Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 108:


__ADS_3

Brak!


Kakek melemparkan tumpukan berkas-berkas ke lantai dengan kasarnya sampai membuat semua orang yang ada di sana terkejut. "Baru hari ini aku membaca semua laporan tentang anak kurang ajar itu! Memang sepertinya dia harus dimasukkan ke penjara supaya kapok!" bentaknya.


Buru-buru Alan berlari mendekati kakeknya dan memijit bahu lelaki tua itu. "Sabar, Kek. Percayakan saja padaku, pasti semuanya beres. Bagaimanapun juga, Alex tetap adikku. Mungkin dia sedang banyak beban pikiran saja makannya bertindak semaunya." ia berusaha merayu sang kakek agar tidak marah-marah.


"Beres dari mana? Kamu paling tidak bakalan tega menangani Alex dengan tegas!" kakek terlihat tidak yakin.


"Alan janji kali ini bisa menyelesaikan masalah ini sendiri. Jangan khawatir."


"Apa jaminannya?" tantang kakek.


Alan terdiam sesaat memikirkan hal yang bisa membuat kakek percaya. "Aku pasti berhasil. Kalau sampai gagal menyelamatkan perusahaan, silakan Kakek berikan hukuman apa saja."


Kakek berpikir dengan ucapan Alan. "Baiklah kalau begitu, Kakek tidak akan ikut campur. Selesaikan semua dengan caramu!" kakek akhirnya setuju dan berhenti marah-marah.


Ares dan Alfa yang ada di sana turut lega setelah amarah kakek mereda.


"Jadi, bagaimana selanjutnya, Kak?" tanya Ares. Ia belum lama bergabung dengan perusahaan dan tidak terlalu paham dengan orang-orang di dalamnya.


"Kita tetap bekerja seperti biasa. Kalau memang mereka ingin mengundurkan diri, izinkan saja," ucap Alan dengan entengnya.


Alfa dan Ares saling berpandangan mendengar keputusan Alan.


"Karyawan yang ingin mengundurkan diri ada ratusan, Kak! Apa itu tidak akan menimbulkan masalah nantinya?" tanya Alfa khawatir.


"Apa kamu punya solusi lain?"


Alfa langsung terdiam mendengar pertanyaan tersebut.


"Apapun keputusan yang aku ambil pasti ada pihak yang tidak suka dan merasa dirugikan. Aku tidak mau terpengaruh dengan pandangan orang. Fokusku sekarang untuk menyelamatkan perusahaan sekalipun harus berhadapan dengan Alex."


"Kak Alex itu kenapa bisa begitu, ya?" tanya Ares heran. "Padahal, dia selalu baik. Yang memberikan posisiku sekarang juga Kak Alex." Ares masih tidak percaya dengan perubahan sikap kakaknya itu.


"Sudahlah, Ares. Kamu tidak perlu memikirkannya. Fokus saja untuk bekerja. Aku butuh orang untuk membantu berpikir mencari solusi." Alan sudah tidak mau lagi mendengar tentang Alex.


Klek!


Pintu ruangan terbuka. Muncul Irene dengan wajah paniknya di sana. Setelah melihat berita yang beredar, ia tidak bisa membiarkan Alan menghadapi kesulitannya sendiri.

__ADS_1


"Ngapain kamu ke sini?" tanya Ares.


"Memang kenapa? Tidak boleh?" Irene menjulurkan lidah meledek Ares.


"Tuh! Kakak kesayanganmu ada di bawah. Coba kamu nasihati siapa tahu mau mendengar. Bisa-bisanya dia buat kegaduhan di bawah," sindir Ares.


"Kamu kan juga adik kesayangannya! Kamu bisa masuk ke sini karena siapa kalau bukan karena Kak Alex?" timpal Irene tak mau kalah.


"Sudah, sudah ... Mendengar kalian bertengkar malah aku makin pusing!" Alan memijit kepalanya. "Ares, Alfa, kalian lakukan saja apa yang aku bilang semalam. Urus dengan baik pokoknya!" pintanya.


"Oke! Kita pergi dulu!" Kata Alfa. Ia langsung menarik tangan Ares agar segera keluar dari sana. Kalau dibiarkan, biasanya akan ada adu mulut lebih lanjut antara Ares dan Irene seperti biasa.


"Duduk dulu, Irene!" Kata Alan. Ia mengajak wanita itu untuk duduk di sofa.


Irene memandangi wajah frustasi yang Alan tunjukkan. "Kondisi perusahaan sangat gawat ya, Kak?" tanyanya.


Alan menghela napas. "Kamu juga pasti sudah melihat berita yang beredar, kan? Aku tidak bisa mengelak kalau perusahaan memang sedang tidak baik-baik saja."


