Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 91: Ketiduran di Kantor Alan


__ADS_3

Irene terlihat lunglai saat turun dari taksi. Usai kegiatan di kampus, ia diminta datang ke perusahaan oleh Ares untuk menyerahkan dokumen kepada Alan. Ia cukup kesal juga karena Ares yang seharusnya mengantar dirinya pulang hari ini malah pergi untuk urusan pribadinya. Ia dipaksa masuk taksi dan diantar ke perusahaan.


Meskipun sempat bekerja di sana, sepertinya para karyawan tidak ada yang mengenalinya. Ia yang sudah tahu di mana letak ruangan Alan langsung menaiki lift menuju lantai teratas.


Hari ini ia merasa sangat letih. Di kampus ia sempat mengikuti ekskul memanah sambil berkuda yang cukup menguras tenaga. Saat waktunya pulang, ia malah dipaksa Ares untuk melakukan satu pekerjaan.


"Eh eh eh ... Kamu karyawan baru kan?" seseorang tiba-tiba datang dengan langkah cepat menghampiri Irene.


Irene menoleh ke kanan dan ke kiri, tidak ada seorangpun di sana. Artinya, orang yang dimaksud sudah pasti dirinya.


"Antarkan ini ke ruangan Pak Presdir, ya! Hati-hati, kalau sampai tumpah, kamu akan langsung di pecat!" kata wanita itu seraya menyerahkan nampan berisi makanan kepada Irene.


Tanpa bisa memberikan penjrlasan terlebih dahulu, Irene sudah ditinggal dengan makanan tersebut. Ia memandangi dirinya sendiri, penampilanya hari ini memang mengenakan kemeja dan celana yang formal. Mungkin karyawan tersebut menganggapnya sebagai salah satu karyawan di sana.


"Ah! Dimana-mana selalu dikira pelayan kalau berdandan seperti ini," gumam Irene.


Meskipun kesal, Irene tetap melakukan apa yang wanita tadi suruh. Secara hati-hati, ia membawa nampan berisi makanan lezat yang masih panas. Sajian untuk seorang atasan di kantor tentu saja sangat istimewa. Bahkan aromanya sangat menggugah selera.


Sesampainya di ruangan Alan, ternyata tidak ada siapapun di sana. Irene meletakkan nampan makanan tersebut di area meja dapur kecil di sana. Sementara, dokumen yang Ares berikan kepadanya ia letakkan di meja milik Alan.


Ketika ia hendak duduk di sofa, aroma kelezatan makanan itu kembali menggodanya. Ia benar-benar tidak bisa membiarkan makanan itu menganggur. Seperti tergerak dengan sendirinya, ia berbalik ke arah dapur mendekati makanan untuk Alan.


"Ah, aku ingin memakannya ... Kak Alan juga tidak tahu akan datang kapan. Paling juga tidak akan marah kalau aku makan." Irene berbicara kepada dirinya sendiri.


"Kalau dimarahi tinggal minta maaf, kan ... Hehehe."

__ADS_1


Tanpa berpikir lagi, Irene segera duduk menghadap makanan di depannya. Ia kegirangan saat mengangkat sendok dan menciumi aroma yang keluar dari makanan tersebut.


Ketika satu suapan dari makanan nikmat itu memenuhi rongga mulutnya, ia seakan melayang. Satu suapan tak akan memuaskannya. Irene terus menyendoki makanan milik Alan hingga akhirnya habis tak bersisa.


"Ah ... Kenyangnya ...," ucap Irene puas.


Ia beralih ke kursi kerja Alan yang empuk dan dapat diputar 360 derajat. Kalau ada karyawan yang paling berani menggunakan ruangan presdir seenaknya, maka orang itu adalah Irene. Ia duduk di sana sambil membayangkan posisinya sebagai bos.


***


Alan baru saja kembali ke ruangannya setelah mengikuti rapat. Ia terkejut saat melihat ada Irene yang tertidur di kursi kerjanya dengan tenang. Ia melirik ke sekeliling, ada bekas tempat makan di area dapur. Alan hanya bisa menggeleng dengan kelakuan wanita itu.


