
"Ren, bantu aku naik level, dong!" rayu Arvy.
"Minta bantuan Ares saja, Kak. Levelnya juga sudah tinggi," tolak Irene yang masih berkutat dengan laptopnya di lantai atas.
"Maunya dibantu kamu. Kan kamu dewinya, Ren. Nanti aku belikan tas Fendi deh yang keluaran terbaru."
"Aku masih sibuk mengerjakan tugas kampus, Kak. Pergi sana!" usir Irene.
"Halah, itu juga mau selesai. Aku tunggu sampai kamu selesai."
Irene sengaja memperlama pekerjaannya merevisi tugas makalah dari kampusnya. Tanpa disangka, Arvy masih teguh berada di sampingnya sembari memainkan ponsel. Akhirnya, ia yang mengalah dan mematikan laptopnya.
"Mana sini, biar aku bantu naik level!" ucap Irene.
Arvy tersenyum lebar. Ia menyerahkan ponselnya kepada Irene agar wanita itu bisa menggantikannya memainkan akun miliknya.
"Pfftt ... Namanya Prince_Ar? Hahaha ...." Irene menertawakan nama ID game milik Arvy.
"Memangnya kenapa? Aku kan pangeran nyata di mata para penggemarku," ucap Arvy dengan bangganya.
Irene tak mempedulikannya. Ia menekan tombol pencarian lawan. Untuk bisa naik level, pemain memang harus bisa memenangkan banyak pertarungan baik secara individu maupun tim.
Arvy memperhatikan gaya bermain yang diperlihatkan Irene menggunakan akunnya. Tidak bisa diragukan lagi jika wanita itu adalah dewi game, Xunqi yang terkenal itu. Dalam waktu singkat, Irene bisa melibas lawan dengan mudahnya dan mencari lawan baru yang lebih kuat.
"Irene, kenapa undangan tim tidak kamu terima?" Ares baru saja keluar dari kamarnya dan mengatakan protes pada Irene yang masih duduk di ruang tengah.
__ADS_1
"Sssttt! Jangan ganggu. Dewi penyelamatku sedang membantuku menaikkan level!" protes Arvy.
Ares mendekat. Ia melihat Irene yang tengah fokus memainkan ponsel milik kakaknya.
"Kakak nyogok Irene apa sampai.mau membantu?" gumam Ares.
"Oh, memangnya dia harus disogok dulu, ya, baru mau?" tanya Arvy.
"Hm, selalu ...."
Irene hanya melirik sekilas dua lelaki yang tengah bergosip tentang dirinya di sana. Ia fokus memainkan akun Arvy agar banyak lawan yang bisa ia kalahkan.
"Pantas saja, aku harus meyogoknya dengan tas bermerk baru dia mau," ucap Arvy.
"Bisa diam nggak kalian? Aku buat kalah nih, akun Kakak," ancam Irene.
"Apaan sih? Siapa yang mau ganggu? Aku juga mau main sendiri!" ujar Ares.
Sementara itu, Alan yang baru pulang dari kantor agak heran melihat Irene bersama kedua adiknya di lantai atas masih terlihat asyik bermain game. Ia melihat jam tangannya sendiri, sudah hampir jam 12 malam.
"Bubar, bubar! Ini sudah mau tengah malam malah masih nongkrong!" usir Alan.
Mendengar suara Alan, Irene reflek langsung mengembalikan ponsel yanh dipegangnya kepada Arvy.
"Alah, Kak Alan ganggu saja! Ini tanggung Irene harusnya membantuku naik ke level superstar," gerutu Arvy.
__ADS_1
"Memangnya kamu nggak ada kerjaan, Ar? Kasihan Irene juga besok harus kuliah!" tegur Alan.
Seketika kumpulan mereka langsung bubar. Ketiganya berjalan menuju kamar masing-masing. Sebelum Irene masuk ke dalam kamar, Alan sempat meraih tangan wanita itu. Ia turut masuk ke dalam kamar Irene.
"Kak Alan!" keluh Irene. Ia heran tunangannya itu jadi hobi masuk ke kamarnya. Ia hanya takut kalau sampai kakek dan neneknya tahu, ia akan malu dipergoki sekamar dengan Alan.
"Jujur aku cemburu kalian bisa main bareng seharian di rumah. Sementara, aku harus kerja di kantor sampai larut malam," ujar Alan.
"Biasanya kan memang begitu, Kak," tepis Irene.
"Sekarang sudah beda, kamu tunanganku dan aku ingin kamu lebih dekat denganku dibandingkan dengan yang lain."
"Aturan giliran yang dulu bagaimana?"
"Tidak ada lagi! Aku yang akan mengantarmu ke kampus atau kemanapun setiap hari!" tegas Alan.
"Tidak perlu sampai sejauh itu juga, Kak. Lagipula, Kak Alan kan sibuk dengan urusan kantor."
Alan menarik tubuh Irene ke dalam pelukannya. "You are mine," ucapnya posesif. "Aku tidur di kamarmu, boleh?" tanyanya.
Irene tersentak kaget. Ia langsung mendorong Alan menjauh darinya.
"Hahaha ... Bercanda, aku tidak akan melakukannya sejauh itu," katanya. "Tapi, bisakah kamu untuk membiasakan diri menciumku? Kita kan sudah tunangan," pinta Alan.
Meskipun hampir satu tahun mereka saling kenal, namun pertunangan baru hitungan hari. Alan sudah menunjukkan pendekatan yang begitu progresif. Ingin rasanya ia mempercayai bahwa Alan benar-benar mencintainya bukan sekedar untuk menjalankan wasiat kakek Narendra.
__ADS_1
Di sisi lain, ia kembali resah memikirkan respon Alan jika sampai ia membeberkan identitasnya yang sebenarnya. Ireme butuh mempersiapkan diri untuk mengungkap semuanya. Mungkin, saat ulang tahunnya tiba, ia akan mengatakan segalanya.
"Sepertinya kamu belum mau menciumku lebih dulu, ya? Baiklah, kamu jangan protes kalau aku yang akan lebih sering menciummu duluan."