
Irene menyunggingkan senyum saat membaca kabar berita di internet. Saham perusahaan Alan kemnali meningkat. Di sisi lain, lagu baru yang Arvy luncurkan tengah menempati kepopuleran nomor satu.
Ia lega bahwa masalah yang menimpa kedua lelaki yang sudah seperti keluarganya sendiri itu berangsur-angsur membaik. Alan bisa menunjukkan kemampuan memimpin perusahaan dengan baik. Arvy juga mampu menunjukkan bakatnya di bidang tarik suara yang semula diragukan oleh banyak pihak dan dituduh aji mumpung.
"Ren! Dengerin lagu baru Arvy deh!" ucap Bian dengan girang saat ia menemukan Irene sedang duduk di bangku ruang perkuliahan.
Tanpa menunggu persetujuan Irene, Bian memasangkan salah satu kabel headset ke telinga Irene, sementara yang satu tetap terpasang di telinganya. Ia naikkan sedikit volume ponsel agar lagu lebih jelas didengar.
Musik mulai berputar. Irene mendengarkan lagu yang dibawakan Arvy. Suara lelaki itu terdengar lembut. Lagu yang berkisah tentang cinta itu sukses dibawakan Arvy dengan baik. Pesan yang ingin disampaikan lewat lagu itu berhasil sampai ke hati pendengarnya.
Irene merasa terharu seperti seorang ibu terhadap anaknya yang berhasil melakukan sesuatu yang besar. Ia bangga Arvy bisa melewatinya dengan baik. Meskipun awalnya ia cukup khawatir Arvy akan putus asa, ternyata lelaki itu mampu membuat keadaan jauh lebih baik.
"Ah, lagunya enak banget. Dengerin ini jadi pengin pacaran," ucap Irene.
Lagu yang Arvy bawakan benar-benar di luar ekspektasinya. Ia memang membantu sebagian karya tersebut. Namun, Arvy memberikan sentuhan yang istimewa hingga mampu menghasilkan lagu-lagu sebagus itu.
"Benar, Kan? Arvy memang berpotensi sebagai penyanyi. Orang-orang yang pernah meragukan kemampuannya, aku yakin juga akan terbawa virus viralnya lagu ini. Beruntung aku sudah pernah bertemu Arvy. Ke depannya, pasti dia akan lebih sulit ditemui."
"Sebelum ini fans dia juga sudah banyak," ucap Irene.
"Ya, itu jelas. Siapa yang nggak suka lelaki good looking?"
"Memangnya kamu juga suka?" tanya Irene pada Bian.
Bian terdiam sesaat sembari mencoba mencerna pertanyaan Irene. Dari raut wajah wanita itu, ia tahu Irene sedang berpikir yang aneh-aneh.
Puk!
Bian memukul ringan kepala Irene. "Aku suka karyanya, ya! Kamu pikir aku melenceng? Otakmu sungguh tidak warah!" omel Bian.
"Heh! Siapa yang sedang menuduhmu, sih?" Irene memegangi kepalanya yang agak sakit.
"Dari mimik wajahmu sudah kelihatan kalau tujuanmu ingin meledekku!"
"Hehehe ... Ampun, aku tidak begitu, kok!" ucap Irene sambil meringis.
"Kalau cewek suka idol cewek nggak dikira lesbi, giliran cowok suka idol cowok dianggap tidak wajar!"
__ADS_1
"Sori, Bi. Bercanda! Kamu kan sukanya sama ...."
Reflek Bian membungkam mulut Irene dengan tangannya saat orang-orang mulai masuk ke ruang perkuliahan mereka. "Jangan bicarakan apapun tentang hal itu!" tegasnya sebelum melepaskan tangannya dari mulut Irene.
"Kalau didengar-dengar, gaya lagu Arvy yang ini mirip dengan Hyena, ya?" kata salah seorang mahasiswi.
Ternyata mereka juga tengah memperbincangkan lagu-lagu baru Arvy.
"Kenapa kamu bilang begitu?" tanya mahasiswi lainnya.
Irene dan Bian terdiam seketika. Mereka fokus mendengarkan perbincangan teman sekelasnya.
"Kalau kamu sudah lama mengikuti Hyena, kamu pasti bakalan tahu, deh. Dia itu suaranya lembut. Syair lagunya tentang cinta dan kebahagiaan dengan tempo yang sedang."
"Jadi, kamu pikir Arvy menjiplak karya Hyena?" tanya mahasiswi yang lain.
