Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 153


__ADS_3

"Jo, yang semalam itu sangat memuaskan," kata Sisip dengan wajah yang berbunga-bunga.


Jonathan menghela napas. "Kita sudah sepakat untuk tidak membahasnya, kan? Please, ini di kawasan kantorku, takutnya ada yang dengar." ia tampak melihat-lihat di sekitar.


Sisil tersenyum nakal. "Kamu tenang saja. Aku tidak akan membocorkannya."


"Kamu harus memegang janjimu padaku," kata Jonathan.


"Iya, kapanpun kamu meminta, akan langsung aku sebarkan beritanya. Aku ini kan fans setiamu," jawab Sisil.


"Loh, kamu ada di sini, Sil?"


Sovia datang. Ia merasa heran melihat temannya berada di kantor agensi Jonathan. Sovia menyapa Jonathan dengan pelukan dan ciuman di pipi kanan kiri.


"Kamu seperti tidak tahu pekerjaanku saja, Sov. Aku juga butuh berita dari artis-artis baru. Siapa tahu ada yang menarik untuk diberitakan," kilah Sisil.


"Awas kamu! Jangan buat berita aneh-aneh tentang Jonathan!" ancam Sovia.


"Hahaha ... Nggak mungkin lah, Sov. Selain dia tunanganmu, aku juga fans berat Jonathan. Aku bahkan akan selalu memberitakan yang baik-baik tentang Jonathan."


"Paman ingin bertemu denganmu. Apa malam ini kamu bisa?" tanya Sovia pada Jonathan.


"Ah, oke. Sepertinya nanti malam aku tidak ada jadwal. Aku akan menghubungimu lagi," jawab Jonathan.


"Aku mau langsung pergi. Hari ini ada pemotretan. Sampai ketemu nanti malam," kata Sovia. Ia kembali memeluk Jonathan dan menciumnya.


"Sil, aku pergi," pamitnya pada Sisil sebelum pergi.


"Kamu lihat, kan? Hubungan kalian akan baik-baik saja," kata Sisil sembari tersenyum.


"Ya sudahlah, terserah padamu. Aku mau masuk dulu," pamit Jonathan.


Ia berjalan memasuki kantor manajemennya meninggalkan Sisil di luar. Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya menyapa dan ia membalas dengan senyuman. Sebagai seorang artis, menjaga imej sebagai orang ramah itu wajib meskipun perasaan sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


Saat melewati ruangan Arvy, ia mengintip sebentar. Di dalam tampak Arvy sedang sendirian sambil memegangi lembaran kertas.


"Hai, kamu sedang santai?" tanya Jonathan yang bersikap sok bersahabat.


Arvy hanya melirik orang yang baru saja masuk ruangannya dan kembali fokus pada lagu yang sedang dikerjakannya.


"Kamu sedang sibuk membuat lagu baru?" Jonathan tampak tidak menyerah meskipun pertanyaan pertamanya terkesan diabaikan.


"Sebagai seorang musisi tentu saja harus berusaha menciptakan lagu. Apa lagi yang bisa dilakukan selain itu?" Arvy menjawab tanpa melihat ke arah Jonathan.


Perkataan Arvy terasa sedang menyindirnya. "Bagaimana kalau kita kolaborasi? Aku akan menghubungi manajerku," katanya.


"Sepertinya aku belum berniat untuk berkolaborasi dengan siapapun. Aku masih nyaman sendiri. Mungkin kamu bisa melakukannya dengan penyanyi lain."


Penolakan yang terang-terangan Arvy lakukan sungguh sangat membuat Jonathan merasa tersinggung. Ia sakit hati dan tidak bisa menerimanya. Seakan Arvy tengah mengejek bakatnya.


"Kamu sudah punya pacar, ya?" tanya Jonathan.


"Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal itu?" tanya Arvy penasaran. Ia memang sudah punya pacar dan masih menyembunyika hubungan mereka dari media.


"Jawab saja dengan tenang. Kalau benar aku juga tidak akan membocorkannya," kata Jonathan sembari terkekeh. Ia merasa puas bisa memancing kekhawatiran Arvy.


"Tidak. Aku masih ingin fokus pada karirku," kilah Arvy.


Sebagai seorang artis, hubungan pribadi memiliki pengaruh yang besar pada karir. Apalagi Arvy kini tengah mulai menanjak karirnya sebagai seorang artis dan penyanyi. Belum lagi ia khawatir karir pacarnya akan ikut terganggu jika muncul rumor di antara mereka.


