
Ron berjalan sembari mengangkat tangannya karena dua orang anak buah ayah angkat Irene menodongnya dengan senapan. Ia disuruh masuk ke dalam rumah seperti seorang penjahat.
"Nona sedang bersama siapa sebenarnya, kenapa jadi seram begini," guman Ron. Ia khawatir Irene ditawan oleh mafia.
"Turunkan senjata kalian! Kasihan dia ketakutan," pinta Irene.
Mereka menurut dan membiarkan Ron bersama Irene.
"Nona, Anda tidak apa-apa?" tanya Ron.
"Aku baik-baik saja, Ron. Tenang saja, di sini aman. Ayo ikut aku masuk ke dalam!" ajak Irene.
Tanpa merasa khawatir lagi, Ron mengikuti Nonanya. Di dalam ia merasa terkejut ketika melihat sosok yang tidak asing baginya.
"Tuan Alberto!" serunya.
Dia berjalan mendekat dan memberi salam kepada lelaki paruh baya itu. Sikap sahajanya menjunjukkan penghormatan serta kekaguman terhadap Alberto Miguel.
"Tuan, saya Ron, orang kepercayaan Nona Irene. Suatu kehormatan bagi saya bisa bertemu dengan Anda," ucapnya.
"Apa kamu mengenalku?" tanya Alberto.
"Tidak mungkin saya tidak mengenal orang hebat seperti Anda, Tuan. Saya tidak menyangka jika ternyata Nona datang menemui Anda."
Sebelumnya Ron mengira Irene akan menemui orang mencurigakan yang mengirimkan pesan rahasia itu. Ia diminta menyusul jika Irene tak segera pulang. Untunglah Nonanya baik-baik saja.
"Irene adalah anak angkatku. Aku sengaja datang untuk menemuinya," kata Tuan Alberto.
Ron semakin takjub mengetahui bahwa Nonanya memiliki ikatan dekat dengan orang tersebut.
"Orang yang mengusik sistem kita ternyata ulah Bryan, Ron. Atas perintah orang iseng ini!" Irene menunjuk ke arah Alberto.
"Hahaha ... Apa kamu sedang mencoba mengadu pada orang lain? Seharusnya tidak sulit kan, menghadapi Bryan?" ledek Alberto.
"Berhentilah mengerjaiku, Ayah Angkat. Pikiranku sudah terkuras oleh banyak hal. Aku sangat lelah," keluh Irene.
Alberto menepuk pundak Irene. "Baiklah, aku tidak akan mengganggumu lagi. Supaya kamu lebih bersemangat, undanglah pacarmu untuk datang makan malam di rumah ini."
"Hah? Apa? Kenapa tiba-tiba sekali?" protes Irene.
"Masih ada waktu untukmu menghubunginya. Aku akan menunggu malam ini. Kalian harus datang," titah Alberto.
Irene meminta pamit. Ia pulang bersama Ron sembari memikirkan kira-kira siapa yang akan ia sewa sebagai pacar. Kalau sampai ketahuan dia belum punya pacar, ayah angkat akan tetap ngotot menjodohkannya dengan Bryan.
"Memangnya Nona sudah punya pacar?" tanya Ron penasaran. Selama ini Irene tak pernah terlihat tertarik dengan lelaki. Wanita itu paling semangat kalau melakukan sesuatu yang menantang.
"Belum. Aku belum punya. Pokoknya kamu bantu aku mendapatkan pacar untuk malam ini!" paksa Irene.
Ron tercengang. Ia lagi yang harus menanggung masalah Nonanya.
"Kalau Nona menghapus riasan ini, mungkin satu kota akan sukarela audisi menjadi pacar Anda. Tapi, dengan penampilan Anda sekarang, siapa yang mau?"
Ron memandangi penampilan Irene yang menurutnya tidak menarik.
Irene melirik tajam ke arah Ron. "Kamu mau bilang kalau aku jelek?" gerutunya.
"Tidak, Nona, Anda tetap cantik kok di mata saya," ucap Ron sambil nyengir. "Kalau saya mau-mau saja menjadi pacar pura-pura Anda."
"Kamu terlalu jelek untuk menjadi pacar pura-pura! Aku butuh yang minimal ganteng sedikit lah!"
__ADS_1
Ron semakin kesulitan dengan kemauan Irene. Mencari siapa yang mau saja susah, apalagi kalau kriterianya minta lelaki good looking. Kalau orang waras secara logika tidak akan mau setelah melihat tampang Nonanya.
"Mmm ... Bagaimana menurutmu kalau aku membawa Kak Arvy? Dia kan ganteng dan terkenal. Cocok nggak?" tanya Irene.
Ron sebenarnya mau langsung mengatakan tidak cocok. Namun, ia pasti akan langsung dipecat. "Nona, sepertinya Arvy Galaksi terlalu sempurna untuk berpura-pura menjadi pacar Anda," ucap Ron.
"Memangnya kenapa kalau terlalu sempurna? Aku memang sengaja mencari yang mendekati sempurna supaya membuat saingannya minder!" Irene sangat yakin dengan pilihannya.
Ron hanya bisa tersenyum kaku. Nonanya memang suka meminta pendapatnya, namun setiap kali ia memberikan pendapat, wanita itu seolah menganggap pendapatnya itu tidak berguna.
"Sabar, Ron, sabar ...," ucapnya lirih sembari menghela napas.
"Bagaimana dengan Pak Alan? Menurut saya Beliau lebih cocok untuk menjadi pacar pura-pura Anda daripada Arvy Galaksi. Apalagi Pak Alan juga seorang pengusaha yang sukses dan mapan. Ayah angkat Anda pasti akan terkesima."
