
Sejak tadi Irene merasa Alan mencuri-curi pandang ke arahnya selama sarapan. Setiap kali ia berbalik menatap Alan, lelaki itu pura-pura mengalihkan pandangan. Alan seakan ingin mengatakan sesuatu namun ragu atau takut untuk mengatakannya.
Drrtt ... Drrtt ...
Ponsel Irene bergetar. Ada panggilan masuk dari ibu panti yang biasa Irene datangi. Irene beranjak meninggalkan meja makan menuju ke area taman samping untuk mengangkat telepon.
"Halo, Bu?" sapanya.
"Halo, Irene, apa kabar?"
"Baik, Bu. Sepertinya sudah lama juga saya tidak mampir ke sana. Anak-anak bagaimana?"
"Anak-anak baik. Tapi, mereka terus menanyakan tentangmu. Mereka bertanya kenapa kamu tidak pernah datang lagi."
Irene sedikit merasa bersalah telah melupakan mereka. "Ah, katakan pada mereka kalau saya akan mampir sebentar," katanya.
"Benarkah? Anak-anak pasti akan senang mendengarnya. Kami menantikan kehadiranmu, Irene."
Irene mengakhiri teleponnya dan kembali menyantap sisa makanannya.
"Ren, hari ini kamu tidak mau kemana-mana, kan?" tanya Ares.
"Memangnya kenapa?" tanya Irene.
"Kalau tidak kemana-mana, ayo kita balapan dengan mobil balap miniatur," ajak Ares.
"Bagaimana bisa balapan? Mobilnya kan hanya satu!" Irene masih ingat kemarin Ares berusaha merebut miniatur miliknya.
"Kak Alan kemarin memberikanku barang yang sama denganmu, cuma beda warna saja. Punya Kak Alan warna hitam."
Irene terkejut mendengarnya. Ia melirik ke arah Alan, namun lelaki itu terlihat cuek.
__ADS_1
"Kak Alan juga mendapatkan bingkisan yang sama denganmu."
"Ooh ...."
Meskipun kepikiran, Irene tak ingin memikirkannya. Ia justru mempercepat menyelesaikan makannya.
"Sepertinya kalau hari ini aku tidak bisa, soalnya sudah ada janji. Aku pergi dulu, ya!" pamit Irene.
Ia meminta seorang sopir mengantarnya sampai ke pusat kota. Sampai di sana, ia menyuruh sopir pulang. Sengaja Irene mampir sebentar di swalayan untuk membeli aneka mainan dan makanan yang akan dibawa ke panti asuhan. Setelah barang yang ia inginkan terkumpul, Irene menaiki taksi menuju panti.
"Kak Irene ...."
Suara antusias anak-anak terdengar ketika Irene baru saja turun dari taksi. Mereka berlarian menghampiri Irene dan memberikan pelukan hangat.
Melihat senyum-senyum bahagia di wajah mereka, Irene merasa ikut bahagia. Nasib mereka yang ada di sana sama dengannya, sama-sama tidak memiliki orang tua.
"Kak Irene kok lama tidak main ke sini?" tanya Cici dengan wajah polosnya.
Irene menyunggingkan senyum. "Kak Irene minta maaf, ya. Akhir-akhir ini Kak Irene sangt sibuk, makanya jadi sangat sibuk," kata Irene.
"Irene," sapa Ibu Maria, pemimpin yayasan panti asuhan tersebut.
Irene memberikan pelukan kepada Ibu Maria. "Senang sekali bisa kembali bertemu Ibu," katanya.
Maria mengusap kepala Irene yang sudah dianggap sebagai anak sendiri. Meskipun baru mengenal selama kurang dari satu tahun, Irene merupakan salah satu donatur panti yang rajin memberikan donasi dan berkunjung setiap minggu.
***
Di sudut lain, Alan baru saja keluar dari mobil yang dikendarai Miko. Ia terkejut melihat keberadaan Irene di sana. Wanita itu tampak tertawa bahagia bersama anak-anak panti.
"Pak, apa kita akan masuk sekarang?" tanya Miko.
__ADS_1
"Tidak perlu. Kapan-kapan saja kita ke sini lagi, kata Alan.
Mereka kembali ke dalam mobil dan meninggalkan tempat itu tanpa memberi tahu Irene.
***
Irene memandangi kondisi panti yang sepertinya sudah banyak kerusakan dan kebocoran. Beberapa plafon jebol, tembok retak-retak dan cat tampak kusam. Ia juga melihat kondisi kamar mandi yang cukup kumuh seperti kurang perawatan.
"Ini ... Kenapa panti menjadi seperti ini, Bu?" tanya Irene penasaran.
Ibu Maria menghela napas. "Beginilah keadaan panti kami sekarang, Irene. Kami kekurangan biaya untuk perawatan karena alokasi dana kami utamakan untuk makan anak-anak. Jumlah anak panti kian hari kian bertambah sementara sumber dana juga terbatas."
Irene merasa tersentuh dengan kondisi panti yang cukup memprihatinkan.
"Kami juga terkendala dengan kepemilikan tempat ini. Tanah yang digunakan untuk membangun panti, pada awalnya merupakan hibah dari seseorang. Entah mengapa setelah orang itu meninggal, pihak keluarganya tidak terima dan menuntut agar dikembalikan kepada mereka. Kalau kami bertahan, katanya harus membayar 1,2 miliyar."
Irene terdiam memikirkan jumlah tabungan yang dimilikinya. Sepertinya masih kurang dari jumlah yang dibutuhkan. Ia teringat dengan tawaran dari Hamish untuk mengikuti balapan. Hadiah yang dijanjikan cukup fantastis dan sangat bisa untuk membantu panti.
"Aku akan mencoba membantu, Ibu tenang saja," kata Irene.
Tampak Ibu Maria mengusap air mata yang keluar dari sudut matanya. Ia merasa permasalahan yang dihadapi panti cukup rumit.
"Ibu tidak perlu memikirkan apapun, fokus saja untuk memberikan cinta dan kasih sayang kepada anak-anak. Saya janji akan mrmbantu," ucap Irene.
"Ibu tambah lagi jumlah pengasuh di sini dan perbaiki bagian-bagian bangunan yang memang memerlukan perbaikan. Saya sudah mentransfer uang untuk panti dan anak-anak."
"Terima kasih, Irene" ucap Ibu Maria sembari menitihkan air mata harunya.
Irene menyisih sebentar ke area taman samping. Ia mengirim pesan kepada Ron untuk mengecek siapa saja tamu undangan yang akan hadir di acara balapan. Tak butuh waktu lama, Ron telah melaksanakan tugasnya dengan baik.
Irene membaca daftar nama-nama yang akan hadir di sana. Memang benar, Hamish dan Alan sama-sama tercantum dalam daftar tersebut.
__ADS_1
"Aduh, bagaimana ini? Apa aku perlu menjadi Alenta ato menjadi orang lain lagi?"
Irene merasa pusing sendiri. Di sana akan ada dua lelaki yang mengenalinya dengan identitas berbeda.