
Alan mengerutkan dahi saat melihat penampilan Alenta. Wanita itu masih mengenakan pakaian tidurnya, padahal sudah dikatakan mereka akan makan malam di hotel.
"Apa kita pergi sekarang, Tuan Alan?" tanya Amina. Wamita itu telah berpakaian formal mengenakan dress serta dandanan yang anggun. Ia sangat senang saat Alenta mengatakan bahwa Alan mengajaknya makan malam.
"Iya, Amina. Tunggu sebentar," jawab Alan menggunakan Bahasa Persia. Alan kembali memperhatikan Alenta. "Kenapa kamu belum mengganti pakaian?" tanyanya dengan raut sedikit kesal. Padalah ia sengaja menunggu untuk memberi waktu kepada Alenta dan Amina bersiap-siap.
"Saya tidak mau ikut, Pak. Saya lelah, mau istirahat."
Alan semakin kesal mendengar jawaban yang Alenta berikan. Kalau saja tidak ada Amina, mungkin ia sudah memarahi Alenta saat itu juga. "Terserah padamu saja!" ucapnya. "Ayo, Amina. Kita berangkat sekarang." Alan menawarkan lengannya untuk ditaut oleh tangan Amina.
Tentu saja wanita Iran itu merasa sangat bahagia. Ia langsung menggandeng tangan Alan tanpa ragu.
Alenta sendirian di sana memandangi punggung kedua orang itu yang semakin menjauh darinya. Kalau bisa jujur kepada dirinya sendiri, Alenta ingin pergi makan malam dengan Alan, namun tanpa Amina.
"Sabar, Irene ... Besok juga sudah pulang," ucapnya pada diri sendiri.
Ponsel di dalam kantong bajunya berbunyi. Ada telepon masuk dari Hamish. "Kenapa Kak Hamish menghubungi? Apa dia sudah pulang lagi?" tanyanya pada diri sendiri.
"Halo, Kak?" ucap Irene saat mengangkat telepon tersebut.
"Aku dengar kamu sedang pergi ke pemandian air panas di daerah XXX."
Irene menelan ludah. "Kok Kakak tahu?" tanyanya penasaran.
"Ron yang memberi tahu."
Irene merasa gemas juga kepada Ron yang memberitahukan keberadaannya. "Apa Kakak sudah pulang?"
"Ya, tentu saja. Aku pulang sebentar untuk menemuimu. Kamu ada di penginapan sebelah mana?"
Irene melebarkan mata karena terkejut. "Kakak ada di mana?" tanyanya memastikan.
"Aku ada di daerah yang sama denganmu. Tapi, aku cek ke semua penginapan kenapa tidak ada namamu?"
Sudah Irene duga. Sepupunya itu pasti sedang mencarinya. Tentu saja Hamish tidak akan menemukannya karena sedang menggunakan identitas Alenta.
"Katakan, di mana penginapanmu? Aku akan datang menemuimu di sana."
"Ah, aku yang ke tempat Kak Hamish saja. Pasti penginapan Kak Hamish mewah. Soalnya penginapanku jelek!" Irene berusaha mencari-cari alasan.
__ADS_1
"Kenapa? Biar aku jemput saja."
"Tidak usah, Kak! Aku tidak ingin teman-temanku kaget karena punya sepupu tertampan di dunia."
"Hahaha ... Kamu bisa saja, Irene. Baiklah, datang saja ke Hotel XXX. Aku akan menunggumu di lobi."
"Siap!" jawab Irene dengan semangat.
Irene segera berlari masuk ke dalam kamar. Ia mengganti pakaiannya dan mengemasi barang-barangnya. Malam ini ia akan pergi saja dari penginapan itu. Ia sedang kesal dengan Amina juga Alan.
Usai berkemas-kemas, ia meninggalkan secarik pesan untuk Amina dan Alan. Ia juga menyampaikan pesan kepada pemilik penginapan agar memberitahukan Alan atau Amina kalau dia pulang lebih dulu.
Berhubung saat ini ia sedang menjadi dirinya sendiri, ia tidak perlu lagi menghapus riasan atau memakai riasan untuk menyembunyikannya.
Letak hotel tempat Hamish menginap tak jauh dari penginapannya. Jalan kaki hanya butuh waktu sepuluh menit saja. Sementara, hotel tempat Alan dan Amina makan malam berada di area yang lebih jauh.
"Kak Hamish ...," seru Irene.
