Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 295


__ADS_3

"Sendirian?" sapa Erika.


Lamunan Alex seketika lenyap saat melihat Erika ada di sana.


"Oh. Kamu, Eri." kata Alex.


Erika mendekat ke arah Alex. Ia turut berdiri di belakang pagar besi memandangi jalanan dari atas rooftop perusahaan.


"Nih!" Erika menyodorkan segelas kopi kepada Alex. Sebelum naik, ia sengaja membeli dua kopi karena tahu Alex ada di sana.


"Terima kasih." Alex menerim pemberian Erika dengan senang hati.


"Selamat datang kembali, ya!" ucap Erika.


Alex menyunggingkan senyuman kikuknya. Ia sungguh merasa bersalah kepada wanita yang kini berdiri di sampingnya.


Sudah lama mereka bersahabat. Ia tahu perasaan Erika terhadapnya. Wanita itu mencintai dirinya. Namun, sering kali ia mengabaikan dan pura-pura tidak peduli. Ia bahkan sempat bertunangan dengan wanita lain hanya demi melancarkan niatnya untuk mengalahkan Alan.


Hal berbeda Erika tunjukkan kepadanya. Meskipun ia telah banyak berbuat salah, Erika tetap berada di sisinya. Wanita itu seperti pura-pura tidak tahu tentang kesalahannya. Erika juga sering menjenguknya di tahanan tanpa membahas permasalahan yang sedang dihadapinya.


Erika memilih pindah ke perusahaan Narendra Grup demi tetap dekat dengan Alex. Namun, Alex sendiri yang sengaja menjauhkan diri dari orang-orang.


"Aku dengar kamu ditempatkan menjadi direktur operasional," ucap Erika.


Alex mengangguk. "Aku juga tidak tahu kalau Papa akan menempatkanku di sana."


"Itu cocok dengan bidang keahlianmu, Lex. Kita juga akan sering bertemu karena aku akan jadi sekertarismu. Mudah-mudahan kamu tidak akan muak nantinya," canda Erika.


Alex tertawa kecil. "Kenapa aku harus muak? Aku lebih senang bekerja dengan orang yang sudah aku kenal lama."

__ADS_1


Erika meneguk kopi di tangannya. "Kamu tenang saja, Lex. Aku tidak akan menjadi Erika yang suka mengganggumu seperti dulu," katanya.


Memang, dari gaya bicara Erika yang sekarang lebih terdengar elegan dari pada sebelumnya. Erika terlihat semakin dewasa secara pemikirannya.


"Kamu kenapa masih bertahan di sini? Bukankah Papamu sudah menginginkanmu untuk cepat kembali ke perusahaannya?" tanya Alex.


"Aku sudah terlanjur suka di sini. Papa juga sepertinya sudah menyerah merayuku. Sekarang aku bebas memilih kerja dimanapun," jawab Erika.


Pada awalnya Erika bekerja di sana memang karena Alex. Akan tetapi, Alex sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ketertarikannya kepada Erika. Bahkan Alex pernah mengatakan ia hanya tertarik dengan pekerjaannya.


"Bagaimana dengan Kak Alan?" tanya Erika.


Alex jadi teringat kembali kejadian di ruang rapat hari ini. "Mungkin seperti prediksimu. Kak Alan masih marah denganku," katanya.


"Bersabarlah, hati manusia bisa berubah. Asal kamu menunjukkan tekad untuk memperbaiki diri, aku rasa Kak Alan akan mudah untuk memaafkanmu."


"Keberadaanmu tidak akan sama seperti dulu, Lex. Banyak yang meragukanmu. Aku harap kamu bisa menghadapinya dengan lapang dada."


Alex mengangguk. "Aku sudah mempersiapkan batinku untuk menerima konsekuensi atas tindakanku. Apapun itu, akan aku lakukan untuk memperbaiki semuanya."


Erika merasa lega dengan rasa percaya diri yang tinggi yang Alex miliki. "Ternyata Pak Vito orang yang bijaksana. Bersyukurlah kamu memiliki ayah seperti dia."


Alex mengulaskan senyum. "Apa yang Papaku lakukan saat ini sebenarnya juga untuk menebus kesalahannya di masa lalu. Kamu tahu kan kalau aku ini anak haramnya dengan wanita lain," ujarnya.


"Alex! Kamu tidak boleh bicara seperti itu!" tegur Erika.


"Hahaha ... Maaf, aku keceplosan."


Keduanya kembali menikmati kopi sembari memandang suasana jalan di bawah sana.

__ADS_1


"Sudah lama kita tidak bersenang-senang ke klab malam. Apa malam ini kamu mau pergi denganku?" ajak Erika.


"Hei, sejak kapan kamu jadi suka main ke tempat seperti itu?" tanya Alex kaget.


"Hahaha ... Bukannya kamu yang dulu sering mengajakku ke sana?" ujar Erika.


Alex menoyor kepala Erika. "Ngawur! Aku mengajakmu ke sana sekedar untuk kepentingan bisnis, bukan untuk buang-buang waktu!" ketusnya.


"Hahaha ... Semenjak kamu sibuk dengan dirimu sendiri, aku tidak punya teman lagi. Makanya aku cari teman di sana," kata Erika.


Mata Erika tidak bisa berbohong. Ia tengah menyembunyikan kesedihan di balik tingkahnya yang pura-pura riang.


"Nanti malam akan ada acara makan malam di rumah. Apa kamu mau datang?" tanya Alex.


"Hm, dulu aku sangat takut datang ke sana karena ada kakek. Tapi, apa kalau sekarang aku datang itu tidak aneh? Kita kan tidak pacaran," sindir Erika.


Alex merasa apa yang Erika katakan ada benarnya. Selama ini orang mengira keduanya punya hubungan khusus saking dekatnya. Padahal, mereka hanya sebatas berteman saja.


"Tidak apa-apa, datang saja. Hanya makan malam biasa. Kamu juga sudah mengenal keluargaku," kata Alex.


"Eum, bisa coba aku pikirkan nanti. Kalau aku memang tidak ada acara, aku akan datang. Sekalian aku mau kenalan dengan mamamu," jawab Erika.


"Dia hanya ibu sambungku, bukan ibu kandungku," kata Alex mengingatkan.


"Iya, iya, aku tahu. Tapi, tetap saja kalian satu keluarga!" kilah Erika. "Ah, iya. Aku juga sudah lama tidak bertemu dengan Irene. Dia apa kabar, ya? Waktu dia menikah aku tidak sempat datang."


Saat itu Erika ada urusan ke luar negeri. Ia ketinggalan momen pernikah Irene yang pada akhirnya menikah dengan salah satu putra keluaega Narendra.


"Dia sekarang tinggal bersama Kak Alan setelah menikah. Makanya datang saja, aku rasa Irene juga akan datang. Maksudku kalau Kak Alan tidak melarangnya."

__ADS_1


__ADS_2