Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 187


__ADS_3

Malam tahun baru imlek telah tiba. Janu mengajak Irene, Arsen, serta kakek dan nenek makan malam bersama menyantap hidangan khas yang selalu ada dalam setiap perayaan Imlek.


Alan terlihat sering melirik ke arah Irene yang terlihat akrab membahas game yang tidak berkesudahan. Ia sedikit merasa cemburu. Irene sama sekali tak memperhatikannya.


"Karena ini malam tahun baru, Nenek akan membagikan angpau untuk kalian," ucap nenek seraya mengambil sesuatu dari kantong sakunya.


"Nenek ... Kita kan bukan anak kecil lagi," protes Irene. Ia merasa tradisi angpao sudah tak lagi cocok untuknya.


"Kalau bukan anak kecil lagi, kenapa belum menikah?" sindir nenek.


Irene hanya bisa manyun. Nenek membagikan angpao kepada Alan, Ares, dan Irene satu-satu.


"Menolak pemberian orang lain itu tidak sopan," ucap kakek.


Usai makan malam, Alan memanggil Irene untuk pergi ke halaman depan dengannya. Lelaki itu mengajak Irene bermain kembang api dengannya.


"Ini mengingatkanku akan masa kecil," gumam Irene sembari memegangi sebatang kembang api yang masih menyala.


"Masa kecil memang sangat menyenangkan. Di masa itu anak-anak tidak ada yang dibuat pusing oleh permasalahan yang menggunung."


"Apa ... Kak Alan pernah pacaran dengan wanita selain Sovia?" tanya Irene tiba-tiba.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Alan mengerutkan dahinya.


"Tidak apa-apa, aku hanya sekedar ingin tahu." Sebenarnya Irene diliputi rasa cemburu saat menanyakan hal itu.

__ADS_1


"Pernah sekali. Tapi, sepertinya dia hanya menganggap kami pacaran pura-pura."


Irene menoleh ke arah Alan. "Wah, wanita seperti apa yang berani menganggap hubungannya dengan Kak Alan hanya pura-pura?" tanyanya penasaran.


Alan tersenyum. Ia membalas tatapan Irene dengan hangat. "Pokoknya wanita yang sangat istimewa, punya banyak bakat sampai membuatku minder untuk dekat dengannya."


"Orang seperti Kak Alan masih bisa merasakan minder dengan orang lain ya, ternyata," gumam Irene. Ia jadi bertanya-tanya sosok seperti apa wanita yang dianggap istimewa oleh lelaki itu.


"Aku bukan siapa-siapa jika dibandingkan dengannya."


***


"Nona, teman Anda sudah kembali," ucap Ron dari seberang telepon.


"Kamu tahu dari mana?" Alan masih sedikit bingung dengan Irene yang tiba-tiba menghampirinya di teras depan.


"Pokoknya ada! Ayo kita ke sana!" ajak Irene.


Alan segera mengambil kunci mobil dan mengeluarkan mobilnya dari dalam garasi. Ia menghampiri Irene yang menunggu di halaman depan. Mereka melaju ke arah kediaman Adila.


Sesampainya di sana, suasana rumah telah terlihat cukup ramai. Semua orang terharu melihat kepulangan Adila yang dianggap sudah meninggal.


"Adila ...." Irene memberikan pelukan hangat pada Adila. Ia bersyukur wanita itu bisa pulang dengan selamat.


"Kamu ... Siapa?" tanya Adila.

__ADS_1


Irene langsung tertegun mendengar ucapan Adila. Wanita itu tak mengenalinya. Ia menoleh ke arah ibu Adila.


"Adila tidak ingat apa-apa. Dia tidak bisa mengenali siapapun," ucap ibu Adila.


Irene mengangguk-angguk. Ia dan Alan saling berpandangan seolah masih tidak yakin jika Adila mengalami amnesia.


***


"Adila!"


Arvy datang setelah suasana sepi. Ia datang ke rumah Adila secara diam-diam agar tidak ketahuan media. Sama seperti respon Adila terhadap Irene, Arvy juga tidak dikenali oleh wanita itu.


"Kamu yakin tidak mengenaliku?" tanya Arvy.


Adila menggeleng. "Aku benar-benar tidak bisa mengingat apapun. Tapi, aku merasa sangat familiar denganmu."


Arvy menghela napas lega. Meskipun tidak dikenali, bisa melihat Adila kembali sudah cukup membuatnya senang.


"Adila, aku pacarmu," ucap Arvy.


Adila masih tercengang. "Benarkah?" tanyanya penasaran. "Aku kira kamu pacarnya dia." Adila menunjuk ke arah Irene.


Ucapan Adila membuat Arvy, Irene dan Alan kelimpungan.


"Tidak, Adila. Aku ini pacarmu," kata Arvy meyakinkan.

__ADS_1


__ADS_2