Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 100:


__ADS_3

Alan membuka pesan dari Alenta. Lagi-lagi wanita itu minta izin tidak bisa membimbingnya latihan Bahas Persia. "Wanita ini suka sekali seenaknya, apa mentang-mentang ini les gratis?" gumamnya.


Alan masih cukup kesal karena Alenta meninggalkan penginapan saat ada pertemuan dengan Amina. Wanita itu hanya menitipkan pesan kepada pelayan penginapan. Entah mengapa ia harus marah dan kesal, bahkan saat dia menelepon Alenta, wanita itu menjawab dengan enteng katanya dijemput keluarga. Kalau dia tahu alamat Alenta, mungkin sudah ia datangi untuk ia marahi.


"Alan ... Kemarilah!" panggil sang kakek.


Alan yang akan berjalan menuju ke lift terpaksa mengurungkan niat menghampiri sang kakek di ruang tengah. "Ada apa, Kek?" tanyanya sembari duduk di sana.


"Kakek ingin meminta tolong kepadamu."


"Apa?" Alan mulai merasa punya firasat tidak enak.


"Temui teman kakek."


***


"Selamat datang, Nona ...."


Pelayan mengenakan pakaian maid ala Eropa berjajar menyambut kehadiran Irene di sebuah mansion besar. Rumah megah itu masih sama seperti dulu, besar dan megah. Ia bagaikan seorang putri yang baru saja memasuki istananya kembali.


Irene dan Hamish berpisah di bandara. Irene diminta lebih dulu pulang ke kediaman Paman Damian yang menjaga mansion keluarga Abraham.


"Irene, akhirnya kamu datang," ucap seorang lelaki paruh baya yang baru turun dari tangga lantai atas.


"Paman ...."


Irene berlari seraya memeluk pamannya. Ia tak menyangka setelah sekian lama akhirnya bisa bertemu kembali dengan sang paman.


"Kamu sudah semakin kelihatan dewasa, Irene. Apa kakek nenek di sana sehat?"


"Iya, Paman. Mereka dalam kondisi yang sangat sehat bahkan seperti orang yang kembali muda. Soalnya sekarang mereka tinggal di desa, sibuk pacaran."


"Hahaha ... Kamu bisa saja. Ngomong-ngomong, dimana Hamish? Dia tidak mengantarmu ke sini?"


"Kak Hamish ada urusan. Dia langsung pergi ke suatu tempat saat tiba di bandara. Aku hanya diantar oleh bodyguardnya." Irene menunjuk kepada dua orang lelaki berpakaian rapi yang berdiri di ruang tamu.


"Apa kamu tidak bisa mengatakannya untuk segera berhenti dari bisnisnya? Dia sudah sangat mengkhawatirkan. Takutnya musuh-musuh akan semakin banyak."

__ADS_1


"Memangnya Kak Hamish melakukan apa?" tanya Irene penasaran.


Paman Damian menepuk dahinya sendiri. "Lupakan saja! Ayo naik ke atas, biar Paman perlihatkan kamarmu."


Damian menuntun Irene menuju ke kamar atas. Para pelayan mengikuti mereka di belakang membawakan barang-barang milik Irene.


"Berapa lama rencananya kamu mau di sini?" tanya sang paman.


"Kalau bisa mungkin selamanya. Hahaha ..."


"Boleh juga kalau maunya begitu."


"Bercanda, Paman ... Paling hanya satu minggu saja."


Paman Damian membukakan pintu sebuah ruangan. Kamar ala-ala kerajaan Eropa yang megah menyambutnya. Kamar itu terlihat lebih mewah dari yang terakhir ia lihat.


"Beristirahatlah! Kalau kamu membutuhkan apa-apa, panggil saja pelayan dengan tombol itu." Damian menunjukkan benda yang dimaksud.


Alat tersebut juga menurut Irene baru. Dulu belum ada alat praktis semacam itu. Ia masih menggunakan lonceng untuk memanggil pelayan.


Mansion itu dulunya hampir jatuh ke tangan orang lain saat keluarga Abraham tengah terkena guncangan besar akibat kematian dua putra mereka. Untung saja ada Alberto Miguel yang membantu. Alberto juga yang menyembunyikan keberadaan bibi Irene, Myria Teressia Miguel.


***


Sore yang cerah sangat disayangkan jika tidak dinikmati untuk bersenang-senang. Irene mengenakan baju santai berbahan sifon motif bunga dengan topi di kepalanya. Ia memasang wajah ceria sembari mengayuh sepedanya menglilingi jalanan sekitar mansion.


