
Seperti yang Alan katakan, mereka benar-benar pergi ke sebuah salon kecantikan sekaligus butik yang terlihat cukup mewah. Dari mulai tempatnya, para pegawainya, serta fasilitas yang disediakan sudah bisa dipastikan tempat tersebut merupakan tempat yang mahal.
"Tolong buat wanita ini jadi secantik mungkin. Meskipun sepertinya mustahil, pokoknya kalian berusaha dulu," ucap Alan kepada beberapa karyawan di sana.
Para karyawan sampai menahan tawa mendengar ucapan Alan. Sementara, Irene jadi kesal berkali-kali lipat dengan kelakuan Alan.
"Mari ikut saya ke dalam," ucap Salah seorang karyawan.
Irene di bawa ke sebuah ruangan private yang terdapat meja khusus rias dengan lemari berisi koleksi pakaian untuk acara khusus. Ia disuruh duduk di depan cermin rias besar dan bersiap menerima perubahan penampilan yang dikakukan pelayan salon kepadanya.
"Em, bisa kalian tinggalkan ruangan ini sebentar saja? Beri aku waktu 30 menit untuk memilih pakaian yang bagus. Setelah itu, nanti kalian bisa masuk lagi," ucap Irene.
Dua orang yang akan melayani Irene saling berpandangan. "Maaf, Nona. Kami harus secepatnya bekerja karena tata rias wajah dan rambut butuh waktu lama," ucap salah satunya.
Irene tersenyum. "Tiga puluh menit itu tidak lama. Kalau tidak setuju, aku orangnya suka bikin rusuh. Kalian bisa kena marah lelaki sombong yang tadi datang bersamaku, loh!" ancamnya.
"Baik, Nona. Tapi benar ya, hanya 30 menit, tidak lebih. Kami keluar dulu."
Kedua karyawan itu tidak berani membantah kemauan pelanggannya. Mereka meninggalkan ruangan dan membiarkan Irene berada di ruangan tersebut sendirian.
"Hah, yang benar saja ... Kak Alan mau aku berdandan? Penyamaran ini saja sudah termasuk dandanan untukku," gumam Irene sembari membersihkan make up di wajahnya.
Untuk kegiatan sehari-hari, Irene memang tidak mengenakan make up. Ia hanya menggunakan make up khusus untuk menciptakan warna kulit gelap yang diracik oleh dokter kulit untuknya. Karena Alan akan mengajaknya ke sebuah acara, ia terpaksa mengenakan make up dengan foundation berwarna gelap di wajahnya. Ia juga pulaskan peralatan make up yang lain agar menimbulkan kesan sederhana namun elegan.
Ia memilih warna dress berwarna pink selutut dengan lengan panjang. Untuk menutupi bagian kakinya yang terbuka, ia mengenakan stocking warna hitam. Bagian yang perlu disamarkan hanya punggung tangan dan leher saja. Penampilannya terlihat sangat sederhana namun tetap cantik.
"Permisi, Nona. Kami akan masuk."
Kedua karyawan yang tadi meninggalkan ruangan sudah kembali ke dalam setelah tiga puluh menit menunggu. Mereka tercengang melihat client-nya ternyata sudah tampil cantik dengan dandanan dan pakaiannya.
"Em, maaf, Nona ... kalau Nona sudah berdandan sendiri, apa yang harus kami kerjakan?" mereka jadi bingung sendiri.
"Kalian tolong tata rambutku, ya! Aku tidak bisa membuat tatanan rambut yang cocok dengan riasanku," ucapnya.
"Baik, Nona."
Kedua karyawan tersebut langsung bekerja mengambil peralatan yang diperlukan. Mereka yang awalnya menertawakan penampilan Irene saat pertama masuk salon, kini hanya bisa melirik-lirik sembari mengagumi hasil make up cantik dan natural di wajah Irene. Meskipun berkulit gelap, kecantikannya tetap memancar.
__ADS_1
"Kak Alan!" seru Irene.
Alan yang sedang menepon menoleh ke arah Irene. Ia mematung sejenak melihat Irene yang terlihat jauh berbeda dari biasanya. Penampilannya sangat rapi dan tampak anggun.
"Ah, em, sampai bertemu nanti. Saya akan segera ke sana." Alan menutup teleponnya.
"Apa penampilanku yang seperti ini cocok untuk menemani Kak Alan ke acara nanti?" tanya Irene. Sebenarnya ia memilih pakaian yang simpel agar ia tak terlalu repot menyembunyikan warna kulit aslinya.
"Ya, ini cocok. Soalnya nanti kita akan menemui beberapa perwakilan luar negeri yang akan menjalin kerjasama dengan perusahaan Kita. Kamu siapkan mental berbicara dengan mereka agar kerjasama kali ini bisa sukses."
"Apa?" Irene sampai ternganga mendengar dirinya diminta menjadi juru bicara. Ia kira hanya sebagai gandengan yang Alan bawa ke pertemuan bisnis.
Alan mengerutkan dahi, "Kenapa kaget? Bukankah kamu bisa berbahasa Inggris?"
