Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 35: Anak Hilang


__ADS_3

Alan baru saja keluar dari restoran ketika matanya tiba-tiba menangkap sosok yang tidak asing baginya. Beberapa kali ia menyipitkan mata untuk memastikan bahwa ia tidak salah lihat. Irene sedang bersama seorang anak kecil di area taman depan restorannya. Tampaknya anak kecil itu sedang menangis sementara Irene berusaha menenangkannya.


Saking penasaran dengan apa yang terjadi, Alan mendekat ke arah Irene. "Kenapa dia?" tanyanya.


Irene kaget melihat Alan ada di dekatnya. "Ah, ini Kak ... dia jatuh. Orang tuanya juga hilang. Mungkin karena terlalu asyik main sampai terpisah dari orang tuanya."


"Papa ... Mama ... huhuhu ...." Anak kecil yang berusia sekitar 4 tahun itu terus menangis mencari kedua orang tuanya. Luka di lututnya sudah ditutup dengan plester.


"Siapa namamu?" tanya Alan dengan nada selembut mungkin.


Melihat wajah Alan, anak kecil itu justru ketakutan. Ia langsung berlari mendekat Irene dan bersembunyi. Pelan-pelan ia mengintip Alan sembari terus berpegangan erat pada Irene.


"Dia kenapa?" tanya Alan mengerutkan dahi.


"Sepertinya dia takut dengan Kak Alan," jawab Irene. Ia senyum-senyum sendiri melihat polah anak yang baru saja ditolongnya.


"Takut? Memangnya wajahku menyeramkan?" Alan heran ada yang takut dengannya. Padahal, dengan wajahnya itu ada banyak wanita yang dibuat terpesona olehnya. Dia juga merasa tak pernah marah-marah atau bersikap galak kepada orang lain. Aneh kalau sampai ada yang takut dengannya.


Menurut Irene, orang yang pendiam seperti Alan memang menyeramkan. Wajahnya selalu tampak serius dan tegas. Apalagi ditambah dengan brewok yang memenuhi wajahnya, membuat ia semakin kelihatan seram untuk anak kecil.


"Vino, kita cari Papa Mamamu sama-sama, ya. Jangan menangis lagi," bujuk Irene.


Anak itu mengangguk. Irene menggendong anak itu dan berdiri dari tempatnya.


"Kita cari orang tuanya kemana ya, Kak? Apa mereka ada di dalam restoranmu?"


"Aku rasa tidak. Aku baru saja keluar, tidak ada orang tua yang melapor kehilangan anak."


Keduanya saling mengarahkan pandangan ke sekeliling berusaha mencari orang tua dari anak yang mereka temukan. Suasana cukup sepi, di area taman tak ada orang selain mereka.


"Aku rasa dia keluar dari swalayan disebelah sana," ucap Alan sembari menunjuk ke arah yang dimaksud.


"Itu cukup jauh dari sini. Mana mungkin anak ini lepas sendirian sampai ke tempat ini." Irene tercengang dengan jarak swalayan yang menurutnya terhitung jauh dari posisinya sekarang.

__ADS_1


"Coba dulu bawa anak ini ke sana, siapa tahu ada yang merasa kehilangan anak. Biar aku temani juga."


Irene mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Memangnya Kak Alan tidak sibuk di restoran?"


"Tugasku di restoran hari ini sudah selesai, anak buahku bisa melanjutkannya sendiri."


Keduanya berjalan membawa anak itu ke arah swalayan. Tempat itu penuh pengunjung yang masuk dan keluar. Rasanya sulit untuk menemukan orang tua anak itu di tempat yang begitu luas dan besar.


"Bagaimana ini, Kak ... kita kan nggak tahu orang tuanya yang mana dan di lantai berapa." Irene kebingungan sendiri.


"Lagian ini anak kenapa sampai jalan-jalan sendiri. Pisah dari orang tua nangis," gerutu Alan.


"Hiks ... hiks ... hiks ...." Anak itu kembali akan menangis seakan tahu kalau dirinya sedang dimarahi.


"Oh, sttt ... jangan nangis, ya ... kakak akan membantumu kok." Irene menenangkan anak itu kembali. Wajah anak itu dia sembunyikan agar tidak melihat Alan karena takut.


