
Irene dan Alan tiba di Blue Lagoon, sebuah surga tersembunyi di Oludeniz, Turki. Mereka berdua takjub melihat pemandangan yang memukau. Air laut yang jernih dan berkilauan, pasir putih yang lembut, serta latar belakang pegunungan yang hijau membentuk panorama yang menakjubkan.
"Kak, kita akhirnya benar-benar sampai di sini," kata Irene dengan takjub. Meskipun ini kali kedua ia berada di sana, namun tetap saja terpukau dengan keindahannya.
Setelah perjalanan yang cukup panjang, menikmati pemandangan seindah itu rasanya tak ada ruginya.
Mereka melepas sepatu mereka dan merasakan pasir yang lembut di bawah kakinya saat mereka berjalan menuju pinggir air. Ketika mereka mencapai tepi pantai, mereka melihat perahu-perahu berwarna-warni berlayar di atas air biru yang tenang. Beberapa turis lain juga bersantai di pinggir pantai atau berenang di air yang menggoda.
"Mau berenang?" ajak Irene.
Alan tersenyum. "Tentu saja, sayang."
Irene lebih dulu berdari dan melompat ke dalam air. Disusul kemudian oleh Alan yang turut mengejar istri tercintanya. Air di sana sangat segar dan menyegarkan ketika menyentuh kulit.
Keduanya berenang beriringan di dalam laguna. Sesekali mereka menyelam menikmati keindahan terumbu karang dan ikan-ikan berwarna-warni menambah keindahan di bawah permukaan laut.
"Kak, tadi di bawah banyak yang menyelam, ya?" tanya Irene.
"Iya. Apa kamu juga mau menyelam?"
Irene menggeleng. "Kita berenang saja. Aku malas memakai perlengkapan menyelam," katanya. "Ayo kita berenang sampai ke sana! Yang menang boleh minta apa saja, yang kalah dapat hukuman!" tantang Irene seraya menunjuk ke arah sebuah batu yang menjadi titik finish mereka.
"Oke." tanpa berpikir panjang, Alan langsung mengiyakan.
Keduanya kembali menceburkan diri ke dalam air. Dengan kemampuan berenang yang dimiliki masing-masing, mereka berkompetisi untuk menjadi pemenang.
Irene yang sebelumnya tidak bisa berenang, kini menjadi sangat lincah dan tidak mau kalah dengan suaminya.
"Yeay! Aku memang!" seru Alan semangat.
__ADS_1
Dilihatnya sang istri yang cemberut karena kalah. Namun, Alan tak mau mengalah. Ia ingin mendapatkan hadiah bagi pemenang lomba itu.
Irene menghela napas. Ia tahu sudah kalah jadi harus memenuhi permintaan pemenang. "Jadi, Kak Alan minta apa?" tanyanya.
Alan tampak berpikir sejenak. Ia tidak mau rugi untuk mendapatkan hadiahnya. Setelah menemukan ide, ia menyeringai.
Irene merasakan hal yang tidak enak. "Jangan minta aneh-aneh," katanya mengingatkan.
Alan senyum-senyum. "Yang kalah tidak boleh protes. Kalau protes namanya pecundang," ucapnya.
"Iya, iya, aku kan orangnya sportif."
Alan kembali tersenyum. "Bagaimana kalau kita bercinta di sini?"
Irene membulatkan matanya. "Kak Alan ... Tuh, kan ... Aneh-aneh! Gila, ya! Banyak orang!" ucapnya dengan nada tinggi.
Alan langsung menutup mulut Irene. "Pelan-pelan bicaranya, Sayang, nanti banyak yang dengar," katanya."
Alan melihat sekeliling. Tempat mereka berada cukup jauh dari keramaian. Bahkan, di sana hanya ada mereka berdua. "Sayang, di balik batu nggak bakal kelihatan. Orang-orang kan ada di sisi sana. Sekali-kali kita coba bercinta dengan suasana baru di tempat yang indah ini," bujuknya.
"Tidak, tidak, aku tidak setuju." Irene tetap menolak ide gila itu.
"Ingat, yang kalah tidak boleh menolak. Namanya curang," kata Alan.
Irene memandangi suaminya yang sekarang punya hobi baru untuk membuatnya kesal.
Alan mendekatkan wajahnya ke arah Irene yang bersandar pada sebuah batu karang besar. Ia angkat dagu sang istri seraya memandangi wajah kesal dan menggemaskan itu.
"Help ... Help...."
__ADS_1
Belum sempat Alan mengecup bibir Irene, terdengar suara teriakan minta tolong yang membuat mereka terkejut. Keduanya celingukan mencari asal suara minta tolong itu.
"Help ... Help ...."
Suara histeris meminta tolong itu akhirnya diketahui sumbernya. Seorang ibu tengah berdiri di tepi laut tak jauh dari posisi mereka. Segera keduanya berlari menghampiri wanita tersebut.
"What happened?" tanya Irene.
"Miss, help me! My son is drowning!" kata ibu itu dengan nada bicara yang gemetar sembari menangis.
Irene dan Alan mengarahkan pandangan ke arah laut. Samar-samar terlihat orang di tengah lautan. Tanpa menunggu lama, keduanya berlari menuju ke laut dan berenang mendekati anak yang hampir tenggelam itu.
Anak itu masih berusaha untuk muncul ke peemukaan meskipun terus timbul tenggelam. Sebelum anak itu kehilangan kesadaran, Alan dan Irene berhasil meraihnya dan membawa anak tersebut menuju ke daratan.
Setibanya di daratan, tampak sudah banyak orang yang berkerumun karena penasaran. Anak itu pingsan. Ibunya berteriak dan menangis histeris saking khawatirnya terhadap anak tersebut.
"Kak, sepertinya dia terlalu banyak meminum air laut!" kata Irene.
Alan maju memberikan pertolongan. Ia menekan bagian dada anak laki-laki tersebut dalam hitungan yang konsisten.
"Uhuk! Uhuk!"
Atas usaha yang Alan lakukan, akhirnya anak tersebut sadar dan memuntahkan air yang ditelannya. Orang-orang yang ada di sana turut merasa lega melihat anak tersebut sadar.
"Mommy," kata anak laki-laki itu. Ia langsung menangis.
Sang ibu berlari seraya memeluk sang anak. Mereka saling berpelukan dan menangis saking bahagianya.
Alan dan Irene tersenyum.
__ADS_1
"We will take this child to the hospital," kata salah seorang petugas kesehatan yang ada di sana.
Alan mengangguk mempersilakan tenaga medis untuk melanjutkan tugas. Sebelum pergi, ibu anak itu mengucapkan terima kasih atas pertolongan yang Alan dan Irene berikan.