumah.


"Kakek masih belum pulang?" tanya Alan.


"Tuan Besar berkata akan pulang minggu depan," jawab si pelayan.


"Baiklah, aku akan turun. Kamu siapkan jamuan untuk tamu kita!" pinta Alan.


"Baik, Tuan Muda."


Pelayan tersebut meninggalkan pintu kamar Alan. Sementara, Alan kembali masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian yang lebih santai.


Beberapa saat kemudian, Alan turun ke lantai bawah menjumpai kakek nenek Irene yang baru pertama kali ini ia jumpai.


"Selamat sore, apa kalian kakek dan nenek Irene?" sapa Alan.


Kakek dan nenek Abraham saling berpandangan. Mereka takjub dengan sosok lelaki tampan yang baru muncul untuk menyapa mereka.


"Benar, kami kakek dan nenek Irene. Dimana cucu kami?" tanya sang kakek.


"Tidak aku sangka cucu Narendra setampan ini. Apa akhirnya kamu yang mau jadi calon suami cucuku?" tanya sang kakek.


Nenek Abraham mencubit suaminya. Ia rasa kakek Abraham terlalu terburu-buru menanyakan hal seperti itu.


Alan tampak canggung mendapatkan pertanyaan semacam itu. "Ah, kalau itu, saya sendiri masih belum tahu. Itu keputusan Kakek kami," jawabnya.


"Aku sudah sangat ingin menimang cicit yang dilahirkan Irene. Rumah kami sudah terlalu lama tidak mendengarkan tangisan bayi," kata kakek.


"Kakek ...." tegur nenek.


"Em, saya rasa Irene juga masih terlalu muda untuk menikah atau melahirkan anak. Dia juga masih kuliah," kata Alan.


Kakek dan nenek kembali bertatapan.

__ADS_1


"Irene kuliah?" tanya sang kakek heran.


"Iya. Kalian tidak perlu khawatir karena di sini Irene tetap mendapatkan pendidikannya," kata Alan.


"Tapi, Irene kan ...."


"Kakek! Nenek!"


Seruan Irene memotong perkatakan sang kakek. Mereka tampaknya lebih syok lagi melihat kehadiran Irene yang sangat jelek dengan penampilan acak-acakan dan berkeringat.


"Kakek ... Nenek .... Kenapa kalian datang tidak bilang-bilang? Aku kangen kalian?" ucap Irene seraya berlari dan memeluk mereka.


"Tolong jangan katakan yang aneh-aneh tentangku di rumah ini. Aku bisa menjelaskan semuanya," bisik Irene.


"Kamu benar cucu kami?" tanya sang nenek ragu.


"Tentu saja, Nenek Sayang ... Tapi, jangan bahas di sini. Please, pura-pura saja tidak tahu!" tegas Irene.


Meskipun masih terkejut melihat kondisi Irene, kakek dan nenek berusaha diam di rumah keluarga Narendra.


"Kakek dan Nenek pasti sudah berkenalan dengan Kak Alan, kan? Ini aku baru pulang dengan Ares. Ares, ini Kakek dan Nenekku dari desa!" kata Irene.


"Saya Ares, adiknya Kak Alan. Juga teman satu kampus Irene."


Ares menjabat tangan kakek dan nenek. Ia turut serta duduk di sana.


"Aku dengar keluarga Narendra punya lima cucu laki-laki. Dua yang di sini memang tampan-tampan. Lalu, dimana tiga lainnya?" tanya Nenek.


"Mereka masih bekerja. Mungkin malam baru pulang," jawab Alan.


"Sayang sekali Narendra tidak ada di ini. Padahal aku sudah jauh-jauh datang untuk bertemu dengannya," keluh sang kakek.


"Kita juga salah, tidak memberi tahu dia kalau kita akan datang," kata nenek.


"Memangnya Kakek dan Nenek datang mau apa? Kalau kangen aku seharusnya bilang, jadi aku yang bakal datang ke sana," ucap Irene.

__ADS_1


"Kami juga sesekali ingin mengunjungimu, Irene. Kami ingin tahu apa kamu diperlakukan dengan baik di sini atau tidak," kata Nenek.


"Mereka semua baik sekali kepada Irene, Nek. Makanya Irene sangat betah tinggal di sini," ucap Irene seraya mengembangkan senyuman lebar. Ia tidak tega menceritakan penderitaannya tinggal di sana.


__ADS_2