Alan sampai garuk-garuk kepala karena bingung. Saat melihat ada pos informasi, ia jadi punya ide.


"Vino ...." Seorang wanita sudah berteriak histeris saat melihat kedatangan mereka.


"Mama ...." Vino memaksa turun dari gendongan Irene.


Kedua anak dan ibu itu saling berpelukan. Si ibu menciumi anaknya berkali-kali. Sementara, sang anak melepaskan tangisan bahagianya bisa bertemu lagi dengan ibunya. Alan dan Irene tertegun melihat pemandangan bahagia itu.


"Apa kalian yang sudah menemukan anak saya?" Seorang lelaki menghampiri mereka. Kelihatannya dia merupakan ayah si anak.


"Benar, Pak. Tadi kami menemukannya sedang menangis di area taman depan sana." Irene menunjuk ke arah luar swalayan.


"Hah! Saya lega sekali anak saya bisa kembali. Saya kira dia diculik."


"Lain kali jaga anak Bapak dengan baik, dia sudah pergi sampai jauh tanpa ada orang yang tahu. Untung saja tadi tidak tertabrak kendaraan yang berlalu lalang."


Bapak itu kelihatan tidak enak hati diceramahi oleh Alan. "Terima kasih sekali lagi sudah menolong anak saya. Dan maaf sudah merepotkan kalian," ucap bapak itu dengan nada sungkan.

__ADS_1


"Kalau begitu, kami permisi dulu ya, Pak." Irene tersenyum kaku. Raut wajah Alan saat berbicara serius seperti orang yang sedang marah-marah. Ia memilih untuk menarik lelaki itu pergi dari sana.


"Kak, jangan menakut-nakuti orang dengan ekspresi wajahmu," omel Irene.


"Memangnya bapak-bapak yang tadi juga takut seperti anaknya?"


"Tidak perlu ditanyakan lagi kan, Kak ... dari ekspresinya juga sudah kelihatan kalau orang itu takut."


"Padahal lebih menakutkan kamu kan, daripada aku."


Irene memberikan lirikan tajam. "Kakak mau rasis karena warna kulit?"


Alan menutup mulutnya menahan tawa. "Maaf, maaf ... tapi hari ini kamu kelihatan lebih ... cantik dari pada biasanya. Kamu cocok dengan rambut tergerai seperti ini."


"Apa ini sudah cukup membuat Kak Alan suka padaku?" tanya Irene dengan percaya dirinya.


Alan kembali menutupi wajahnya. Irene memang wanita yang percaya diri dan sulit ditebak kelakuannya. Bertemu dengan Sovia saja dia berani melawan. Itu menjadi salah satu daya tarik yang Irene miliki. "Kamu sudah tahu kalau aku punya pacar, kenapa masih bertanya?"


"Pacaran belum tentu saling suka, kan?" celetuk Irene.


Alan langsung terdiam. Sepertinya kata-kata Irene sangat cocok menggambarkan hubungannya yang sekarang dengan Sovia. Ia tidak lagi memiliki rasa cinta kepada wanita itu, melainkan rasa tanggung jawab atas apa yang pernah ia lakukan.


"Mana ada orang bisa pacaran kalau tidak saling suka. Kamu ada-ada saja, Irene." Alan mencoba mengingkari kenyataan.


"Kalau Kak Alan suka padaku, langsung aku terima sekarang. Cepat tinggalkan wanita yang bernama Sovia itu!" tegas Irene.


Alan tercengang dengan kelugasan bicara Irene. Bisa-bisanya Irene menyuruh dirinya putus dengan Sovia. "Kamu seperti orang sedang mabuk. Ucapanmu kacau."


"Apa Kak Alan masih tetap bisa membela Sovia kalau melihat yang seperti itu?" Irene memberi kode dengan menggerakkan kepalanya ke arah kanan. Tampak ada Sovia di depan toko perhiasan dengan seorang lelaki. Irene lebih dulu melihat keberadaan wanita itu di sana, sehingga ia sengaja memancing respon Alan tentang wanita yang menjadi pacarnya itu.



...(Koki Ganteng \= Alan Narendra)...

__ADS_1


__ADS_2