Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 124


__ADS_3

Alenta: Saya kira Anda lupa kalau hari ini ada jadwal pembelajaran online, Pak.


Alan: Tidak, saya orang yang patuh pada appointment.


Alenta: Ya ya ya ... Tidak mau rugi setelah membayar saya.


Alan: Hahaha .... Begitulah!


Apa weekend ini kamu senggang?


Alenta: Ya. Memangnya kenapa?


Alan: Mau ikut aku mencari batu?


Alenta: Boleh.


***


Irene telah merubah penampilannya sebagai Alenta. Hari ini ia akan pergi bersama Alan untuk mencari batu permata. Alan menjemputnya yang menunggu di kafe pusat kota. Mereka pergi ke sebuah tempat yang cukup jauh.


Tempat yang mereka datangi berupa pedesaan dengan rumah-rumah yang bergaya kuno.


Setibanya di sebuah rumah tua, seserang telah menyambut mereka. Alan dan Alenta keluar dari mobil dan mengikuti orang itu untuk masuk ke dalam kawasan rumah.


Area rumah tersebut sangat luas. Ternyata bukan hanya mereka saja yang datang ke sana. Di bagian belakang rumah ada banyak orang yang berdiri sembari mengamati batu-batu yang ada di tempat itu.


Konon katanya bebatuan yang ada di area belakang rumah itu mengandung batu permata. Pemilik rumah sendiri yang tidak sengaja mengetahuinya saat mengamati pecahan bebatuan di rumahnya.


Dari mulut ke mulut, rumah itu menjadi ramai oleh para pecinta batu mulia. Hingga kabar itu juga datang kepada Alan. Ia tidak menyangka jika dinegaranya juga ada batu berharga seperti di luar negeri.


"Pak, apa pemilik rumah ini tidak takut kalau nanti rumahnya kena longsor?" tanya Alenta.


Ia memandangi tebing yang cukup tinggi di belakang rumah itu. Pada tebing tersebut sangat jelas terlihat bekas galian untuk mengambil bongkahan batu-batu berharga yang saat ini menjadi pusat perhatian orang-orang di sana.

__ADS_1


Mereka sibuk memilih batu yang sekiranya bagus dan mengandung benda berharga di dalamnya. Mereka memakai alat-alat pendeteksi sederhana untuk mengeceknya dari luar.


"Tebing ini terbentuk dari batuan kapur, jadi tidak mudah longsor," jawab Alan.


"Tapi, kalau diambil terus batunya nanti bisa runtuh."


"Kalau runtuh juga bukan urusan kita, Alenta," bisik Alan.


Alenta memutar malas bola matanya. Sementara, Alan tertawa dengan respon Alenta.


"Ikut aku, biar aku kenalkan dengan pemilik rumah ini. Jadi, kamu bisa sampaikan langsung kekhawatiranmu pada orangnya langsung," kata Alan.


Mereka berjalan melewati kumpulan orang-orang yang tengah sibuk di sana. Tuan Hartawan, sang pemilik rumah, tengah menjamu tamunya di sisi yang lain.


"Oh, ada Tuan Alan yang datang rupanya."


Pak Hartawan langsung menyapa saat menyadari kehadiran Alan di sana.


"Halo, Tuan Hartawan, apa kabar?" Alan menyalami orang tua berambut putih itu.


"Puji Tuhan masih lancar, Tuan. Dan masih mengharapkan niat baik Anda untuk bergabung sebagai investor kami." Alan sedikit menyelipkan bisnis dalam perbincangannya.


"Hahaha ... Kamu memang paling pandai merayu. Nanti akan aku pertimbangkan lagi," kata Pak Hartawan.


"Oh, iya. Kenalkan, ini Alenta, teman saya," kata Alan.


"Oh, halo, Nona cantik," kata Pak Hartawan seraya menyalami Alenta.


Alenta menyunggingkan senyumannya.


"Tidak mungkin wanita secantik ini hanya teman, kan? Pasti ini pacarmu," tebak Pak Hartawan.


Alan dan Alenta merasa kikuk.

__ADS_1


"Kami hanya berteman, Pak. Dia terkadang membantu saya sebagai penerjemah, dia juga tutor Bahasa Persia."


"Memang menyenangkan bekerja ditemani wanita cantik, apalagi bisa diajak berteman dan bertukar pikiran," kata Pak Hartawan. "Kalau Nona Alenta memang masih single, bagaimana kalau saya kenalkan dengan putra saya? Dia juga masih single," lanjutnya.


"Ah, boleh, Pak. Tapi mungkin lain kali saja. Soalnya saya datang hari ini untuk mencari batu berharga bersama Pak Alan," jawab Alenta. Ia berusaha sopan menolaknya.


"Oh, kamu pecinta batu juga?" tanya Pak Hartawan antusias.


"Iya, Pak. Berkat Pak Alan saya jadi suka batu juga."


Pak Hartawan mangguk-mangguk. "Kamu datang bersama orang yang tepat dan di tempat yang tepat. Sebelum batu-batuku habis, cepatlah ambil yang kalian inginkan. Aku rekomendasikan kalian memilih di sisi sebelah sana saja, selain relatif sepi, biasanya bagus-bagus." ia menunjuk ke arah yang dimaksud.


"Terima kasih sarannya, Pak," kata Alenta.


"Alan, sepertinya aku tidak bisa menemanimu lebih lama. Kamu temani saja Alenta memilih batu di sana."


"Terima kasih, Tuan."


Mereka pergi meninggalkan Pak Hartawan. Sisi yang ditunjukkan tadi memang terlihat lebih sepi peminat. Mungkin karena ukuran batunya juga yang lebih kecil dan kelihatan sepeeti batu biasa.


"Apa kita mau dijebak? Aku rasa di sini batu-batunya tidak ada isinya," kata Alenta.


"Kita coba saja dulu siapa tahu ada yang bagus."


"Orang pasti akan memilih barang yang bagus. Jadi, aku rasa di sana tadi yang koleksi batunya bagus-bagus, Pak," kata Alenta.


"Tapi, kita direkomendasikan oleh pemiliknya sendiri. Siapa tahu juga memang lebih bagus dari pada yang di sana," kata Alan.


"Namanya juga penjual, Pak. Mereka akan melakukan cara agar jualannya laku. Sayang kalau kita memilih tapi zonk."


Alan mengeluarkan alat-alat yang dibawanya dari dalam tas. Ia mulai menyenter batu-batu yang ada di sana.


"Alenta, kamu harus mencoba melihat sendiri apa kira-kira batu di sini ada yang bagus," pinta Alan.

__ADS_1


Alanta menghela napas. Dengan berat hati ia menerima alat yang Alan berikan dan mulai ikut meneliti bebatuan di sana.


__ADS_2