Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 38: Irene dan 5 Pelindung


__ADS_3

"Emmm ... ternyata ramen di tempat ini enak juga, ya ...." Irene melahap dengan semangat semangkok ramen di hadapannya. Ia terlihat begitu menikmati makanan yang ia pesan.


Sementara, Alan hanya menyaksikan gaya Irene makan yang terlihat sedikit bar-bar. Menurutnya, rasa makanan di sana biasa saja. Bahkan ia tidak begitu menyukai donburi yang dipesannya.


"Coba, Kak! Cicipi ramen punyaku." Irene menyodorkan sendok berisi makanan kepada Alan. "Ayo, coba ... Kak Alan kan koki. Siapa tahu dapat inspirasi setelah makan ini." Irene masih mempertahankan sendok di tangannya.


Alan ingin tertawa Irene seperti meragukan kemampuannya menciptakan inovasi masakan. Ia akhirnya membuka mulut menerima suapan dari Irene. Rasa ramen yang membuat Irene begitu bahagia hanya terasa biasa saja di mulutnya.


"Bagaimana? Enak, kan?" tanya Irene dengan binar mata penuh harap bahwa penilaiannya akan sama.


"Biasa saja," jawab Alan datar.


Irene mencebikkan bibir. "Selera lidahmu rendah juga, ya ... padahal ini sangat enak," ujarnya.


"Ramen di tempatku lebih enak. Kalau kamu mau coba, datang saja kapan-kapan ke restoranku yang ada di daerah alun-alun kota."


"Kalau nggak datang sama Kak Alan, berarti aku harus bayar, ya?"


Alan tak bisa menahan tawanya. Segitu sukanya dengan gratisan sampai tanya mau disuruh bayar atau tidak. "Kalau kamu mau mencoba ramen, bilang saja, nanti aku antar kamu ke sana."


"Kalau begitu aku semangat!" Irene kembali fokus memakan ramennya. Ia sampai geleng-geleng kepala karena girang. Makanan yang dipesannya terasa enak semua.


Setelah bermain salju di area yang dingin memang paling enak memakan makanan yang hangat-hangat. Ada banyak makanan yang Irene pesan mulai dari ramen, takoyaki, mochi, yakitori, sampai sushi. Ia makan satu per satu dengan lahapnya.


"Kak Alan tidak mau coba yang lain?" Irene pura-pura menawarkan. Ia sudah tahu kalau Alan pasti tidak mau.


"Tidak, aku tidak mau. Kamu habiskan saja supaya kenyang." Alan sudah kenyang duluan melihat Irene yang makan seperti orang kelaparan seminggu.


"Kak, aku mau mencicipi donburi-nya."


Alan sampai membelalakkan mata. Makanan di hadapan Irene ada banyak dan ia masih menginginkan makanan miliknya. Melihat tatapannya seperti anak kucing yang tidak menerima penolakan, Alan mengulurkan sendoknya menyuapi Irene.


"Eum ... ini juga enak!" ucap Irene ketika donburi memenuhi rongga mulutnya.


Alan hanya bisa tersenyum melihat kelakuan Irene yang menghibur. "Apa kamu sangat lapar?"

__ADS_1


"Tidak juga. Tapi semua makanan ini memang enak. Mungkin karena gratis." Irene menunjukkan senyum lebarnya.


"Hah! Gratis? Aku yang sudah membayarnya, pesananmu habis hampir satu juta." Alan berencana akan mencubiti Irene jika makanan sebanyak itu tidak dihabiskan.


"Hehehe ... maksudnya gratis untukku. Kak Alan kan kalah waktu main ski. Jadi, jangan protes!" Irene menjulurkan lidahnya mengejek.


Alan terdiam. Ia hanya memperhatikan Irene yang semakin ia lihat semakin mirip dengan Miss A. Ada banyak hal yang membuat ia memberikan kesimpulan seperti itu. Ia juga tidak tahu pasti, kenapa setiap melihat Irene dirinya terus mengingat Miss A.


Drrtt ... drrtt ...


Ponsel di saku Alan berbunyi. Ia mengambil dan melihat nama yang tertera di layar. Sovia yang meneleponnya.


"Halo?" ucap Alan ketika mengangkat telepon dari Sovia.


"Sayang, kayaknya malam ini aku tidak bisa jalan sama kamu," ucap Sovia dari seberang telepon.


Alan memandang sekilas ke arah Irene. Wanita itu tampak asyik dengan makanannya, tak memberikan perhatian sedikitpun kepadanya yang masih menelepon. Seakan Irene tidak ingin tahu dengan siapa dirinya sedang berbicara.


"Kenapa?" tanya Alan.


"Ada pekerjaan mendadak. Manajerku lupa memberi tahu kalau malam ini ada jadwal."


"Terima kasih ya, Sayang ... kamu memang pacar yang pengertian. Aku jadi makin cinta sama kamu. I Love you ...."


"Hm, I love you too." Setelah mengatakan hal itu, Alan menutup kembali ponselnya dan memasukkan ke dalam saku celana.


