
"Kak, aku masuk dulu, ya," pamit Irene ketika mobil Alan telah sampai di depan gerbang kampus.
Saat Irene hendak membuka pintu mobil, tangannya dipegang oleh Alan. Tatapan lelaki itu seolah tak rela Irene turun dari mobilnya.
"Kenapa?" tanya Irene.
"Entahlah, rasanya aku tidak suka kamu masuk kuliah," jawab Alan.
Irene keheranan mendengar jawaban Alan. "Aku sudah cukup lama membolos. Kalau lebih lama membolos lagi, aku rasa akan dikeluarkan dari kampus."
"Itu malah lebih bagus."
Irene sampai mengerutkan dahi dengan ucapan Alan. "Kok gitu?" tanyanya heran.
"Kenapa tidak pakai penampilanmu yang biasanya? Menyamar lagi ...."
Irene melebarkan mata. Ia tahu sekarang sumber protes Alan berasal dari penampilannya. Hari ini ia memang berniat datang ke kampus dengan wajah aslinya. "Aku sebenarnya sudah sangat capek menyamar. Kak Alan tidak suka dengan aku yang seperti ini, ya?" tanyanya.
"Bukan, aku suka. Seperti apapun kamu, aku suka. Tapi, kalau seperti ini, mungkin akan banyak yang ikutan suka padamu," ujar Alan.
Irene langsung mengembangkan senyuman lebar. "Kak Alan cemburu, ya?" tebaknya.
Tanpa menjawab pertanyaan itu, Alan kembali menarik tangan Irene seraya memagut bibirnya secara tiba-tiba sampai membuat Irene terkejut.
"Melihatmu seperti ini, aku jadi ingin mengurungmu di kamar," bisiknya.
Wajah Irene langsung memerah. "Aku harus masuk sekarang, Kak. Takut telat," katanya mencari alasan untuk menutupi rasa malu-malunya.
"Jangan dekat-dekat dengan cowok lain, ya! Kalau perkuliahan selesai, langsung hubungi aku!" pinta Alan.
"Iya," jawab Irene.
Sebelum membiarkan Irene keluar dari mobilnya, sekali lagi Alan mencium calon istrinya.
Irene buru-buru keluar dari mobil sebelum Alan berubah pikiran dan malah kembali mengajaknya pulang.
Saat turun dari mobil, ia menjadi pusat perhatian. Irene rasa mereka pasti tidak mengenalinya. Padahal, Irene yang dulu dan sekarang hanya berbeda pada warna kulit dan penampilan.
Irene mengambil topi dan masker dari dalam tasnya. Ia mengenakan itu sembari berjalan menunduk supaya mengurangi perhatian orang-orang. Ia melanjutkan kembali langkahnya menuju ruang kelas.
"Bian!" seru Irene saat melihat keberadaan temannya di sana.
__ADS_1
Bian hanya terbengong ketika dipanggil oleh Irene. Ia tak mengenali wanita yang memakai topi dan bermasker itu.
Irene dengan santainya duduk di samping Bian dan sang teman baik belum mampu mengenalinya. Teman sekelas yang lain juga sama, tampak bertanya-tanya dengan sosok wanita yang baru masuk ke kelas dan tiba-tiba duduk di samping Bian.
Irene membuka topi dan maskernya di hadapan Bian.
"Hyena?" gumam Bian syok. Matanya sampai melebar melihat sosok penyanyi misterius yang waktu itu ia datangi fan meeting-nya kini ada di depan Bian.
Irene tersenyum. "Aku Irene," ucapnya.
Bian sampai mengedip-ngedipkan mata takut salah lihat orang.
Irene memperlihatkan foto dirinya dengan Bian saat awal berkenalan. Keduanya tampak kusam dalam foto tersebut.
Bian kembali memperhatikan Irene dan akhirnya ia menyadari wanita cantik di hadapannya itu memang Irene.
"Irene?" tanyanya memastikan. "Ya Tuhan, kamu Irene?" Bian dengan gemas mencubit kedua pipi temannya itu saking tidak percaya jika Irene kini sudah berubah menjadi glowing.
"Apa kamu bilang tadi? Dia Irene?" sahut Winda yang kebetulan mendengar suara Bian.
Winda dan Jeha yang penasaran akhirnya mendekat. Beberapa teman yang lain juga tidak percaya kalau Irene jadi secantik itu.
Irene tersenyum ke arah Winda. "Masa teman sendiri tidak bisa mengenali?" ledeknya. Ia kembali menunjukkan foto lamanya bersama Winda dan Jeha ketika bertemu di sebuah acara lomba.
"Irene ... Gila!" seru Winda. Ia langsung memeluk Irene dengan gemas.