Irene memikirkan sejenak ucapan Ron. Ia menimbang-nimbang siapa yang lebih cocok antara Alan dan Arvy. Kalau Alan, sebenarnya ia tidak hanya ingin jadi pacaran pura-pura, tapi pacaran betulan.
"Aku rasa tetap Kak Arvy yang paling cocok! Aku akan mencoba menghubunginya dan meminta bantuannya!" kata Irene.
Ron langsung lemas. Sudah ia duga ocehannya tidak akan berguna. Seharusnya sejak awal dia pura-pura bodoh dan diam saja.
***
Arvy buru-buru meninggalkan mobilnya di parkiran. Ia langsung bergegas menuju ruangan tempat Bian dirawat. Setelah menyelesaikan pekerjaan, ia tidak bisa menahan diri untuk menyusul ke sana karena khawatir.
"Arvy, kenapa kamu di sini?"
Marco tiba-tiba muncul di hadapan Arvy. Langkahnya terhenti melihat sang manajer.
Marco memasangkan masker dan kacamata hitam kepada Arvy. Ia kesal melihat artisnya berada di sana tanpa menyembunyikan identitas. Ia khawatir ada yang menyadari kehadiran Arvy di sana.
"Kak, aku mau menemui Bian," ucap Arvy.
"Kamu sudah gila sekarang? Aku sudah menyuruhmu untuk tidak datang ke rumah sakit. Bagaimana kalau ada yang melihatmu?" gerutu Marco.
"Sudahlah, Kak. Aku memang yang sudah menabrak Bian. Aku akan bertanggung jawab. Biarkan aku menemuinya," paksa Arvy.
"Benar-benar gila anak ini! Aku yang akan menanganinya, percayalah padaku, semuanya akan beres, Arvy. Kamu fokuslah pada promosi, jangan membuatku lebih pusing!" bentak Marco.
***
Seorang lelaki memandangi sepasang kekasih yang tengah bermesraan di tepi pantai. Dari tatapan matanya menunjukkan kekecewaan yang mendalam. Di tanganya ada sebatang pistol yang digenggam.
"Kalau aku tidak bahagia, kalian juga tidak boleh bahagia," ucap lelaki itu.
Dengan langkah perlahan ia mendekat ke arah pasangan kekasih itu.
"Romeo?" panggil sang wanita yang kelihatan terkejut dengan kedatangan sang lelaki.
Lelaki itu mengacungkan pistolnya ke arah sang wanita dan selingkuhannya.
"Selamat tinggal, Juliet!"
Dor! Dor! Dor! Dor!
Lelaki itu menembakkan peluru di dalam pistolnya hingga kekasih dan selingkuhannya mati.
"Wah, akting Arvy memang selalu keren," ucap Bian sembari menikmati camilannya.
lelaki itu telah pulih dari komanya dan langsung menonton drama yang diperankan oleh Arvy. Kondisinya sudah sangat stabil dan tinggal menunggu pemulihan.
__ADS_1
Krek!
Bian menoleh ke arah dapur. Ia merasa ada orang yang masuk ke ruangannya.
"Siapa?" tanyanya.
Suasana tiba-tiba hening.
"Keluar kamu! Tunjukkan dirimu!" seru Bian. Ia sangat yakin ada orang lain di sana.
Seseorang yang memakai penutup wajah dan pakaian serba hitam muncul dari balik dinding menghadap Bian.
"Kamu siapa?" tanya Bian.
Bersambung ....
***
❤❤❤ Promosi ❤❤❤
Judul: Tangan Nakal Daddy
Author: Momoy Dandelion
Cuplikan
Bab 12: Sentuhan Pertama
"Apa kamu takut?" tanya Mark sembari mengusap pipi Jessy yang memerah.
"Sedikit."
Jawaban Jessy membuat Mark merasa gemas. Wajah polos wanita itu benar-benar menarik.
"It's okay. Kita memang baru pertama melakukannya," kata Mark.
Mark melepaskan pakaian yang Jessy kenakan dalam sekali tarikan. Jessy menahan malu menutupi bagian dada sebisanya. Rasanya Mark semakin tidak sabaran melihat kulit mulus serta lekukan badan yang begitu ranum dan kencang.
Ia turut melepaskan pakaiannya satu per satu hingga tak ada lagi yang menutupi tubuhnya.
Jessy mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Ia tak kuasa menyaksikan tubuh indah Mark yang tampak kokoh sebagai tempat bersandar.
"Ayolah, kenapa kamu seperti malu-malu begini? Bukankah ini sudah biasa untukmu dan pacarmu?" tanya Mark yang melihat Jessy seakan tak mau melihatnya.
"Aku ... Belum pernah melakukan yang seperti in," lirih Jessy.
"Apa?" Mark terkejut. Ia kira hal semacam itu sudah biasa dilakukan orang yang telah berpacaran.
Mark kembali ragu ingin melanjutkan. Ia takut Jessy akan menyesal melewati pengalaman pertama dengan orang yang tidak dicintainya.
"Kamu yakin, mau melakukannya denganku?" tanya Mark memastikan.
Jessy menggigit bibir. Tubuhnya sedikit bergetar. Dengan memantapkan keputusan, ia menganggukkan kepala.
Mark kembali terkejut dengan keputusan Jessy. Ia meraih tubuh Jessy lalu mendekapnya dengan lembut. "Tenanglah, ini tidak akan sememakutkan yang kamu bayangkan. Semua akan baik-baik saja," ucap Mark.
"Aku akan memperlakukanmu dengan sangat baik, Jessy. Mulai sekarang, panggil aku 'Daddy'," lanjutnya.
__ADS_1