Rambutnya yang pirang ia biarkan tergerai sesekali berkibar oleh hembusan angin sepoi-sepoi. Ketika melihat ada bunga indah yang tumbuh liar di pinggiran jalan, ia menghentikan laju sepedanya.


Didekatinya bunga cantik berwarna kuning tersebut. Namanya bunga Dandelion, bunga liar yang biasa tumbuh di jalanan. Bunga Dandelion kerap dianggap sebagai gulma, namun sebenarnya memiliki manfaat yang banyak.


Irene memetik sekuntum dandelion yang masih berwarna kuning tersebut. Ia jadi ingat kalau dalam Bahasa Perancis, dandelion artinya gigi singa. Lucu, tapi seperti itu kenyataannya.


Irene menambah jumlah bunga dandelion yang dipetiknya. Ada sekitar 10 tangkai yang ia satukan lalu diikat dengan batang rumput. Ia masukkan bunga tersebut ke dalam keranjang sepedanya seraya melanjutkan perjalanan menuju ke laut yang berjarak 5 kilometer dari mansion.


Saat mengayuh sepedanya, ia melihat seorang lelaki yang memunculkan wajahnya dari jendela mobil sangat mirip dengan Alan. Ia sampai terpaku tidak percaya. Tidak mungkin ia melihat Alan ada di sana.


"Ah! Ah! Ah! Aduh ...."

__ADS_1


Sepeda yang Irene naiki oleng dan menabrak batu. Akhirnya ia terjatuh bersama sepedanya karena tidak memperhatikan jalan.


"Aduh ... Matamu kemana, Irene ...." gerutunya.


"Est-ce que ça va?" (apa kamu baik-baik saja?) tanya Alan.


Irene terperanjat kaget saat mendengar suara Alan tepat di belakang punggungnya. "Mati aku ...," lirihnya. Ia bahkan tidak memiliki keberanian untuk menoleh ke belakang.


"Je vais bien," (aku baik-baik saja,) jawab Irene.


Alan membantu mengangkat sepeda Irene yang terjatuh. Ia mengulurkan tangannya untuk membantu Irene.


Sembari menundukkan kepala, ia menerima uluran tangan Alan. Karena terlalu bersemangat Alan menariknya, Irene hampir terjatuh. Beruntung Alan menahan punggungnya. Keduanya bertatapan, Alan memicingkan mata, merasa sangat familiar dengan wanita yang ada di hadapannya sekarang.


"Alenta?" gumam Alan.


Irene yang tersadar telah ketahuan buru-buru melepaskan tangan Alan darinya. "Merci pour votre aide," (terima kasih atas pertolongannya), ucap Irene seraya berlari pergi membawa sepedanya. Ia mengurungkan niat pergi ke laut berbalik kembali ke mansion.


Alan masih tertegun di tempatnya. Ia masih kaget dengan wanita tersebut. Wajahnya sangat mirip dengan Alenta, namun juga mirip dengan Irene. Seakan wanita itu merupakan perpaduan antara kedua wanita tersebut. "Apa aku sudah gila sampai di mana-mana seperti bertemu dengan Irene dan Alenta?" pikirnya. Apalagi wanita tersebut pergi menuju ke arah mansion yang hendak ia tuju.


Alan diminta sang kakek menemui Tuan Damian, teman kakeknya. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan wanita mirip Alenta di Negara Perancis. "Tapi, Alenta bilang ada urusan di luar negeri. Apa maksudnya di sini?" pikirnya.


Sementara, Irene juga mengayuh sepedanya dengan kencang. Ia buru-buru masuk ke dalam mansion sambil berlari-lari. "Kok bisa Kak Alan ada di sini, sih!" gerutunya.


Ia memberitahu satu per satu para maid agar menyembunyikan identitasnya jika lelaki bernama Alan itu datang. "Kalau di bertanya, katakan kalau namaku adalah Alenta Miguel, oke!" peritah Irene kepada para pelayan.


"Ada apa Irene?" tanya Paman Damian.


"Paman, apa nanti akan ada tamu dari Indonesia mau ke sini?" tanya Irene.


"Kok kamu tahu?"


"Jangan bilang kalau namaku Irene ya, Paman! Sebut namaku Alenta Miguel!" pintanya.


Paman Damian tertawa. "Kamu ada-ada saja, Irene ...."


"Pokoknya, panggil aku Alenta. Kalau tidak, aku akan marah!" Irene langsung berlari pergi menuju ke kamar atas.

__ADS_1


__ADS_2