Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 80: Hadiah Apa?


__ADS_3

Irene sebagai Alenta kembali diajak Alan ke tempat jual beli batu. Sejak awal dia selalu waspada memperhatikan sikap Alan kepadanya. Ia was-was jika Alan berhasil mengungkap identitasnya. Sangat jelas semalam Alan membawanya ke kamar mandi karena mengira ia menyembunyikan warna kulit aslinya dengan make up. Untung saja saat ia menyamar sebagai Irene, Alan tidak melakukan hal itu padanya. Kalau tidak, penyamarannya pasti akan langsung terbongkar.


"Kok malah bengong? Katanya mau belajar bisnis jual beli batu? Kalau kamu diam terus jadi sia-sia kan, waktuku ...." Alan mulai mengomel.


"Iya, Pak. Sabar sebentar. Aku juga sedang memilih batu yang sekiranya membawa keberuntungan," ucapnya.


Setelah mempertimbangkan secara matang, Irene akhirnya memilih dua batu yang bentuknya cukup unik menurutnya. Ia menyuruh pemilik batu untuk membantu membelah batu tersebut. Sayangnya, batu pertama hanyalah batu biasa yang tidak ada kandungan berharga di dalamnya. Awalan ini membuat Irene sedikit kecewa.


Saat batu kedua dibelah, ternyata juga hanya batu biasa. Padahal ia sudah memilih pada pedagang batu yang paling laris dan kemarin Alan mendapatkan harta karun dari sana.


"Sudah tahu kan, kalau bisnis seperti ini hanya mengandalkan keberuntungan? Aku juga tidak tahu patokan pastinya. Tapi, coba saja kamu pilih dengan insting. Aku tidak mau memilihkan untukmu, nanti kemampuanmu tidak bisa berkembang."


Irene memanyunkan bibirnya. Ia sudah habis uang untuk membeli dua batu biasa. Ia memutuskan berpindah ke pedagang batu yang paling murah. Kalau ia rugi lagi setidaknya merugiannya lebih kecil dari pada sebelumnya.


Kali ini Irene lebih memperhatikan batu-batu yang hendak ia beli. Meneliti ciri-ciri batu yang sekiranya mengandung benda berharga di dalamnya. Setelah menimbang-nimbang, Irene memilih dua batu dari tumpukan batu paling murah.


"Saya mau ambil ini," ucap Irene dalam Bahasa Persia.


"Yakin mau membeli batu ini, Nona? Biasanya batu seperti ini tidak ada isinya. Kenapa tidak yang agak mahal saja seperti yang di sini?" penjual tersebut memberi saran kepada Irene agar tidak membelinya.


Irene melirik ke arah Alan, namun lelaki itu mengangkat kedua bahunya tanda tidak mau memberi tanggapan. Dengan pertimbangan yang mantap serta kemungkinan kaalu rugi juga kecil, akhirnya Irene tetap membeli batu yang berukuran lebih kecil.

__ADS_1


"Saya mau yang ini, Tuan!" ucap Irene sembari memberikan uangnya.


"Suruh pedagangnya membelah dari pinggiran batu," bisik Alan.


Irene melakukan apa yang Alan katakan. Ia memperhatikan sendiri pedagang tersebut membelah pinggiran batu tersebut. Tanpa disangka terlihat giok kecil yang berkilau.


"Hua ... aku beruntung!" seru Irene kegirangan.


Alan juga tak menyangka batu murah itu ternyata memiliki isi yang luar biasa. Ia turut senang melihat Alenta bahagia. Wanita itu bahkan sampai berjoget-joget di pasar seperti orang gila, mengundang perhatian banyak orang di sana. Pedagang yang melepas batu itu dengan harga murah tampaknya menyesal. Seharusnya ia tidak menjual batu itu dengan harga murah.


Irene terus tersenyum sepanjang perjalanan mereka. Batu giok yang ada di tangannya merupakan penyebab perasaan bahagia di hatinya. Ia tidak menyangka jika hari ini akan menjadi hari keberuntungannya.


"Kayaknya aku akan membuat giok ini menjadi gelang," ucapnya.


