
"Dokter ... Dokter ... Tolong Irene!" teriak Ares panik.
"Kenapa dia?" tanya sang dokter jaga bernama Dokter Rita.
"Tidak tahu, Dok. Dia pingsan waktu ikut lomba lari," ucap Ares.
"Baringkan dia di ranjang. Mungkin dia pingsan karena anemia," ujar sang dokter.
Ares menuruti perintah sang dokter. Ia baringkan Irene di atas ranjang perawatan.
"Ares! Kelas kita mau main! Bagaimana ini? Kamu malah pergi. Yang lain jadi pada bingung!" protes Yoyo, salah satu teman sekelas Ares.
"Kamu tidak lihat, ya? Ada yang pingsan, tahu!" kesal Ares.
"Dia kan bukan dari kelas kita. Biarkan diurus teman sekelasnya. Cepat balik!" Yoyo tak peduli dengan kondisi Irene.
Ares tak bisa menjelaskan bagaimana hubungannya dengan Irene. Ia tak mau meninggalkan Irene sendiri, namun ia juga punya tanggung jawab untuk menangani kelasnya.
"Sudah, kamu kembali saja ke teman-temanmu biar Ibu yang menjaga dia," ucap dokter.
"Ya sudah, Bu! Aku titip Irene, ya! Pamit Ares. Ia memutuskan untuk kembali ke lapangan menemui teman-temannya.
"Gimana, Res. Siapa yang akan ikut main basket? Kayaknya nggak ada anak cewek yang bisa main deh," keluh Kiara.
"Tinggal drible bola trus masukin ke keranjang apa susahnya, coba!" kilah Filo.
"Asal ceplas ceplos aja kamu, Fil! Susah tau!" omel Kiara.
Kelas yang Ares pimpin kembali mengalami perdebatan. Mahasiswi dari kelasnya tidak ada yang mau mengalah untuk turun ke lapangan bermain basket.
Ares berusaha berpikir sejenak. Kondisi Irene yang mrngkhawatirkan membuatnya susah untuk berpikir.
"Bagaimana kalau nanti yang mau main aku traktir makan? Kalau tidak ada yang mau ya sudah," usul Ares.
Mendengar penawaran Ares, semua mahasiswi dari kelas Ares tercengang.
"Aku mau!" seru Kiara paling kencang. Padahal, ia yang awalnya paling tidak mau ikut.
"Aku mau!"
"Aku juga mau!"
"Aku juga!"
Ternyata pancingan Ares cukup efektif membuat mahasiswi di kelasnya berebut untuk main. Filo sebagai koordinator langsung memilih siapa saja yang menurutnya pantas untuk ikut. Mereka membagi-bagi tugas untuk ikut kompetisi di setiap cabang olahraga yang dilombakan.
Kelas Ares terkenal ambisius jika sudah ditentukan ukut kompetisi meskipun terkadang malas kalau tidak ada hadiah yang setimpal. Mendengar Ares mau mentraktir makan, mereka berebutan. Ares sangat jarang bersikap lembut pada lawan jenis di kampusnya.
__ADS_1
"Res," sapa Alan.
"Loh, Kakak kok di sini?" tanya Ares yang tiba-tiba kaget dengan kedatangan kakaknya di sana.
Penampilan Alan yang rapi dan tampan paripurna mencuri perhatian sebagian orang yang ada di sana. Kebanyakan para wanita berbisik-bisik membahas Alan yang sama tampannya dengan Ares.
"Aku mau cari Irene. Dia dimana, ya?" tanya Alan.
Sejak tadi ia sudah berkeliling, ada begitu banyak orang sampai ia pusing untuk menemukan Irene. Kebetulan ia melihat Ares tengah bersama teman-temannya sehingga ia menanyakan keberadaan Irene kepada Ares.
"Irene di klinik kesehatan, Kak," kata Ares.
Alan mengerutkan dahi. "Di klinik? Memangnya dia kenapa?" tanyanya heran.
"Tadi Irene pingsan waktu ikut lomba lari. Dia sedang dirawat dokter di sana. Sepertinya dia anemia, wajahnya pucat," jawab Ares.
"Ya sudah! Aku ke sana dulu!"
Alan menjadi panik setelah mendengar cerita Ares. "Apa dia tidak sarapan?" gumamnya.
Srek!
"Permisi," Alan membuka ruang kesehatan kampus.
Dokter Rita menoleh ke arah pintu. "Ya? Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.
Dokter Rita sedikit heran ada lelaki tampan yang mencari Irene yang menjadi pasiennya. "Iya, Irene masih beristirahat. Anda siapa?"
"Saya tunangannya!"
