Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 216


__ADS_3

"Sebenarnya siapa yang plagiat? Kalau memang kamu tidak plagiat, bisa kamu jelaskan tentang konsep desain yang kamu buat?" tantang Irene.


Felisha terlihat sedikit panik. "Ah, itu ... Tentu saja aku bisa menjelaskannya. Ini aku sebenarnya terinspirasi dari ...."


Wanita itu terbata-bata memberikan penjelasan. Alfa dan Irene saling bertatapan seolah keduanya memiliki pendapat yang sama. Rancangan yang diplagiat sebenarnya masih separuh jalan, belum final. Felisha berusaha berkelit bahwa rancangan itu miliknya sendiri.


"Sudahlah, mengaku saja kalau itu memang bukan karya aslimu," usul Irene.


"Kamu jangan menuduh! Aku susah payah membuatnya!" kilah Felisha.


"Percuma kalau kamu bohong, pada akhirnya skill yang akan menang," kata Irene.


"Aku sangat percaya diri kalau aku punya kemampuan, jadi jangan merendahkanku."


Irene menyunggingkan senyum. Wanita itu memang keras kepala. "Kak, coba kita lihat CCTV saja. Aku penasaran sebenarnya siapa yang telah mencuri desainku?" tanya Irene.


"Ah, iya. Aku sampai lupa. Akan aku lihat rekaman kejadian kemarin saja," ucap Alfa.


"Tunggu sebentar!" cegah Sovia. Ia sangat khawatir bahwa perbuatannya akan diketahui. "Kayaknya memang Felisha yang tidak kompeten di dunia desainer. Sepertinya aku sudah tertipu dengannya," ucapnya untuk membela diri.


"Sovia ...." Felisha merasa terkejut mendengar wanita itu malah menjelek-jelekkannya. Padahal Sovia sendiri yang memaksanya untuk datang ke sana.


"Aku batal merekomendasikannya, Kak! Bahaya kalau fashion show ajak dia," imbuh Sovia.

__ADS_1


"Kamu gila ya, Sov!" Felisha tidak habis pikir dengan wanita itu.


"Kamu pulang saja, Fel. Di sini bukan tempatnya orang yang suka plagiat!" omel Sovia.


Felisha sebenarnya ingin banyak bicara untuk membela diri. Namun, melihat raut wajah Sovia yang tegas ia urung melakukannya. Ia memilih pergi dari sana dengan kekesalan yang memuncak.


Tok tok tok


"Permisi," sapa Nadia.


Baru saja Felisha keluar kini telah Nadia yang berdiri di ambang pintu.


"Masuk, Nad!" pinta Alfa.


"Ada apa, Nad?" tanya Alfa.


"Aku mau minta maaf, Kak," ucap Nadia.


Ia sempat melirik ke arah Sovia yang suka marah-marah. Wanita itu secara sadar melotot kepadanya seakan memberikan intimidasi.


"Kenapa kamu mau minta maaf?" tanya Alfa penasaran.


Nadia mer emas-rnemas jemarinya untuk menghilangkan kegugupan. "Kemarin aku sudah berbohong waktu ditanya tentang siapa yang telah menyentuh desain Irene. Jawabannya adalah Sovia," kata Nadia.

__ADS_1


"Apa!" bentak Sovia. "Berani-beraninya kamu menuduhku, hah!" Ia tidak terima. Ia menghampiri Nadia dan langsung mencengkeram kerah lehernya.


Alfa dan Irene yang ada di sana berusaha untuk mendamaikan.


"Apa kamu yakin kalau orangnya adalah Sovia?" tanya Alfa memastikan.


"Benar, Kak. Dia bahkan menyogokku dengan uang. Aku minta maaf," ucap Nadia.


"Dia bohong, Fa! Aku tidak mungkin seperti itu!" gerutu Sovia.


"Nad, kembali ke ruanganmu saja. Cepat, pergilah sekarang!" perintah Alfa. Ia merasa kewalahan menjaga Sovia.


"Baik, aku keluar dulu," pamit Nadia. Ia langsung meninggalkan ruangan itu.


"Fa, biar aku jelaskan dulu. Semuanya tidak sama antara kenyataan yang terjadi dengan laporan," kilah Sovia.


"Berhenti membual, Sov. Aku rasa kamu juga harus pergi dari sini. Kamu tidak perlu datang lagi karena aku tidak akan melibatkanmu menjadi model," kata Alfa.


Sovia tercengang. "Itu sangat kejam, Fa. Memangmya aku salah apa?" protesnya.


"Keluar sendiri dari sini, Sov. Kalau kamu masih bandel, aku akan memanggil satpam untuk mengusirmu!"


Sovia tak bisa berkata-kata. Ia akhirnya memilih untuk pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2