"Bagus nggak Pak, kalau batunya saya jadikan perhiasan seperti yang itu?" tanya Irene sembari menunjuk pada deretan perhiasan cantik yang dipamerkan oleh sebuah toko.


"Bagus, kamu mau saya tunjukkan tempat yang cocok untuk mengolah batu milikmu?" tanya Alan.


Alenta mengangguk setuju. Alan membawa wanita itu berjalan ke sebuah toko tak nauh dari posisi awal mereka. Toko tersebut juga memajang aneka perhiasan dari giok yang sudah jadi. Meskipun demikian, toko teraebut menerima pesanan pembuatan perhiasan sesuai permintaan pelanggan.


Alenta dengan antusias menemui pemilik toko. Ia tunjukkan batu indah miliknya seraya mengungkapkan niatnya. Pemilik toko memberikan beberapa contoh desain perhiasan yang banyak diminati pembeli. Ia memutuskan untuk membuat batu giok miliknya menjadi sebuah gelang saja.

__ADS_1


"Alenta, aku ada urusan untuk bertemu dengan teman. Kamu bisa pulang sendiri kan, ke hotel?" tanya Alan.


Alenta merasa bingung tiba-tiba sekali Alan ingin pergi meninggalkannya. Padahal, biasanya ia tak mau jauh-jauh darinya karena pusing dengan Bahasa Persia di sana. "Bapak yakin?" tanya Alenta. "Ini bukan Surabaya, Pak. Kita masih di Iran kalau Bapak lupa."


"Hahaha ... Tenang saja, teman yang ingin aku temui juga orang Indonesia, jadi aku tidak akan terkendala bahasa. Kamu, setelah selesai di sini, langsung pulang ke hotel. Aku malah takut kamu nanti yang hilang." Alan melambaikan tangan untuk perpisahan.


"Nona, desain mana yang ingin Anda pilih?" Pertanyaan dari pedagang itu membuyarkan lamunan Irene. Sejenak ia masih bertanya-tanya sepenting apa pertemuan Bara dengan temannya sampai rela meninggalkannya.


"Ah, saya ingin desain seperti ini!" Irene memilih gambar desain yang menurutnya paling cocok.


"Baik, akan segera kami proses. Nona bisa kembali lagi ke tempat ini besok dengan membawa surat ini." Pedagang tersebut memberikan nota pembayaran yang tertera nominal yang harus dibayarkan. Irene memberikan sejumlah uang sesuai yang tertera dalam nota.


Setelah transaksi selesai, Irene berjalan sendiri ke arah hotel. Sudah terbiasa keman-mana bersama Alan, tiba-tiba ia harus sendiri itu rasanya hampa dan sepi. Tidak ada teman yang diajak untuk bertengkar dan adu pendapat.


Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, memandang langit-langit kamar hotel dengan tatapan yang kosong. Terkadang ia ingin sekali mengatakan tentang identitasnya yang sebenarnya. Hanya saja, ia belum sepenuhnya yakin sebenarnya siapa sosok dirinya yang Alan sukai. Apakah itu Irene yang asli dirinya sendiri, Irene jelek dekil hitam, Hyena pemilik suara merdu, Miss A si hantu cantik, atau Alenta yang dewasa yang s3ksi?


Irene merasa segala apa yang ada di dalam dirinya hanyalah palsu kecuali perasaannya. Irene mulai menyukai sosok lelaki yang awalnya menyebalkan untuknya.


Irene membuka kembali catatan tugas yang dimilikinya. Meskipun tetap berkuliah secara daring, namun ia berusaha disiplin mengerjakan tugas. Setiap tanggal deadline selalu ia tandai agar tidak terlewatkan mengumpulkan tugas.


"Astaga!" pekiknya.

__ADS_1


Ia melihat pengingat yang ada di ponselnya. Tiga hari lagi ternyata merupakan hari ulang tahun Alan. Ia sampai melupakan hal itu. Irene sama sekali lupa dan belum mempersiapkan hadiah yang sekiranya cocok untuk lelaki tersebut.


"Kado apa, ya ... semua hal bisa ia beli dengan uangnya. Dia jauh lebih kaya dari pada aku," gumam Irene.


__ADS_2