Alan memberikan jawaban yang tegas. Ia berbegas masuk ke dalam ruangan itu dan membuka tirai dimana Irene dirawat.
Alan terduduk lemas melihat Irene yang masih terbaring tak sadarkan diri di sana. Bahkan tangan Irene saat ia raba terasa dingin.
"Dokter, dia kenapa?" tanya Alan.
"Ah, dia hanya kekurangan darah saja. Mungkin sebentar lagi dia akan sadar. Tidak perlu khawatir," kata dokter.
Alan memegangi tangan Irene dengan erat. Dipandanginya wajah pucat yang tengah tertidur itu.
"Saya permisi mau keluar sebentar, ya!" pamit Dokter Rita.
"Ah, iya, silakan," kata Alan.
Alan mengusap kepala Irene dengan lembut sembari memikirkan kenapa wanitanya menjadi seperti itu.
"Apa kamu terlalu lelah mengerjakan tugas kampus? Kamu sampai begadang, ya?" gumamnya.
__ADS_1
Alan memang semalam tidak pulang ke rumah untuk mengurus organisasinya yang sedikit kacau karena ulah Big-O. Ia sampai lupa untuk mengecek kondisi Irene kemarin.
"Uhhh ...."
Irene mulai membuka matanya. Ia merasakan kepalanya sedikit pusing. Saat matanya terbuka dengan sempurna, sosok pertama yang ada di hadapannya adalah Alan.
"Kak Alan?" tanyanya kaget.
"Bagaimana? Apa kamu sudah lebih baik?" tanya Alan khawatir.
"Aku dimana? Kok Kak Alan ada di sini?" tanya Irene bingung. Seingatnya, ia sedang lomba lari di lapangan.
"Kata Ares kamu pingsan waktu lomba dan dibawa ke sini. Aku juga diberitahu oleh Ares kamu ada di sini," kata Alan. Ia mencium tangan Irene yang masih lemas. "Sebenanya kenapa kamu sampai bisa pingsan? Apa terjadi sesuatu padamu?" tanyanya.
Irene akhirnya ingat. Ia pingsan karena lukanya kembali terasa sakit dan tiba-tiba ia pusing. "Ah. Mungkin aku hanya kena anemia saja, Kak," ujar Irene.
"Benar, begitu? Apa tidak ada yang ingin kamu sembunyikan?" tanya Alan memastikan.
Irene menggeleng untuk meyakinkan Alan. "Aku mau pulang, Kak. Antar aku pulang sekarang, ya!" rengek Irene.
"Dokternya sedang pergi sebentar. Kita tunggu saja dulu sampai dokternya kembali," pinta Alan.
Irene menggeleng. "Tidak usah, aku tidak apa-apa. Aku mau istirahat di rumah saja. Di sini tidak nyaman," rengeknya lagi.
Melihat wajah Irene yang tampak memelas, Alan menjadi tidak tega. Ia menghela napas pasrah. "Baiklah, ayo kita pulang sekarang!" ucapnya.
Irene mulai akan turun dari atas ranjang. Alan membantu memasangkan sepatu ke kaki Irene. Ia memegangi Irene agar tidak jatuh.
"Biar aku jalan sendiri saja, Kak. Aku sudah kuat," kata Irene.
"Tidak, tidak ... Kamu masih lemas begini. Aku gendong saja ya, ke mobil," usul Alan.
"Kak, aku jalan sendiri saja!" Irene keras kepala dengan kemauannya.
Alan mengalah. "Baiklah, setidaknya kita harus bergandengan tangan."
Alan menggandeng tangan Irene seraya berjalan menuju ke tempat parkiran. Sepanjang jalan yang mereka lalui, mahasiswa yang bertemu dengan mereka memandangi dengan penuh rasa ingin tahu karena wajah Alan cukup asing di mata mereka. Apalagi lelaki setampan itu jalan bersama Irene yang dikenal sebagai mahasiswi biasa-biasa saja meskipun pintar.
"Ah, Ya Tuhan! Aku lupa kunci mobilnya!" kata Alan saat mereka telah sampai di parkiran.
"Memangnya kunci mobil Kakak simpan dimana?" tanya Irene.
"Sepertinya ketinggalan di ruangan tadi. Kamu tunggu sebentar di sini!" pinta Alan.
Ia menyuruh Irene duduk di bangku area parkiran, sementara ia bergegas lari kembali ke klinik tadi.
Alan mendapatkan kunci mobilnya di atas ranjang Irene. Namun, tatapan matanya mengarah ke noda darah yang tertinggal di ranjang itu.
__ADS_1
"Darah?" Alan merasa ada yang tidak beres dengan Irene tadi.