"Benarkah? Tapi aku punya bukti kalau kamu sudah punya pacar," kata Jonathan. Ia merasa menang.


Arvy tidak percaya Jonathan mengajaknya membahas omong kosong bersamanya. "Kalau kamu memang ada waktu senggang yang banyak, kenapa tidak digunakan untuk menghasilkan karya? Bukankah itu lebih baik dari pada sibuk mengulik kehidupan pribadiku," sindir Arvy.


Perkataan Arvy ketika mood-nya tidak baik memang sangat menyakitkan.


"Selain lagu debutmu yang terkenal itu, bukankah lagu-lagumu yang lain tidak ada yang dikenal orang? Mending kamu perbaiki kemampuanmu dari pada mengurusiku!" kata Arvy. Ia kalau sedang marah memang segala ucapan akan keluar tak peduli orang yang mendengarnya suka atau tidak.

__ADS_1


Jonathan mengepalkan tangannya. "Jangan sombong hanya karena sekarang kamu sedang populer. Roda kehidupan itu berputar. Bisa jadi sekarang kamu ada di atas dan besok ada di bawah. Lagi pula, kamu hanya penyanyi lulusan SMA." ia membalas perkataan Arvy.


"Apa tidak ada hal lain lagi yang bisa kamu gunakan untuk merendahkanku selain masalah pendidikan?" Arvy menyeringai. "Kalau aku kuliah dan jadi sarjana, mungkin aku akan menjadi pengusaha. Sedangkan aku terlahir dengan paras yang tampan, suara yang indah, dan bakat yang luar biasa sebagai seorang artis. Kamu bahkan tidak akan bisa mengalahkannya dengan bersekolah setinggi apapun. Karena ini anugerah langsung dari Tuhan." Arvy mengeluarkan kesombongannya.


Jonathan terdiam tak bisa berkata-kata. Ia sudah sangat dendam kepada Arvy. "Suatu saat kamu akan jatuh karena keangkuhanmu sendiri!" ancam Jonathan.


Arvy tak menggubris perkataan Jonathan. Ia kembalu fokus memikirkan lagu baru yang tengah dikarangnya.


Jonathan memutuskan keluar dari saja dengan kemarahan dan dendam yang membuncah. Ia masuk ke dalam toilet lalu menguncinya.


Ia memandangi wajahnya sendiri di cermin. Ia merasa seperti orang yang baru saja dijadikan lelucon oleh Arvy. Ia tidak bisa menerimanya begitu saja. Ia tidak akan melepaskan Arvy.


Jonathan mengambil ponselnya dan menghubungi Sisil.


"Halo, Jo? Ada apa?"


"Sil, tolong keluarkan rumor tentang Arvy malam ini!" perintah Jonathan.


"Oh, ada apa ini? Kenapa kamu tiba-tiba berubah pikiran? Katanya tadi kamu belum mau mengeluarkan kartu itu?"


Seandainya Arvy mau menerima ajaka. Kolaborasi dengannya, Jonathan sebenarnya tam bermaksud menghancurkan karir Arvy. Namun, ucapan Arvy yang sangat menyakitkan tidak bisa ia maafkan.


"Aku berubah pikiran. Aku ingin berita itu segera keluar dengan rumor yang sangat parah sampai ia tak punya muka lagi muncul di media!" kata Jonathan dengan nada emosi.


"Oh, kasihan sekali artis kesayanganku ini. Kamu tenang saja, aku akan mengeluarkan berita yang membuatmu senang. Tapi, nanti malam aku mampir ke apartemenmu lagi, ya?"


"Apa? Bukannya kamu dengar sendiri kalau Sovia akan mengajakku makan malam dengan pamannya. Kamu jangan gila, Sisil!" Jonathan tahu kemana arah pembicaraan wanita itu.


"Kamu berangkat saja makan malam dengan Sovia. Aku akan menunggumu pulang. Ayolah, kamu harus memberikan hadiah jika nanti pekerjaanku berjalan lancar."


Jonathan tak punya pilihan lain. Jika dia tidak menuruti kemauan Sisil, wanita itu tak akan mau membantunya.


"Baiklah, kamu bisa datang ke apartemenku malam ini. Kodenya masih sama," kata Jonathan seraya menutup teleponnya.

__ADS_1


__ADS_2