
"Bagaimana kalau kita pergi nonton akhir pekan ini?" ajak Misty sembari bergelayut manja di lengan Alan.
"Sepertinya aku tidak bisa. Aku masih sangat sibuk mengurusi beberapa dokumen terkait kerjasama baru, salah satunya dengan perusahaan milik kakakmu," tolak Alan.
"Alah, urusan dengan Kak Igor itu gampang. Dia tidak sekaku yang kamu pikirkan. Benar kan, Kak?" Misty meminta dukungan kepada sang kakak.
Igor menyunggingkan senyum. Ia tahu adik kesayangannya sangat mengagumi Alan. Ketika ia mengatakan ingin menemui Alan, Misty memaksa ikut. Meskipun sudah tahu keberadaan sang adik nantinya akan sedikit mengganggu, ia tetap mengajaknya. Kalau tidak diajak lebih bahaya, Misty bisa mengadu kepada ayah mereka.
"Alan, bagaimana kalau kita pindah ke klab malam? Kebetulan aku menjadi member VIP di salah satu klab dan malam ini sedang ada event." ajak Igor.
Mengetahui sang adik menyukai Alan, sebagai kakak ia ingin berusaha mendekatkan mereka. Apalagi ia tahu kini Alan masih sendiri setelah putus dari Sovia. Jika Alan mau dengan adiknya, dia juga akan setuju-setuju saja.
"Terima kasih untuk tawarannya. Tapi, aku tidak bisa karena ada kesibukan lain." Alan berusaha menolak dengan bahasa yang halus.
Igor menatap Alan. "Kamu suka saudaramu itu, ya?" tanyanya.
"Hah? Apa?" Alan terkejut mendengar pertanyaan Igor.
"Wanita yang kamu bilang saudaramu tadi ... Irene? Apa kamu suka dengannya?" tanya Igor dengan tatapan serius.
"Hah! Yang benar saja, kak! Masa Alan menyukai wanita jelek yang tadi? Apa Kakak sudah gila berpendapat seperti itu?" Misty terkekeh mendengar pendapat kakaknya. Mana mungkin seorang Alan bisa menyukai wanita berpenampilan dekil yang bahkan lebih jelek dari pembantu.
"Memangnya suka selalu memandang fisik? Biarkan Alan menjawabnya, aku hanya ingin tahu saja ada hubungan apa dengan Irene."
"Hah! Tidak usah mempedulikan Kakakku, dia memang kadang aneh. Mana mungkin juga Kak Alan suka dengan wanita yang tadi, kan?"
Alan hanya terdiam. Ia tak bisa memberikan jawaban atas sesuatu yang bahkan belum bisa ia pastikan sendiri.
***
Perasaan Irene sedang tidak baik. Bayangan Alan bersama wanita se.ksi itu masih tergambar jelas di pikirannya. Ia semakin merasa kesal. Bahkan, ia tak memiliki minat lagi untuk menyanyi. Sejak tadi hanya Jeha yang asyik karaoke menyanyikan lagu-lagu hits masa kini.
"Jeha ... Kayaknya aku mau pulang deh," ucap Irene dengan nada tak bersemangat sama sekali.
__ADS_1
Jeha berhenti menyanyi. "Loh, kok mau pulang? Aku baru menghubungi Winda dan Bian. Katanya mereka masih di jalan mau menyusul ke sini." Ia berjalan menghampiri Irene dan duduk di sebelahnya.
"Kalian bersenang-senang saja bertiga. Aku agak lelah dan kurang enak badan, mau istirahat di rumah." Sebenarnya bukan fisik Irene yang lelah, tapi hatinya.
"Bagaimana ini? Apa aku harus menelepon sopirku supaya mengantarmu pulang?" tanya Irene.
"Tidak usah, di bawah juga ada banyak taksi yang lewat."
"Baiklah kalau begitu, kamu hati-hati di jalan. Terima kasih untuk hari ini ya, sudah menemaniku audisi." Jeha memberikan pelukan kepada Irene. Ia sangat bersyukur hari ini ditemani Irene sampai akhirnya dinyatakan lolos audisi.
Irene keluar ruang karaoke sendirian. Ia menuju ke arah lobi depan untuk mencari taksi. Badannya benar-benar terasa lemas dan tak berdaya.