"Aku tidak bilang menjiplak. Hanya saja, feel-nya hampir sama dengan karya Hyena."
"Tapi, mungkin saja dia menjiplak. Hyena kan juga banyak penggemarnya."
Mendengar komentar ngawur dari salah satu orang itu, Bian yang merupakan fans Arvy garis keras, merasa cukup gerah. Ia yang hendak berdiri dan memaki-maki ditahan oleh Irene.
"Berbakat apa? Mungkin juga dia beli lagu dari orang lalu diaku sebagai karyanya sendiri."
"Tidak mungkin. Arvy juga sudah terkenal sebelum lagu ini keluar."
"Itu karena dia tampan saja."
"Selamat siang, rekan-rekan!"
Sapaan dosen membuat suasana hening seketika. Para mahasiswi yang awalnya semangat bergosip langsung terdiam saat sang dosen memasuki ruangan.
***
"Masuk, Ren!" pinta Ares seraya membukakan pintu untuk Irene.
Irene yang sudah cukup lama berdiri di depan gerbang kampus akhirnya merasa lega bisa masuk ke dalam mobil Ares yang sejuk. Dengan nyamannya ia bersandar pada jok dan memasang sabuk pengaman. Seperti biasa, jika giliran Ares menjemput, ia pasti akan dibiarkan kelelahan dulu saat menunggu.
__ADS_1
"Hebat ya, kamu! Sudah sering bolos kuliah tapi nilai tetap stabil di peringkat pertama mahasiswa kesayangan semua dosen," gumam Ares sembari mengemudikan mobilnya.
"Lalu aku harus bagaimana? Itu juga bukan setinganku, melainkan murni kesadaran hati dosen untuk memberikan nilai sempurna untuk mahasiswanya yang cerdas ini. Kamu iri, ya?" jawab Irene ketus.
"Cih!" Ares agak menyesal memberi kesempatan Irene untuk sombong terhadapnya. "Bagaimana caramu bisa meningkatkan nilai dan mempertahankan peringkat?" tanyanya.
Irene melirik ke arah Ares. Ia baru sadar jika lelaki itu masih mengenakan setelan jas dan kemeja kerja. Tebakannya, Ares tidak masuk kampus untuk mengurus masalah perusahaan.
"Kamu dari kantor?" tanya Irene balik.
"Ya iyalah, masa penampilan begini kamu kira baru pulang dugem apa?" Ares tertawa mendengar pertanyaan Irene.
"Bukannya ini belum jam pulang kantor?"
"Ya, nanti aku balik lagi ke kantor setelah mengantarmu pulang. Soalnya ada lembur kata Kak Alan."
"Hebat, ya! Biang rusuh ini bisa juga bertanggung jawab pada pekerjaan," ucap Irene.
Ares yang dulu memang tidak pernah punya tujuan ataupun cita-cita. Ia merasa telah terlahir sebagai anak orang kaya, tidak perlu berusaha keras untuk bekerja. Semakin dewasa, ia semakin menyadari bahwa mempertahankan apa yang telah orang tua mereka tinggalkan lebih sulit dari pada meraihnya.
"Setelah kejadian kemarin, aku jadi kasihan pada Kak Alan. Kalau aku tidak membantu, dia akan berjuang sendirian."
Ucapan Ares kini terdengar seperti seorang lelaki dewasa.
"Waktu mainmu jadi tidak ada ya, Res!"
"Hah! Jangankan main, kuliah saja jarang cari waktunya. Makanya aku mau tahu, bagaimana caramu mengatur kuliah dengan baik meskipun jarang masuk?"
"Makanya kerjakan tugas dosen dengan benar! Kalau bisa kalahkan nilai anak-anak yang sering masuk kuliah. Dosen pasti otomatis sayang."
"Bagaimana kalau kamu yang bantu aku kerjain tugas-tugas? Nanti aku bayar." Ares mencoba merayu Irene.
Puk!
Irene memukul kepala Ares. "Kerjakan sendiri! Kalau belajar bareng aku mau, kalau mengerjakan punyamu, nanti aku dihukum pak Budiman. Dia sudah hafal tata bahasaku," kata Irene.
"Masalahnya, pekerjaan kantor juga masih cukup banyak. Aku bingung cari waktu. Pusing juga gara-gara kelakuan Kak Alex."
__ADS_1
"Aku kan juga ikut membantu di perusahaan, tapi aku tetap bisa mengerjakan tugas dengan baik."
"Membantu apa? Membantu tidur?" sindir Ares.