Irene sungguh tidak tahu harus berkata apa. Lelaki itu sudah bersikap jutek kepadanya selama berhari-hari, sekarang meminta dirinya menjadi juru bicara secara mendadak. "Bisa sih bisa ... tapi, aku kan butuh persiapan. Tadi, aku barus selesai kompetisi, Kak!" geruru Irene. Ia memprotes perlakuan Alan kepadanya.
"Itu urusan pribadimu. Setahuku, kamu masih bagian dari perusahaan Narendra Group. Jadi, kapanpun itu, kamu harus siap saat mendapat tugas."
"Ayo cepat! Kita berangkat sekarang!" perintah Alan.
***
"When will you visit our country? I'll prepare a house for you and Mr. Alan."
"Oh, thank you, Mr. Barack. If I get a free holiday trip voucher, maybe I'll visit your country as soon as possible."
"Mr. Alan, treat your employee well. She is a smart woman."
"I'll increase her salary next month."
Pertemuan bisnis yang dilakukan Alan bersama perwakilan perusahaan asing berjalan dengan lancar. Mereka sepakat dengan kerjasama yang akan dilakukan. Irene sangat lancar berkomunikasi dengan mereka, seakan Bahasa Inggris merupakan bahasa yang sudah biasa ia gunakan dalam keseharian. Bahkan, para prrwakilan perusahaan asing tak henti-hentinya memuji kecakapan kerja Irene sebagai pendamping Alan.
Alan terus memandangi Irene yang begitu terlihat menarik di matanya. Wanita itu begitu mudah beradaptasi dalam lingkungan yang bahkan baru sekali ditemui. Entah mengapa ia merasa sudah sangat mengenal Irene. Wajahnya seakan sering ia lihat dimana-mana.
"Kenapa wajahnya seperti pasaran," gumamnya sembari meneguk minuman beralkohol dari gelasnya.
__ADS_1
Usai pertemuan, mereka mengajak Alan dan Irene bersantai sambil minum-minum di sebuah pub sebagai ungkapan rasa senang karena telah menerima kerjasama mereka. Irene tidak ikut minum karena tubuhnya tidak bisa mentolerir alkohol. Alan tetap ikut minum untuk menghormati mereka.
"Kak, aku mau ke toilet sebentar, ya!" pamit Irene.
Alan mengangguk.
"Apa dia pacarmu?" tanya salah satu dari mereka dalam Bahasa Inggris.
"Oh, bukan. Dia adalah salah satu karyawan terbaik saya," kilah Alan.
"Wah, kalau belum ada yang punya, bisa ya saya bawa ke luar negeri. Dia cantik dan pintar."
Mendengar ucapan rekan bisnis asingnya itu, entwh mengapa Alan jadi panas. Ia kembali meneguk beberapa gelas alkohol untuk menutupi rasa kesalnya.
Saat Irene kembali dari toilet, Alan sudah dalam kondisi sangat mabuk. Begitu pula dengan rekan bisnisnya yang lain. Ia heran dengan kebiasaan para lelaki yang suka mabuk setelah selesai membahas pekerjaan.
Irene meminta bantuan kepada pihak pub untuk menyediakan seorang sopir untuk mengantar dia dan Alan kembali ke apartemen.
"Terima kasih, Pak. Sampai di sini saja," ucap Irene setelah mereka sampai di depan pintu apartemen.
"Hm, Irene ... kita dimana? Aku masih ingin minum." Alan bergumam setengah sadar.
Irene berjuang keras memapah tubuh Alan yang sempoyongan perlahan-lahan sampai ke arah ranjang. Napasnya terengah-engah menahan beban tubuh Alan.
Bruk!
Irene terjatuh di atas tubuh Alan setelah lelaki itu tiba-tiba menariknya.
"Coba lihat siapa wanita ini? Kenapa hari ini kelihatan sangat cantik sampai para lelaki tak henti memujinya."
Irene tidak paham dengan apa yang Alan bicarakan. Ia hanya ingin berusaha bangkit namun Alan mencegahnya.
"Kenapa kamu harus cerdas juga, hah? Kenapa kamu menarik? Seharusnya kamu jelek saja ... menyebalkan mendengarkan orang-orang memujimu."
Alan membalikkan badan mereka, menindih Irene di bawahnya. Dipandanginya mata bening yang selalu meluluhkan perasaannya.
"Kak, kamu mabuk atau tidak? Lepaskan aku!" pinta Irene.
__ADS_1
Bukannya melepaskan Irene, Alan justru mendaratkan ciuman di bibir wanita itu. Irene membulatkan mata saat merasakan bibir hangat lelaki itu melvmat bibirnya dengan kuat. Aroma alkohol menguar dari mulut Alan. Irene tak berdaya menghindari ciumannya. Apalagi saat lidah lelaki itu berhasil menerobos mulutnya, mencium dengan agresif hingga tak memberikan kesempatan untuknya bernapas.
Kedua tangan Irene mencengkeram kuat sprei saat ia merasakan seakan sengatan listrik menjalari tubuhnya hanya dari sebuah ciuman yang begitu memabukkan. Sejenak ia lupa diri dan ikut terhanyut menikmati ciuman panas mereka. Sayangnya, kegiatan mereka harus terhenti saat Alan akhirnya tertidur.