Perlahan ia mendekati wanita yang sedang tertidur di kursinya. Ia menarik satu kursi yang ia tempatkan di samping kursi Irene. Pandangannya terus terpaku kepada wanita itu. Bahkan ia meletakkan kepalanya di atas meja hingga kepalanya berhadapan dengan kepala Irene.


Ia terus memandangi Irene yang matanya masih tertutup. Makin lama ia terus mengikis jarak dengan Irene. Ia ingin tahu, mengapa wajah wanita itu begitu menarik perhatiannya.


Irene membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat saat bangun dari tidur adalah wajah Alan. Ia beberapa kali mengerjap-kerjapkan mata untuk memastikan ia masih bermimpi atau tidak. Alan tampak mengulaskan senyum kepadanya.


"Astaga!" seru Irene. Reflek kagetnya telat saat menyadari bahwa lelaki di hadapannya benar-benar Alan.


Alan terkekeh melihat respon Irene. "Apa tidurmu nyenyak?" tanya Alan. "Pasti makanannya enak banget ya, sampai kamu kekenyangan dan tertidur," sindirnya. Makanan itu sebenarnya ia pesan melalui seorang staf yang ingin ia makan usai rapat. Berkat Irene, ia tidak jadi memakannya.


"Kak Alan kelamaan sampai aku ketiduran," Irene hanya bisa nyengir kuda.


"Kok kamu ke sini? Mau apa? Bukan karena tahu aku akan dapat makanan enak kan hari ini?" Alan masih menyindir.

__ADS_1


"Ini gara-gara Ares, Kak! Katanya dia mau main jadi menyutuhku yang menyerahkan dokumen untuk Kak Alan."


Alan menghela napas. "Anak itu benar-benar!" gumannya kesal. Ares seharusnya mulai bisa ikut fokus mengurus pekerjaan. Akan tetapi, mungkin karena usianya masih muda, makanya terkadang suka seenaknya sendiri. Seperti hari ini, ia menugaskan Irene menggantikannya.


"Kamu tidak mau pulang?" tanya Alan.


Irene merasa heran. Tidak biasanya Alan berniat untuk mengusirnya secara halus. "Memangnya kenapa?" tanyanya.


"Tidak apa-apa. Setelah ini, aku masih sibuk. Aku akan ada meeting secara daring dengan salah seorang penerjemah. Aku tidak bisa menemanimu," ucap Alan.


Irene langsung membulatkan mata. Tenggorokkannya pun terasa tercekat. Ia menoleh ke arah jam dinding. Benar saja, jadwal dirinya memberikan kursus bahasa asing kepada Alan akan segera dimulai. Ia benar-benar lupa akan hal itu.


'Dasar Alenta bodoh,' gumamnya lirih menyalahkan diri sendiri.


"Em, kalau begitu, aku pamit dulu ya, Kak! Aku mau buru-buru pulang dan istirahat!" ucap Irene.


"Ya, hati-hati di jalan." kali ini giliran Alan yang keheranan melihat Irene tergesa-gesa pergi. "Dia sudah benar-benar bangun atau belum, ya? Takutnya nanti ngantuk ketiduran di jalan lagi," gumam Alan.


Irene segera memesan taksi dan menyuruh sang sopir mengantarnya ke kediaman Narendra dengan mengebut. Ia tidak ingin terlambat dengan jadwal yang sudah disepakati bersama. Apalagi waktunya tersisa sekitar 30 menit lagi.


"Terima kasih, Pak!" ucap Irene seraya memberikan uang kepada sopir taksi. Ia langsung berlari masuk ke dalam rumah keluarga Narendra dengan langkah yang begitu tergesa-gesa. Bahkan beberapa pelayan yang menyapa tidak ia hiraukan. Irene langsung menaiki lift menuju lantai kamarnya. Perasaannya sedikit lega setelah berhasil masuk ke dalam kamar.


Masih dengan deru napas yang masih belum stabil, Irene mengambil perangkap laptop yang akan ia gunakan untuk berhubungan dengan Alan. Untung saja masih ada beberapa menit untuk Irene melakukan persiapan. Ia tidak boleh terdeteksi agar tidak bisa dilacak.


"Huh! Aku berhasil login lebih dulu," ucap Irene lega saat melihat Alan belum mengaktifkan fitur aplikasinya.

__ADS_1


__ADS_2