
"Kalau masih sakit, ijin dulu tidak perlu masuk kuliah," nasihat Alan yang tengah mengantarkan Irene ke kampus.
"Aku baik-baik saja, Kak. Sungguh," kata Irene. Ia membuka pintu samping mobil Alan lalu keluar dari dalamnya.
"Baiklah, nanti aku jemput pulangnya. Hati-hati dengan lukamu," kata Alan.
Irene mengangguk. Ia lantas berjalan meninggalkan Alan menuju ruang kelasnya.
Saat ia memasuki ruang kelas, sudah ada cukup banyak mahasiswa yang telah berada di kelas. Mereka terlihat tengah membicarakan sesuatu. Samar-samar, Irene mendengar mereka membicarakan tentang kehamilannya.
"Itu ya, orangnya?"
"Yang hamil, ya?"
"Sepertinya tidak mungkin, sih, tapi bisa saja terjadi. Kita kan tidak tahu seberapa liarnya kalau dia di luar."
"Mungkin juga dia buka jasa prostitusi."
"Sudah, sudah ... Nanti dia dengar!"
Irene merasa heran sampai ada pembahasan seperti itu tentang dirinya. Mereka juga terkesan menjaga jarak dengannya. Membuat ia tak merasa nyaman melalukan pembelajaran di kampus.
***
Hari-hari terus berganti. Gosip tentang kehamilannya belum juga mereda. Mereka masih menjaga jarak dengannya.
"Hoek! Hoek!"
Irene sengaja mengeluarkan suara seperti orang muntah saking kesalnya. Ia ingin membuat mereka semakin percaya dengan gosip yang beredar bahwa dirinya sedang hamil.
"Tuh kan, benar ... Aku yakin banget kalau dia hamil."
"Siapa ya, kira-kira ayah bayinya?"
"Aku dengar dia sudah bertunangan. Mungkin yang menghamili tunangannya sendiri."
"Duh, baru tunangan ya, belum juga menikah malah hamil duluan."
Pembahasan orang-orang tentang dirinya semakin menjadi-jadi. Irene menjadi orang yang paling dijauhi di kampusnya.
"Masih ada kuliah?"
Ares tiba-tiba datang dan duduk di samping Irene. Ia baru saja selesai perkuliahan dan sengaja mampir ke kelas Irene.
__ADS_1
"Ya, aku kuliah sampai sore," jawab Irene. "Kamu sendiri?"
"Kuliahku sudah selesai. Tapi nanti mau main basket. Sudah lama aku tidak kumpul dengan teman-temanku."
"Ya, kamu kan sibuk main game terus," ujar Irene.
"Kamu santai banget, ya?" tanya Ares.
Irene mengerutkan dahi. "Memangnya aku harus apa? Kuliah kan memang santai," katanya.
"Jangan bilang kamu belum tahu gosip dari kelasmu ini, ya!" sindir Ares.
"Ah, itu ...." Irene jadi tahu kalau gosip tentangnya juga sudah mnyebar ke kelas lain. Ia yakin satu fakultas pasti hampir tahu masalahnya. "Kamu sendiri bagaimana? Kamu percaya?" tanya Irene.
"Kamu sudah tidur dengan Kakakku?" celetuk Ares.
Irene sampai tertegun mendengarnya. "Gila kamu, ya!" Ia memukul keras lengan Ares.
"Kalau bukan dengan kakakku, lalu dengan siapa?"
Irene jadi gregetan dengan pertanyaan Ares yang mengada-ada. "Mana ada aku hamil, sialan!" bentaknya kesal.
"Masa, sih? Aku tidak percaya?" ledek Ares.
Irene melotot. "Pergi cepat dari sini! Kamu tidak merasa kalau merek sedang memperhatikan kita? Aku bisa saja bilang kalau kamu yang sudah menghamiliki, mati kamu!" ancam Irene dengan nada kesal.
Miranda mengintip dari balik pintu. Ia memperhatikan Irene dengan tatapan tidak suka yang semakin bertambah hari demi hari. Ia heran lelaki seperti Ares juga bisa dekat dengan orang jelek seperti Irene.
Miranda menyeringai. Ia berjalan menuju ruang kemahasiswaan menemui Bu Retno.
"Kenapa, Miranda?" tanya Bu Retno mempersilakan mahasiswi baru itu masuk.
"Ada yang mau saya laporkan, Bu," ucap Miranda.