"Cie ... bilang I love you segala ... dari Sovia, ya?" sindir Irene. Ternyata dia masih mendengarkan percakapan Alan di telepon meskipun fokus makan.


Alan mengangguk.


"Kenapa Sovia? Cari Kak Alan, ya?" Irene ingin tahu.


"Tidak. Dia hanya bilang tidak bisa pergi denganku malam ini."


"Oh ... aku kira sedang mencari Kakak. Dia pasti akan sangat marah kalau tahu Kak Alan sedang bersamaku. Ah ... aku jadi ingin sekali melihat wajah Sovia yang sedang marah." Irene senyum-senyum sendiri. Tujuannya mendekati Alan memang untuk membuat Sovia kesal.

__ADS_1


"Memangnya Sovia punya salah apa padamu sampai kamu tidak suka padanya?"


"Aku tidak akan mengatakannya karena Kak Alan pasti tak akan percaya."


"Aneh!" gumam Alan.


"Tapi, aku rasa Sovia tidak mau bertemu dengan Kak Alan karena mau kencan dengan lelaki yang tadi. Paling dia selingkuh dengan teman kerjanya. Seperti kita ini bisa disebut selingkuh juga nggak?"


Perkataan Irene menjadikan Alan kembali berpikir. Mungkin benar Sovia akan jalan dengan lelaki yang tadi. Tapi, malam ini dia juga ada acara mendadak. Bisa jadi Sovia pergi untuk syuting bareng temannya.


"Sudah selesai apa belum makannya? Ayo kita pulang." Alan tidak mau membahas tentang Sovia.


Irene melihat jam tangan yang terpasang di tangannya. Waktu mereka berada di sana masih tersisa setengah jam lagi. "Aku mau main lagi, Kak. Masih 30 menit. Sayang kalau tidak dipakai." Meski makanannya sudah habis, ia masih ingin berada di sana.


Alan tercengang. Dia sudah ingin segera pulang tapi Irene justru masih belum puas berada di sana. Setelah makan begitu banyak, wanita itu kembali enerjik.


Irene masuk kembali ke dalam area perang salju. Sudah ada lebih banyak orang dibandingkan yang pertama. Ia langsung semangat bergabung dengan orang-orang yang sedang saling lempar salju dengan bahagianya.


Alan yang sebelumnya jadi sasaran Irene saat perang salju, memilih berdiri di luar arena. Ia hanya memperhatikan saja wanita itu bermain dengan lincah dan tenaga ekstranya melemparkan salju-salju kepada setiap orang yang dianggap sebagai musuhnya. Melihat ekspresi yang begitu ceria seakan bisa menular kepadanya. Irene cukup menyenangkan diajak jalan.


Alan tersenyum-senyum saat melihat Irene menjadi sasaran banyak orang. Sepertinya mereka juga cukup kesal dilempari salju Irene secara random. Irene tampak kewalahan dan berlari ke belakang rumah-rumahan salju. Alan tidak bisa melihat lagi keberadaannya.


Ia arahkan pandangan ke area permainan yang lain. Semakin lama semakin banyak pengunjung yang masuk. Tempat yang semula cukup sepi saat ia pertama kali masuk, kini sudah dipenuhi banyak orang.


Tut! tut! tut!


Jam di tangan Alan berbunyi. Waktu mereka di sana tersisa 10 menit, namun Irene belum ada tanda-tanda keluar. Kalau mereka telat keluar, bisa jadi dihampiri petugas nanti malu sendiri dipaksa keluar. Akhirnya Alan memutuskan untuk masuk ke dalam area tersebut. Namun, ternyata Irene sudah tidak ada di sana.


"Kemana itu anak!" gumam Alan. Baru saja ia puji kalau Irene anak yang menyenangkan malah sekarang jadi menyusahkan.


Alan berkeliling mencari keberadaan Irene di tempat sekitar area perang salju. Susah mencari, ternyata wanita itu malah sedang asyik bermain salju dengan anak-anak kecil. Ia hanya bisa menghela napas mencoba menyabarkan diri.


"Pintah tempat kenapa tidak bilang? Sedang apa kamu di sini?"


Irene menoleh ke arah Alan dan tersenyum. Sejak tadi ia sibuk membuat boneka salju bersama anak-anak kecil. Alan duduk berjongkok di samping Irene, ikut memandangi boneka salju yang dibuat oleh wanita itu.

__ADS_1


"Ini aku ... ini Kak Alan, Kak Alex, Kak Alfa, Kak Arvy, dan Ares. Aku senang sekali bisa masuk ke dalam keluarga Narendra. Bersama kalian, aku merasa memiliki keluarga yang banyak. Terima kasih sudah menerimaku dengan baik selama ini." Ucapan Irene terdengar begitu tulus.


Alan melihat kembali boneka-boneka salju kecil yang Irene buat. Boneka salju kecil yang dikelilingi lima boneka salju yang lebih besar. Bisa dibilang hal itu mencerminkan suasana hati orang yang membuatnya. Bahwa selama ini ternyata Irene merasa kesepian.


__ADS_2