Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 71: Irene Sakit


__ADS_3

"Kamu jadi jarang banget kerja di perusahaan gara-gara sibuk di kampus. Nanti aku pecat jangan marah, ya!" gurau Alex.


"Memangnya Kak Alex bisa memecatku, ya? Nanti aku adukan kepada Kakek atau Kak Alan!" ancam Irene.


"Wah, sekarang ada yang merasa sudah punya pendukung, ya ...." Alex mencubit keras pipi Irene hingga wanita itu mengaduh. Alex sangat menjahili Irene yang kini semakin percaya diri dan bisa berbaur dengan lingkungan. Ia masih ingat pertama kali mereka bertemu, ia kasihan dengan Irene. Ia kira wanita itu tidak akan bisa bertahan dengan saudara-saudaranya yang lain.


"Habis ini mau apa?" tanya Alex sembari terus mengimbangi langkah Irene.


"Aku mau istitahat saja di kamar. Capek!"


"Sudah lama kayaknya kita nggak jalan-jalan. Biasanya kamu maksa aku buat traktir makan. Mentang-mentang sudah punya uang sendiri, kan?"


Irene tersenyum lebar. Uang yang dimilikinya memang lumayan banyak dari hasil lomba dan kerja sampingan. Uangnya juga selalu utuh karena Narendra bersaudara yang biasanya membayar apa yang dibelinya.


"Kamu kalau punya uang sendiri nggak ingat Kak Alex, ya!" Alex menjitak pelan kepala Irene.


"Kapan-kapan aku ajak makan di restoran mahal, Kak. Tenang saja."


Keduanya baru pulang dari kantor. Irene tidak bekerja setiap hari di kantor, hanya sesekali saja jika sempat. Berbeda dengan Ares yang sekarang sedang menjalani masa pembimbingan agar lebih pandai dalam mengelola perusahaan.


Ting!


Pintu lift rumah terbuka. Alex dan Irene masuk ke dalam. Belum lama setelah pintu tertutup, Alex tidak bisa menekan tombol ke lantai atas. Ia terus mencoba menekannya.


"Kenapa ini? Apa lift-nya mati?" tanya Alex.


"Biar aku coba, Kak!" Irene turun mencoba menekan tombol lift. Sama selali tidak ada reaksi. Ia semakin merasa panik.


Kepanikannya bertambah saat lampu di dalam lift ikut mati. Tubuhnya serasa gemetar dan menggigil. Ia tak kuat berdiri dan langsung meringkuk di sudut lift.


Telinganya serasa berdengung serta ruangan di sekitarnya menjadi semakin sempit dan menghimpit. Denyut jantungnya berdebar kencang hingga rasanya ia kesulitan bernapas.


"Irene, kamu tidak apa-apa?" Alex menyalakan lampu ponselnya. Ia sangat cemas melihat kondisi Irene yang seperti ketakutan dan sesak napas. Ia coba merengkuh tubuh Irene ke dalam pelukannya. "Jangan takut, aku ada di sini." Udaha Alex untuk menenangkannya tidak berhasil. Irene masih tetap menggigil sembari menutupi telinganya yang terus berdengung.


"Tolong! Siapa saja di luar tolong! Lift di dalam mati! Irene sakit!" teriak Alex.

__ADS_1


Alan yang berada tak jauh dari arah lift langsung mendekat. Ia mencoba menekan tombol lift dari luar. "Kenapa di dalam, Alex!" serunya ikut panik.


"Sepertinya Irene mengalami claustrophobia, Kak! Cari orang untuk memperbaiki lift!" teriak Alex dari arah dalam.


Alan langsung berlari panik ke arah belakang memanggil pekerja yang biasa mengurusi kerusakan di rumah. Pak Jalil yang sedang asyik bermain catur langsung ia tarik untul ikut ke dalam rumah. Beberapa pekerja yang ikut panik turut membuntuti mereka. Setelah diutak-atik selama beberapa saat, akhirnya pintu lift berhasil terbuka.


Irene sudah dalam kondisi pingsan di pangkuan Alex. Segera Alan mengambil Irene dan menggendongnya.


"Pak Hadi! Cepat nyalakan mobil! Kita bawa Irene ke rumah sakit!" perintahnya sembari berlari terburu-buru membawa Irene.


"Baik, Tuan Muda." Pak Hadi ikut-ikutan berlari ke arah depan.


"Kak! Biar aku ikut temani ke rumah sakit!" ucap Alex.


"Tidak usah! Irene jadi seperti ini gara-gara kamu! Jangan lagi-lagi kamu usil dengan Irene!"


Alex berhenti melangkah. Ia tercengang mendengar Alan memarahinya. Ini pertama kalinya Alan tampak begitu marah padanya. "Kok jadi aku yang dimarahi? Memangnya aku kenapa? Kan lift-nya yang rusak," gumamnya.