"Apa itu? Ada yang mengganggumu di kampus ini?" tanya Bu Retno.
Miranda menggeleng. "Ada mahasiswi di kelas yang hamil, Bu," katanya.
"Hamil? Siapa?" Bu Retno cukup terkejut dengan laporan yang baru saja masuk.
"Irene, Bi," kata Miranda.
"Irene? Itu tidak mungkin," kata Bu Retno. Ia tahu seperti apa Irene di kampus, Irene juga pernah mendapatkan juara kompetisi antar mahasiswa. Irene terkenal sebagai salah satu mahasiswa yang cerdas di fakultasnya.
__ADS_1
"Kalau Ibu tidak percaya, tanya saja anak-anak satu jurusan. Dia sering mual-mual di kelas, Bu. Pokoknya Irene sudah jadi pembicaraan satu fakultas."
"Itu bukan bukti kuat, Miranda. Irene anak yang baik, mungkin dia hanya masuk angin makanya mual-mual."
Bu Retno terkesan tetap mempercayai Irene. Selama Irene berkuliah di sana, mahasiswinya itu tak pernah terlibat hal yang aneh-aneh. Bahkan keberadaannya sering kali memberikan dampak positif bagi mahasiswa lainnya.
"Saya yakin, Bu! Waktu di toilet saya juga pernah mendengar dia merintih di dalam kamar mandi. Lalu, saat keluar, ada bekas darah yang dibuang di tempat sampah. Mungkin saja dia baru menggugurkan kandungannya. Teman-teman yang lain juga menduga kalau Irene mungkin menjadi p3lacvr, Bu."
Bu Retno membulatkan mata. "Miranda, kamu harus berhati-hati dengan ucapanmu."
"Saya tidak akan membuat laporan kalau tidak punya bukti kuat, Bu. Waktu lomba lari kemarin dia juga pingsan. Orang hamil kan wajar kalau kekurangan tenaga. Apalagi kalau dia habis menggugurkan kandungannya."
Bu Retno menghea napas. "Baiklah, untuk meluruskan masalah, Irene akan aku panggil ke ruangan ini."
Bu Retno meminta salah satu staf kantor untuk memanggilkan Irene ke ruangannya. Lalu, ia kembali duduk bersama Miranda.
"Kalau Irene ketahuan hamil, Ibu akan mengeluarkannya dari kampus, kan?" tanya Miranda dengan percaya diri.
"Tentu saja, memang aturannya seperti itu. Mahasiswa yang ketahuan melakukan tindakan asusila yang bisa mencemarkan nama baik kampus akan langsung dikeluarkan. Apalagi Irene setahu Ibu belum menikah, tidak mungkin dia hamil."
"Diam-diam dia cukup akrab dengan teman lelaki, Bu. Ada Bian, Ares, Mario ... Saya pernah lihat mereka bicara dengan akrab."
"Setahu Ibu mereka hanya teman dekat.
"Banyak kok, Bu, orang yang hamil dengan teman dekatnya."
Bu Retno akhirnya terdiam. Miranda ternyata sangat kekeh dengan pendapatnya.
"Selamat siang, Bu. Ada perlu apa memanggil saya?" tak berselang lama Irene tiba di ruangan Bu Retno.
"Oh, Irene ... Masuklah!"
Irene melirik ke arah Miranda yang telah lebih dulu berada di sana. Ia akhirnya tahu siapa biang kerok yang sudah Menyebarkan berita tidak benar tentang dirinya. Irene duduk di sofa sebelah Miranda.
"Miranda menyampaikan keluhan dari teman-temanmu, Irene," kata Bu Retno.
"Keluhan tentang apa, Bu? Apa saya telah berbuat salah?" tanya Irene pura-pura tidak tahu.
"Katanya mereka melihat kalau kamu ada tanda-tanda hamil. Apa itu benar?"
Sudah Irene duga kalau masalahnya seputar hal itu. "Kok mereka bisa menuduh saya hamil, Bu. Saya tidak hamil," kilah Irene.
"Jangan mudah percaya, Bu dia pasti sudah menggugurkannya supaya tidak dikeluarkan dari kampus!" celetuk Miranda.
__ADS_1
Irene menatap tajam ke arah Miranda. Ia sama sekali tidak menyangka jika mulut mahasiswa baru itu sangat berbisa.
"Hati-hati dengan cara bicaramu, Miranda!" bentwk Irene.