Jeha tak mau kalah. Ia juga ikut memeluk Irene.
Teman-teman yang lain terdengar ribut membicarakan penampilan Irene yang baru. Mereka tidak menyangka bahwa Irene bisa jadi secantik itu. Bahkan para lelaki membahas kalau Irene sangat cantik padahal dulu merupakan mahasiswa terjelek di kelas.
"Ren, kok kamu bisa berubah begini? Bagaimana ceritanya?" tanya Jeha penasaran. Ia masih tidak menyangka Irene bisa menjadi sangat cantik.
"Paling dia baru operasi plastik seluruh tubuh di luar negeri, dua minggu kemarin kan dia tidak pernah masuk kampus," ujar Bian.
"Sembarangan sih, Bian. Kalau operasi plastik penyembuhannya berbulan-bulan," kata Winda tak terima Irene dikatai seperti itu.
"Iya, Bian jahat banget. Irene tidak mungkin begitu," sahut Jeha.
Irene hanya tertawa kecil mendengar pembicaraan mereka. "Memangnya hanya kamu yang boleh glowing, Bi? Aku kan juga mau," katanya.
Ia masih ingat dulu ikut andil merubah penampilan Bian yang culun menjadi sekeren sekarang. Tidak bisa dipungkiri, penampilan sangat menunjang pergaulan di kampus. Rata-rata yang menjadi korban bully mereka yang memiliki penampilan biasa-biasa saja atau bahkan dianggap jelek bagi sebagian orang. Irene juga sudah pernah merasakannya. Hanya saja, ia tetap bisa bertahan karena kecerdasannya dan juga pandai bergaul.
__ADS_1
"Woi, Pak Wibowo datang!" seru salah seorang mahasiswa.
Kerumunan langsung bubar. Mereka yang penasaran dengan Irene segera membubarkan diri. Sekilas Irene melihat Miranda melihat ke arahnya dengan raut wajah kesal. Miranda langsung membuang muka saat Irene membalas tatapannya.
Kelas seketika menjadi sunyi saat Pak Wibowo masuk ke dalam ruangan. Di belakang Pak Wibowo ada Ares yang baru masuk ke dalam kelas.
"Kamu telat, Res?" tanya Pak Wibowo.
"Tidak, Pak. Saya hanya berusaha bersikap sopan mendahulukan orang yang lebih tua masuk duluan," kilah Ares.
"Halah! Kamu cari-cari alasan saja!" ujar Pak Wibowo.
Ares melangkahkan kaki menuju bangku yang masih kosong. Kebetulan di sebelah Irene tempatnya memang masih kosong. Tanpa ragu Ares langsung duduk di sebelah Irene.
"Penampilan baru?" tanya Ares dengan nada lirih. Raut wajahnya terlihat dingin tidak seperti biasa sikapnya kepada Irene.
"Tumben kamu telat," ujar Irene.
"Nggak ada yang bangunin," jawab Ares dengan nada dingin. Ia sibuk mengambil buku catatan dari dalam tasnya.
"Itu siapa yang ada di sebelah Ares?" terdengar seruan dari Pak Wibowo yang berdiri di depan kelas. Sontak semua mata mengarah kepada Irene.
Irene mengangkat tangan kanannya. "Saya Irene, Pak," ucapnya dengan nada agak keras agar Pak Wibowo bisa mendengar.
Semua mahasiswa kembali berbisik-bisik melihat perubahan yang terjadi pada Irene.
Pak Budiman sampai memicingkan mata tidak percaya kalau itu adalah Irene, salah satu mahasiswa kebanggaannya.
"Mana mungkin kamu Irene, Irene kan biasanya jelek," ujar Pak Wibowo.
"Saya bosan jadi jelek, Pak! Sekali-kali saya mau jadi cantik," jawab Irene dengan nada setengah bercanda.
"Halah, ada-ada saja ...," kata Pak Wibowo tidak percaya.
"Jangan khawatir, Pak, isi kepalanya masih sama. Irene tetap Irene," kata Irene dengan percaya diri.
Pak Wibowo sampai dibuat tertegun dengan jawaban Irene. "Baiklah, kita mulai saja perkuliahan hari ini!" ucapnya.
***
Mau promosi novel baru Author, judulnya: BALAS DENDAM ISTRI TERANIAYA"
__ADS_1
Berkisah tentang Dili yang memergoki perselingkuhan antara suami dan ibu tirinya. Dia dibunuh dengan keji dan mayatnya dibuang ke rawa-rawa. Kebaikan yang pernah dilakukan memberikannya kesempatan hidup kedua untuknya. Mampukah Dili mengubah takdir hidupnya?