
"Gila, ya! Ini beneran daerah kota? Kok nggak ada sinyalnya?" Irene menggerutu sambil berusaha mengangkat ponselnya mencari sinyal.
"Kamu pakai kartu apa?" tanya Ares.
"Kartu Sempat."
"Kayaknya daerah sekitar ini adanya jaringan untuk kartu Friendly, MX, Prondo. Selain itu memang susah." Ares ikut mengeluarkan ponselnya. Ternyata baterainya habis. Mereka tidak bisa menghubungi siapapun.
"Ya sudah! Biar aku yang bawa motornya." Irene langsung naik ke atas motor milik Ares lalu mengenakan helmnya.
Ares mendelik. Ia menghampiri Irene berusaha menghentikannya. Wanita itu tidak henti-hentinya membuat dia khawatir. "Kamu sudah gila apa! Baru saja kita selamat mau mengajakku mati?" ocehnya.
"Tenang, aku bisa pakai motor, kok. Lukamu harus segera mendapatkan perawatan." Irene membantu memakaikan helmke kepala Ares. "Percaya saja padaku, kalau takut, tinggal pejamkan mata saja."
"Iya, bangun-bangun sudah pindah alam." Ares masih meragukan Irene.
"Hahaha ... aku jago kok naik motor." Irene menepuk jok belakangnya.
Ares menghela napas. Terpaksa ia mengikuti kemauan Irene. Kalau saja tangannya yang sakit bagian kiri, ia masih bisa membawa motornya.
"Pegangan ... nanti kamu terbang kena angin," ucap Irene saat Ares sudah naik di belakangnya.
Ares selalu heran dengan tingkah Irene. Wanita itu seakan tidak menganggapnya sebagai seorang lelaki. Padahal ia sendiri mulai merasakan desir-desir saat berdekatan dengannya.
Brem!
Nyawa Ares serasa tertinggal saat Irene melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Tangan kirinya berpegangan erat pada sisi pinggang Irene, sementara mulutnya terus komat-kamit merapalkan doa. Ia tidak bisa berkata-kata lagi merasakan dibonceng oleh seorang wanita.
Irene memacu motornya semakin kencang. Semyumnya terlihat lebar. Akhirnya setelah sekian lama ia bisa kembali merasakan duduk di atas motor, memacu adrenalinnya. Betapa ia sangat rindu dengan masa-masa balapan dulu. Bahkan ia sering membuat lawannya kesal karena selalu menang saat balapan.
Ckit!
Setibanya di depan rumah sakit, Irene menghentikan motornya. Ares masih tercengang dengan apa yang dialami. Irene telah berhasil membawanya ke rumah sakit dengan selamat.
"Ayo, cepat! Lukamu harus segera diobati. Itu paku yang melukaimu, bisa-bisa kamu kena tetanus."
__ADS_1
Irene menarik tangan kiri Ares dan membawanya masuk ke IGD. Petugas yang ada di sana menanyakan keperluan mereka. Setelah melihat luka yang dialami Ares, mereka langsung menanganinya.
"Loh! Ares?" seorang dokter lelaki masuk ke dalam ruang IGD bertemu dengan Ares.
"Oh, Om Genta," sapa Ares. Keduanya tampak saling mengenal.
"Kamu kenapa? Berkelahi lagi?" tanyanya seakan bukan pertama kali melihat kondisi Ares seperti itu. Wajah Ares mengalami beberapa luka lebam dan tangannya terluka cukup parah.
"Aku tidak berkelahi, Om. Hanya membela diri."
"Yah, kalau kedua pihak sudah saling serang namanya jadi perkelahian." Dokter Genta melihat kondisi luka yang ada di tangan Ares. "Lawanmu kali ini cukup brutal juga, ya. Luka sobekannya cukup dalam dan nanti sepertinya perlu diperiksa lebih lanjut takutnya terjadi keretakan tulang atau patah tulang."
"Kalau kita diserang, masa tidak boleh membela diri, Om? Apa harus diam saja waktu dipukuli supaya bisa menuntut dan lapor polisi? Keburu semua korban bakalan mati, Om." Ares tidak setuju dengan pendapat Dokter Genta.
"Kalau begitu, sebisa mungkin hindari pertikaian dengan orang-orang yang suka merusuh. Bertemanlah dengan orang-orang yang biasa."
"Masalahnya, orang-orang seperti mereka suka cari gara-gara. Memang mau mereka saja mau cari ribut. Om Genta kayak tidak pernah muda!"