Sedikit membingungkan untuk Alex melihat Alan yang sekarang sangat peduli kepada Irene. Padahal sebelumnya kakaknya itu adalah orang yang paling tidak peduli dengan wanita itu.


Sementara, Alan langsung membawa Irene ke rumah sakit menjumpai dokter yang telah ditelepon dalam perjalanan. Sang dokter segera memberikan semacam obat penenang atau anti depresi untuk mengurangi rasa takut yang Irene alami.


"Phobia semacam ini belum diketahui jelas apa penyebabnya. Bisa dimungkinkan pernah mengalami trauma atau kejadian buruk di masa lalu dengan ruangan sempit. Hanya pasien yang tahu apa penyebabnya."


"Bagaimana cara menyembuhkannya?"


"Itu terantung dengan kemauan pasien juga. Ada banyak pilihan terapi yang bisa dipilih. Tapi, kunci keberhasilan utama tatap pada kemauan pasien sendiri untuk sembuh."


"Apa tidak ada obatnya?"


"Obat anti depresi atau anti cemas hanya untuk membuat rileks pasien saja, tidak bisa menyembuhkan. Intinya kalau phobia-nya kambuh, orang terdekat yang harus berusaha membuatnya tenang. Karena biasanya mereka mengalami kesulitan napas mendadak."


Alan menoleh ke arah Irene yang masih terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang. "Kapan kira-kira dia sadar, Dokter?"


"Mungkin sebentar lagi. Atau paling lambat besok. Dia perlu mengistirahatkan tubunnya untuk mengatasi syok yang dialami."

__ADS_1


***


"Irene, sarapan dulu!"


Irene berlari keluar tanpa memakan sarapannya saat berangkat kuliah. Lagi-lagi Alan diabaikan.


"Irene, kamu ...."


Belum sempat Alan selesai bicara, Irene sudah lebih dulu berlari masuk ke dalam kamar, pura-pura tak mendengar panggilan Alan.


Beberapa hari ini Irene memang bersikap aneh kepada Alan. Meskipun mereka satu rumah, tapi Irene terkesan selalu menghindari Alan. Membuat lelaki itu keheranan, memikirkan kesalahan apa yang telah dia lakukan sampai Irene terus menghindarinya. Padahal ia orang yang paling khawatir saat Irene terkena claustrophobia.


Alan bersandar pada dinding kamar Irene. Ia masih heran dengan sikap Irene yang aneh padanya. Ia jadi benar-benar yakin saat masih di Jakarta pasti ia telah melakukan sesuatu yang tidak ia ingat karena mabuk.


Klek!


Kamar Irene terbuka. Alan langsung bersembunyi karena takut Irene akan menghindarinya lagi. Benar saja, wanita itu melihat-lihat kondisi sekitar sebelum keluar kamar. Setelah dirasa aman, ia baru menghela napas dan berjalan keluar dari kamarnya.


Sebelum menuruni tangga, Alan sigap menarik tangan Irene, membawanya masuk ke dalam kamarnya. Ia mengunci pintu, mereka hanya berdua di dalam kamar. Irene terlihat panik. Rasanya canggung menghadapi Alan.


"Ada apa ya, Kak? Aku mau makan di bawah ...." Irene tersenyum kaku. Ia memundurkan langkah setiap kali Alan melangkah maju. Perasaan Irene dag dig dug tidak karuan. Hingga punggungnya akhirnya menyentuh tembok, Alan menahannya dengan tangan sembari memberikan tatapan tajam.


"Kenapa sih?" Irene pura-pura tidak tahu.


"Jangan pura-pura ... kamu beberapa hari ini berusaha menjauhiku, kan?" tanyanya. Posisi Alan yang sangat dekat membuatnya semakin merasa grogi. Apalagi melihat bibir yang pernah menciumnya itu, ia jadi ingin langsung kabur takut dicium lagi.


'Ini otak kenapa kotor sekali sih!' gerutu Irene dalam hati. Di dalam dirinya seakan ada dorongan untuk merasakan ciuman itu lagi. Ia merasa dirinya tidak waras.


"Nggak kok, Kak. Mungkin itu hanya perasaan Kak Alan saja. Aku biasa-biasa saja, kok," kilah Irene.


Alan tidak percaya. Ia semakin mendekatkan wajahnya hingga jarak keduanya semakin terkikis. "Katakan, apa yang sudah aku lakukan di Jakarta saat aku mabuk? Apa aku berkata yang aneh-aneh?" tanya Alan.


"Tidak, tidak terjadi apa-apa." Irene menjawab dengan gugup.


"Atau aku tidak sengaja menciummu?"

__ADS_1


Irene menelan ludahnya. Alan tidak boleh tahu karena ia juga akan ikut malu. "Kak Alan bicara apa, sih? Sudah aku bilang tidak terjadi apa-apa, kan? Dasar aneh!"


Irene menepis paksa tangan Alan kemudian langsung berlari keluar meninggalkan kamar Alan.


__ADS_2