Saat berdiri di depan jalan raya menunggu taksi lewat, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Bukannya sopir taksi yang datang tapi malah Alan.
"Kenapa bengong? Ayo naik!" pintanya.
Meskipun agak heran, Irene tetap naik ke dalam mobil Alan. Ia pasangkan sabuk pengaman di pinggang dan bersiap dibawa melaju oleh Alan.
"Urusan Kakak sudah selesai?" tanya Irene dengan malas.
Irene tertawa kecil. "Memangnya Kakak menungguku?"
"Kalau aku tidak menunggumu, mana mungkin sekarang kamu ada di dalam mobilku," kata Alan sembari fokus mengemudikan mobilnya.
Rasanya Irene tidak bisa percaya Alan menunggu di sana untuknya.
"Kamu belum makan, ya?" tebak Alan.
"Sudah kok, tadi aku sudah makan banyak bersama temanku."
"Kalau sudah makan kenapa kelihatan lemas begitu?" tanya Alan heran.
"Aku hanya lelah saja. Ngantuk, mau tidur."
__ADS_1
"Tidur saja kalau begitu. Nanti aku bangunkan kalau sudah sampai."
Irene merasa Alan tidak peka terhadap perasaannya. "Setelah putus dengan Sovia, Kakak sudah pacaran lagi dengan wanita yang tadi?" tanya Irene.
"Pacaran bagaimana? Dia adiknya Igor," kilah Alan.
"Kalau tidak pacaran kok kelakuannya seperti itu ya? Apalagi itu ada di hadapan kakaknya sendiri, bukankah itu tidak sopan?"
"Dimaklumi saja. Misty memang sudah lama hidup di luar negeri saat kecil hingga remaja. Jadi, kelakuannya memang terkadang berlebihan seperti itu."
'Cih! Dasar lelaki! Paling juga dia ikut merasa menikmati. Mana ada lelaki yang tidak suka ditempeli bidadari yang se.ksi,' gumam Irene dalam hati.
"Misty juga juniorku waktu di kampus. Kita sudah saling kenal lama. Kelakuan dia krpada siapa saja memang begitu," ucap Alan.
"Mengherankan juga ada percakapan bisnis tapi ditemani wanita seliar itu. Hebat kalau Kak Alan masih bisa fokus pada kerjaan," sindir Irene.
"Kamu pikir aku semacam binatang yang sedikit-sedikit terpancing n4fsu hanya karena wanita?"
Irene membuang pandangan ke arah jendela. Ia merasa tidak ada guna marah-marah. Alan juga tidak peka terhadap perasaannya.
***
Hari ini Irene berdandan rapi dan cantik menjadi seorang Alenta. Ia sudah berada di bandara membawa sebuah papan bertuliskan nama orang yang hendak dijemputnya. Kata Alan, ada seorang wanita utusan dari Iran yang akan datang. Ia diminta untuk menjemput utusan tersebut dan mengakomodasi penginapannya juga. Alan tidak bisa turut hadir sehingga Irene terpaksa menjemputnya sendiri.
Saat rombongan penumpang di bagian kedatangan Internasional datang, Irene memgangkat papan yang dibawanya. Ia sendiri belum mengenali seperti apa orang yang akan dijemputnya hari ini. Ia bersabar menunggu orang yang dimaksud datang dan menyapanya.
Satu per satu penumpang lain sudah menemukan keluarganya. Ia masih setia mengangkat papan yang dibawanya.
"Permisi ... Apa kamu Alenta?"
Seorang wanita berlulit eksotis menyapanya dalam bahasa Persia. "Saya Amina," ucapnya.
Irene kegirangan akhirnya ia bisa bertemu orang yang dimaksud. "Oh, Mrs. Amina, selamat datang. Perkenalkan saya Alenta, perwakilan dari PT Narendra Group yang ditugaskan untuk menjemput Anda," ucap Irene. Ia begitu fasih berbicara dalam Bahasa Persia.
__ADS_1
Irene mengajak Amina pergi ke hotel yang telah dipersiapkan. Mereka menaiki taksi menuju hotel yang dimaksud. Sepanjang perjalanan, Amina menceritakan perjalanan panjangnya yang cukup melelahkan dari negara asal. Tapi, kelelahannya juga telah terbayarkan setelah sampai di negara itu dan melihat betapa indahnya di sana.