"Hahaha ... dasar kamu!" Dokter Genta memukul kepala Ares.
Seorang perawat membantu sang dokter membersihkan area luka yang ada di tangan Ares dengan perlahan. Alat untuk menjahit luka yang menganga telah dipersiapkan. Irene tidak berani melihat ke arah Ares. Rasanya ngilu membayangkan luka yang akan mendapatkan jahitan.
"Yah! Coba nilai sendiri, Om! Masa cewek bentukan seperti ini adalah pacarku. Dia cuma tukang ojek!"
Irene yang awalnya khawatir kepada Ares langsung berubah geram dijelek-jelekkan di depan sang dokter. "Dokter, tolong suntik mati saja dia atau beri racun supaya mulutnya yang pedas tidak bisa lagi membuka!" gerutu Irene. "Menyesal tadi aku bawa kamu ke sini. Seharusnya aku tinggalkan saja tadi di sana supaya dimakan hantu!" lanjutnya.
Dokter Genta dan perawat yang ada di sana tak bisa menahan tawa dengan kelakuan lucu keduanya.
"Ini contoh orang yang tidak iklas dalam menolong."
"Kamu contoh orang yang tidak tahu terima kasih, sudah ditolong malah ngelunjak. Aku pulang sekarang! Motormu aku bawa!"
"Woy! Irene!" teriak Ares saat Irene benar-benar pergi meninggalkannya. Ia tidak bisa mengejar karena lukanya belum selesai di jahit.
Sebenarnya ia hanya berniat untuk bercanda, namun sepertinya Irene kesal sungguhan. Sesekali Ares menahan rasa sakit saat kulit tangannya dijahit.
__ADS_1
"Aku sudah mengirimkan pesan kepada kakakmu. Sebentar lagi dia akan datang untuk menjemputmu," ucap Dokter Genta.
"Terima kasih, Om." Ares menunjukkan senyumannya.
"Yang tadi itu benar, bukan pacarmu?"
"Bukan ...." Ares menjawabnya dengan nada lesu karena merasa bersalah.
"Hanya teman?" tanya Dokter Genta lagi.
Ares mengangguk.
"Pasti teman yang sangat spesial ya, sampai seorang Ares bisa dekat dengannya. Baru kali ini aku melihatmu bersama teman wanita. Katanya dia juga yang memboncengkanmu ke sini."
"Ya, kami memang hanya teman. Kebetulan tadi dia yang menolongku."
"Berarti kamu jahat juga. Masa kepada wanita yang sudah menolongmu ucapanmu kasar begitu. Dia jadi kabur, kan?"
"Niatku hanya bercanda, Om ...."
"Tidak semua orang bisa diajak bercanda. Apalagi oleh orang serius sepertimu, sejak kapan jadi suka bercanda?"
Dokter Genta merupakan dokter keluarga yang sudah biasa menangani keluarga Narendra. Saat kecil, jika ada yang sakit, mereka sudah biasa ditangani oleh Dokter Genta. Bahkan, yang melakukan pendampingan Ares untuk menghilangkan trauma akibat kehilangan orang tuanya adalah Dokter Genta sendiri. Jadi, Dokter Genta sedikit banyak tahu bagaimana sifat Ares.
"Kamu suka ya, sama wanita yang tadi?" ledek sang dokter.
"Oh, come on ... masa aku suka sama cewek jelek seperti dia." Ares berusaha berkilah.
"Yang namanya jatuh cinta, kekurangan seseorang itu akan tertutupi dengan kelebihan yang dimilikinya, Ares. Bahkan ada banyak orang dibutakan oleh cinta sampai tidak peduli lagi dengan orang lain di sekitarnya."
"Dokter, ruang pemeriksaannya sudah siap." Ucapan seorang perawat menghentikan perbincangan di antara mereka.
"Oh, terima kasih, sebentar lagi kita akan ke sana."
Luka Ares telah selesai dijahit. Kini, dokter akan membawa Ares ke dalam ruangan untuk memeriksa kondisi tulang tangannya.
__ADS_1
"Mau duduk di kursi roda?" tanya Dokter Genta.
"Tidak usah, Om. Itu akan sangat memalukan. Kondisiku masih sangat sehat," ucap Ares. Ia bangkit dari ranjangnya lalu berjalan bersama Dokter Genta menuju ruangan yang dimaksud.