Seperti biasa, setiap kali bertemu dengan Hamish, Irene selalu bersikap seperti anak manja. Ia terlalu bahagia bisa bertemu dengan sepupunya. Ia berlari mendekat ke arah Hamish dan memeluk lelaki itu.
"Kenapa kamu ada di sini? Ada acara apa?" tanya Hamish.
"Aku pulang ke Jakarta, mansion masih sepi. Kakek masih berada di desa dan kamu tidak ada juga di sana. Kata Ron kamu sedang berada di Surabaya. Aku langsung datang ke tempat ini. Kenapa mainmu jauh sekali?"
Irene hanya meringis. Hamish pasti sudah mengira Irene dari Jakarta ke Surabaya. Sepupunya tidak tahu kalau ia saat ini tinggal di sana.
"Seharusnya Kakak memberi tahu kalau mau pulang. Aku memang iseng saja dengan teman-teman jadi sekalian main ke sini."
"Ya sudahlah! Apa kamu sudah makan?" tanya Hamish.
Irene menggeleng.
"Kalau begitu, kita makan dulu."
Hamish menggandeng tangan Irene. Ia mengajak wanita itu memasuki area restoran hotel.
Irene melirik ke belakang. Ada sekitar empat orang anak buah Hamish yang mengikuti mereka. Seperti biasa, Hamish tidak pernah keluar sendirian untuk urusan apapun. Pasti akan ada bodyguard bersamanya. Ia jadi merasa tidak nyaman.
Hamish memesankan banyak makanan enak untuk Irene. Wanita itu makan dengan lahapnya seperti orang yang sedang kelaparan. Padahal, di hati Irene sebenarnya ia sedang kesal. Ia membayangkan Alan sedang makan malam romantis dengan Amina di hotel mewah.
__ADS_1
"Aku juga bisa makan enak tanpa ikut dengan mereka!" gumamnya lirih sembari menikmati steak premium andalan restoran tersebut.
"Irene ...," panggil Hamish.
"Ya, kak? Ada apa?" tanyanya.
"Kamu mau ikut aku ke Perancis besok?"
Irene mengerutkan kening. "Perancis? Untuk apa?"
"Aku kira kamu suka menonton kompetisi balap internasional."
"Mau mau mau!" seru Irene.
Irene terlihat antusias mendengarnya. Ia sangat menyukai balapan. Tiga tahun lalu, ia bahkan pernah memenangkan pertandingan di sana. Mungkin tidak akan percaya jika dirinya pernah memenangkan event balapan tingkat internasional. Kalau kakeknya tahu juga mungkin ia akan dimarahi habis-habisan.
Ia sedang tidak ingin peduli dengan Alan ataupun kampusnya. Pikirannya sedang kacau, ingin liburan untuk menghibur diri sendiri. Apalagi untuk menonton balapan, itu merupakan sesuatu hal yang menyenangkan.
"Visa dan paspormu masih aktif, kan?" tanya Hamish.
"Masih, Kak. Aman semua!" jawab Irene dengan semangat.
"Kita akan ke sana tiga hari lagi. Aku ada urusan sebentar di kota ini. Kamu bisa menunggu, kan? Tidak usah pulang dulu ke Jakarta."
"Tentu. Aku bisa ikut tinggal dengan Kak Hamish juga."
Hamish tersenyum-senyum melihat semangat Irene untuk pergi bersamanya. Ia kira sepupunya itu akan menolak ajakannya.
***
Irene menemani Jeha mengambil naskah drama di agensi yang kini menaungi Jeha. Temannya itu mulai mendapatkan kesibukkan untuk menjadi seorang artis. Katanya, kali ini Jeha mendaptkan tawaran bermain drama series.
Selagi menunggu Jeha selesai urusan dengan manajernya, diam-diam Irene masuk ke ruangan Arvy. Ia letakkan kertas lagu karangan milik Arvy yang sudah direvisinya.
"Kamu jangan pesimis begitu, masih ada waktu untuk mempersiapkan albummu."
Irene buru-buru keluar saat mendengar suara Marco semakin mendekat ke arahnya. Jangan sampai mereka tahu apa yang tengah ia lakukan di sana.
"Aku sudah tidak ada mood untuk jadi penyanyi. Terserahlah! Aku lelah!" keluh Arvy. Ia langsung masuk ke dalam ruangannya seraya merebahkan diri di atas sofa. Tujuannya jadi artis ia kira bisa menikmati hidup, justru ia pusing sendiri untuk mengembangkan karirnya.
__ADS_1