"Kakak sudah menanyakan langsung kepada Kak Alex? Kenapa tiba-tiba berbalik melawan, bukankah pasti ada hal yang menjadi alasannya?"


Alan berpikir sejenak alasan Alex melakukan hal itu. "Entahlah! Kalau waktunya tepat, aku juga ingin berbicara dengannya. Saat ini kondisi pikiranku tidak stabil, takutnya hanya kemarahan yang akan keluar."


Alan sempat terdiam sesaat meragukan ucapan Irene barusan. Apa yang sedang ia alami bukanlah sesuatu yang sederhana dan bisa diselesaikan dengan mudah. Namun, melihat binar ketulusan yang terpancar dari mata Irene, ia tak tega untuk menolak.


"Baiklah, kamu bisa membantu semampumu kalau mau. Tapi, tidak perlu juga untuk memaksakan diri. Mungkin hari ini aku akan pulang sangat larut atau mungkin tidak pulang. Ada banyak dokumen yang harus dicek." Alan menunjuk tumpukkan tinggi berkas yang ada di meja.


"Ada banyak mitra bisnis yang sudah menghubungiku dan berencana membatalkan kontrak. Mereka khawatir kalau perusahaan ini tidak akan mampu bertahan akibat kejadian ini," ucap Alan sembali tersenyum getir.


"Kenapa mereka punya pikiran seperti itu? Selalu saja masalah keuntungan yang dipikirkan!" gerutu Irene. Ia mulai membuka-buka dokumen kerjasama dari mitra yang berencana memutuskan kontrak kerjasamanya.


"Namanya juga bisnis, tidak ada lawan atau kawan sejati. Setiap orang pasti akan melakukan berbagai cara untuk mempertahankan kelanggengan bisnisnya, termasuk meninggalkan perusahaan yang diprediksi akan colaps.


Saat sedang menandai perusahaan-perusahaan nakal yang hendak meninggalkan Narendra Group, matanya terpaku membaca tentang salah satu profil perusahaan yang merupakan milik sepupunya, Hamish. Ia tidak menyangka jika Hamish juga menjalin kemitraan dengan perusahaan milik Alan itu.


"Irene, kamu sudah makan?" tanya Alan. "Irene?" tanya Alan lagi.


"Ah! Kenapa, Kak?" tanya Irene yang baru saja tersadar dari lamunannya.


"Kamu kenapa?"

__ADS_1


"Memangnya aku kenapa?" tanya Irene balik.


"Kamu melamun? Tadi aku tanya kamu sudah makan atau belum tapi diam terus.";


"Ah, aku sudah makan, kok!" jawab Irene sembari menyunggingkan senyuman lebarnya.


"Ya sudah! Kalau begitu, aku belikan camilan saja sebentar. Kamu tunggu di sini saja!" pinta Alan seraya keluar dari ruangannya.


Irene menunggu sampai Alan benar-benar keluar dari sana. Ia masih keheranan melihat profil perusahaan Hamish ada di salah satu tumpukan dokumen itu. Sementara, Hamish masih berada di luar negeri untuk melakukan pemulihan lukanya.


Irene mengambil ponselnya menghubungi nomor sepupunya.


"Halo, Irene?"


"Halo, Kak. Apa kabar?" tanyanya basa-basi.


"Memangnya kenapa? Aku baik-baik saja."


Irene memutar malas bola matanya. Hamish selalu bicara seperti itu padahal kondisinya belum pulih total.


"Ada yang ingin aku tanyakan," ucap Irene.


"Apa?"


"Perusahaan Kakak bekerjasama dengan Narendra Group, ya?" tanyanya memastikan.


"Kok kamu bisa tahu?"


"Aku kan sudah pernah bilang, aku pernah magang di perusahaan itu. Pak Alan mantan atasanku!"


"Ah, Alan yang itu, ya? Aku tidak tahu kalau dia pimpinan Narendra Group. Tapi, kata sekertarisku perusahaannya sedang bermasalah. Sekertarisku berencana membatalkan kerjasama dengan Narendra Group."


"Terus, Kakak setuju?" tanya Irene.


"Ya. Memangnya kenapa?"


"Itu namanya kejam, Kak! Masa perusahaan mitra sedang kesulitan malah ditinggalkan ... Seharusnya Kak Hamish memberikan bantuan!" omel Irene.


"Hahaha ... Kenapa aku harus seperti itu? Memangnya aku lembaga sumbangan? Ini namanya bisnis, Irene ... Aku juga harus memikirkan kelangsungan perusahaanku sendiri."

__ADS_1


Mendengar jawaban tidak menyenangkan dari Hamish membuat Irene memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Ia bertekad dalam hati tidak akan membiarkan perusahaan keluarga Narendra bangkrut begitu saja.


__ADS_2