Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 215


__ADS_3

"Alfa ...."


Irene dan Alfa menoleh ke arah pintu masuk. Baru saja Sovia datang bersama seorang wanita dengan raut wajah yang tampak bahagia.


"Oh, kamu sudah datang, Sov? Naiklah ke lantai atas, biar asistenku yang akan mengambil ukuran serta mrmbahas model gaun yang kamu mau," kata Alfa.


Semalam memang Sovia menghubungi dirinya bahwa wanita itu akan kembali karena ingin membuat gaun pesta di butik Alfa.


"Iya, nanti aku ke atas. Tapi, sebelum itu, aku mau mengenalkan temanku dulu," kata Sovia seraya memeluk lengan wanita yang dibawanya. Mereka tampak akrab.


"Ini Felisha. Dia salah satu perancang busana yang pernah ikut acara fashion show tahun kemarin bareng kamu, Fa. Paling kamu juga agak lupa, tapi rancangannya menurutku bagus, loh!" puji Sovia.


"Halo, Alfa. Namaku Felisha. Sovia mengajakku ke sini karena katanya desainku hampir satu aliran dengan yang kamu miliki. Dia bilang mungkin saja kalau kita melakukan kolaborasi," ucap Felisha.


"Oh, ya. Senang bertemu denganmu." Alfa bersalaman dengan wanita yang Sovia bawa.


"Dia bisa membantu kamu membuatkan gaunku, Fa. Aku harap dia juga bisa ikut mengurus fashion show yang akan kamu lakukan nanti. Aku yakin keberadaannya nanti akan sangat membantu," kata Sovia meyakinkan.


Sekilas matanya melirik pada Irene. Bibirnya mengulaskan senyuman mengejek. Ia sengaja ingin mengalahkan Irene agar tidak menjadi pusat perhatian dan menonjol. Ia muak melihat Irene unggul di segala bidang, jauh di atasnya.


"Permintaanmu terlalu banyak, Sov," sindir Alfa. Sebenarnya ia sendiri tak terlalu suka dengan mantan kakaknya itu. Namun, tidak mungkin ia secara terang-terangan mengungkapkan kebenciannya.

__ADS_1


"Ini bukan permintaan, Fa. Aku berniat baik untuk membantumu," kilah Sovia. Ia terkesan sedikit memaksa.


Alfa memperhatikan sosok wanita bernama Felisha itu. Dari penampilannya, wanita itu terlihat anggun dan sederhana berbeda dengan Sovia.


"Baiklah, mungkin aku akan melihat kemampuannya dulu. Kalau memang sesuai dengan seleraku, akan aku rekrut menjadi asistenku," kata Alan.


Sovia dan Felisha saling berpandangan. Mereka tersenyum senang. Keduanya yakin bahwa Alfa akan menerima Felisha.


"Ayo ikut aku!" pinta Alfa.


Sovia dan Felisha mengikuti Alfa ke ruang kerja. Irene membuntuti Alfa di belakang. Ia ingin melihat apa yang akan mereka lakukan dari kejauhan.


"Oh, aku punya satu rancangan gaun yang menurutku istimewa dan spektakuler. Apa kamu mau melihatnya?" tanya Felisha.


Ia mengeluarkan buku desain miliknya dari dalam tas dan menunjukkannya kepasa Alfa. Buku itu berisi kumpulan desain yang pernah ia buat sendiri.


Alfa mengerutkan dahi saat melihat gambar rancangan gaun di halaman terakhir. "Ini desain buatanmu?" tanyanya memastikan.


"Iya, apa kamu tertarik?" tanya Felisha dengan antusias. "Ini desain yang sudah aku buat seminggu yang lalu," katanya.


"Benarkah?" Alfa tersenyum mengejek. Ia tak begitu percaya dengan ucapan wanita itu. "Sepertinya ini model yang pasaran. Aku pernah melihat rancangan sejenis yang benar-benar hampir sama. Jangan-jangan kamu mencontek desain orang, ya?" sindir Alfa.

__ADS_1


"Apa? Jangan asal menuduh! Aku susah payah membuat desain sebagus ini sendiri!" kilah Felisha.


"Fa, kamu jahat sekali menuduh temanku. Dia ini desainer, kerjanya profesional, mana mungkin mau meniru karya orang. Gila apa kamu?" Sovia membela temannya.


"Irene ... Cepat ke sini!" panggil Alfa.


Irene mendekat. Alfa memperlihatkan karya milik Felisha. Irene langsung mematung melihat desain yang kemarin dibuat bersama Alfa ternyata hampir sama dengan rancangan yang Felisha bawa.


"Coba jelaskan, Ren. Apa bukan kamu yang meniru milik Felisha?" tanya Alfa.


"Jangan konyol, Kak! Kita baru membuatnya kemarin," kilah Irene.


"Bisa saja kan kamu menyarankan sesuatu yang pernah kamu lihat di tempat orang," ujar Alfa.


Irene tak bisa berkata-kata seakan Alfa tak mempercayai ucapannya. "Ini jelas-jelas aku buat kemarin di sini, Kak!"


Irene mengambil rancangannya dan menyerahkan pada Alfa.


"Hah, kok kamu menyontek karyaku?" tanya Felisha terkejut.


"Aduh, ternyata kamu tukang plagiat? Pantas saja kayaknya mudah banget bikin rancangan baju," sindir Sovia. "Hati-hati kamu, Fa. Kalau sampai ada yang tahu, tempat kerjamu akan terkena imbas juga," katanya.

__ADS_1


__ADS_2