
Alberto masuk ke kamar Hamish di rumah sakit dan melihat Irene duduk di samping tempat tidur Hamish. Dia menghampiri Irene dan duduk di sebelahnya.
"Irene, bagaimana keadaan Hamish?" tanya Alberto.
"Ayah Angkat, Kak Hamish masih belum sadar setelah operasi. Dia tertembak bagian dadanya," jawab Irene sambil menangis pelan. Ia memeluk Alberto seperti seorang anak yang tengah mengadu kepada ayahnya.
Alberto meletakkan tangannya di atas bahu Irene dan berkata, "Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja." ia mengusap air mata yang mengalir di pipi Irene. Anak remaja yang dulu sangat menyusahkannya kini telah tumbuh menjadi wanita dewasa namun lebih cengeng.
Alan membuka pintu kamar dengan hati-hati, diikuti oleh seorang dokter yang memberi kabar tentang kondisi Hamish. "Bagaimana kondisi Hamish, dok?" tanya Irene cemas.
"Kondisinya mulai stabil, Nona," jawab dokter dengan senyum lega. "Namun, ia masih harus dirawat di sini untuk beberapa hari ke depan sampai kondisinya benar-benar pulih."
Irene dan Alberto merasa sangat lega mendengar kabar baik itu. "Terima kasih banyak, dokter," ucap Irene sambil menghela nafas lega.
"Baiklah, saya akan tinggalkan kalian untuk beristirahat," kata dokter sambil melangkah menuju pintu. "Jangan khawatir, saya akan memastikan Hamish mendapatkan perawatan yang terbaik."
Setelah dokter pergi, Alberto berbalik kepada Irene dan Alan. "Kalian berdua pasti sudah lelah," kata Alberto. "Kalian harus pulang dan beristirahat. Aku sudah memesankan kamar hotel di dekat sini."
"Terima kasih, Ayah Angkat," jawab Irene dengan lembut. "Tapi, aku jadi tidak enak membiarkan Ayah Angkat merawat Kak Hamish sendirian di sini."
"Tenang saja, aku punya banyak anak buah untuk membantu merawat pasien yang sakit," jawab Alberto dengan senyum. "Kalian berdua harus pulang dan beristirahat. Aku akan mengurus semuanya di sini."
Alan dan Irene mengangguk, merasa lega bahwa Hamish akan dirawat oleh ayah angkat Irene yang terpercaya. Mereka pun berpamitan dengan Alberto dan meninggalkan rumah sakit untuk kembali ke hotel dan beristirahat.
"Ah, iya! Aku hampir lupa." ucapan Alberto menghentikan langkah kaki Irene dan Alan.
"Aku harus memberitahu kalian tentang sesuatu yang penting," ujarnya serius.
__ADS_1
Irene dan Alan yang penasaran pun menatap Alberto dengan penuh perhatian.
"Aku telah menemui Pendeta Gabriel dan membicarakan tentang pernikahan yang terjadi antara Irene dengan Hamish."
Irene tertunduk lesu mendengarkan topik yang akan ayah angkatnya bahas. Bagaimanapun juga, ia benar-benar sudah melewati prosesi pernikahan itu walau terpaksa. Sebelum Hamish tak sadarkan diri, mereka juga masih sempat meributkan tentang masalah itu. Ia takut Alan tidak bisa menerimanya.
Alan menggenggam erat tangan Irene. Apapun yang terjadi, ia bertekad untuk mempertahankan Irene di sisinya.
"Pernikahan itu dinyatakan tidak sah atau resmi dibatalkan secara agama karena ada unsur paksaan dari pihak Hamish," jelas Alberto.
Irene dan Alan saling pandang dengan rasa lega.
"Pendeta Gabriel tidak tahu kalau salah satu mempelai berada di bawah ancaman. Jadi, sudah ditetapkan bahwa pernikahan itu dianggap tidak pernah terjadi," kata Alberto.
"Irene, sekarang kau dan Alan bisa melanjutkan hidupmu bersama dengan damai dan tenang. Kalian tidak perlu merasa bersalah atau khawatir lagi," imbuh Alberto.
Alberto memeluk Irene erat. "Kamu adalah putriku. Aku selalu akan melindungi dan membantumu." ia terlihat sangat menyayangi Irene.
"Terima kasih atas segalanya, Ayah," ucap Irene sambil memeluk Alberto. Ingin rasanya ia mengucapkan terima kasih puluhan kali saking bahagianya.
"Kalian berdua hati-hati di perjalanan pulang. Jangan khawatirkan Hamish, aku akan merawatnya dengan baik," ucap Alberto sambil tersenyum.
Irene dan Alan pun mengucapkan terima kasih lagi sebelum akhirnya meninggalkan rumah sakit dengan perasaan lega dan bahagia. Mereka kini bisa melanjutkan hidup bersama tanpa beban dan rasa bersalah.
***
Setelah mengurus semua urusan terkait kondisi Hamish, Irene dan Alan memutuskan untuk menginap di sebuah hotel di kota Paris. Keduanya merasa letih dan butuh istirahat setelah mengalami peristiwa yang cukup dramatis.
__ADS_1
Malam itu, mereka menghabiskan waktu dengan duduk-duduk di balkon hotel yang menghadap ke Eiffel Tower yang indah. Suasana malam yang romantis membuat mereka semakin dekat dan mesra. Irene merasa bahagia bisa berada bersama Alan, orang yang dicintainya selama ini.
"Sudah lama aku tidak merasakan momen seperti ini," kata Irene sambil tersenyum.
"Apapun yang terjadi, aku akan selalu ada untukmu," jawab Alan sambil membelai rambut Irene.
Mereka lalu beralih membicarakan rencana masa depan mereka, seperti liburan bersama dan mengejar impian mereka. Irene merasa senang bisa membicarakan hal-hal yang positif dengan Alan setelah melewati masa-masa sulit.
"Kita harus merayakan momen ini," kata Alan. "Mungkin kita bisa pergi berlibur bersama nanti setelah semuanya selesai."
Irene tersenyum setuju, "Iya, itu akan sangat menyenangkan."
"Kita bisa memulai usaha sendiri, atau menjelajahi dunia bersama," kata Alan.
Irene setuju dan merasa senang bisa berbicara tentang hal-hal yang positif setelah melewati masa-masa sulit.
"Sekarang kita harus fokus pada masa depan kita," kata Irene. "Kita harus membangun kebahagiaan kita sendiri." Alan mengangguk dan menarik Irene untuk memeluknya.
"Sekarang aku merasa semua akan baik-baik saja," kata Irene sambil memandang Alan.
"Kamu tahu kenapa?" tanya Alan sambil menatap Irene.
"Kenapa?" balas Irene.
"Karena aku mencintaimu," jawab Alan dengan tulus.
Irene merasa hatinya meleleh mendengar perkataan Alan. Keduanya lalu saling berpelukan dan mencium satu sama lain, merayakan momen bahagia mereka. Mereka berjanji akan selalu saling mendukung dan bahagia bersama.
__ADS_1
Mereka berdua menikmati malam yang tenang dan romantis. Irene merasa sangat bersyukur karena memiliki Alan yang selalu mendukung dan mencintainya. Mereka berjanji untuk saling mendukung dan bertahan satu sama lain di dalam kehidupan mereka yang baru.