
Di bandara, suasana haru dan penuh cinta terasa ketika Irene dan Alan bersiap-siap untuk pergi ke Turki untuk bulan madu mereka. Orang tua Alan, Vito dan Indira, hadir di sana untuk mengantar memberi restu terakhir.
Vito, duduk di kursi roda, memandang mereka dengan senyuman hangat dan penuh cinta. Matanya penuh harapan dan doa untuk kebahagiaan Irene dan Alan.
"Papa mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua. Semoga kalian bahagia selamanya dan jaga diri kalian dengan baik di sana," ucap Vito dengan nada yang lembut.
Irene tersenyum tulus. "Terima kasih, Mama dan Papa. Kami akan merindukan kalian. Jaga diri kalian juga, terutama Papa. Kami akan mendoakan kesembuhanmu."
Vito menganggukkan kepala dengan penuh pengertian, memahami bahwa saat ini adalah waktu yang istimewa bagi Irene dan Alan. Ia menarik Irene dalam pelukan hangat, mengungkapkan kasih sayang seorang ayah yang mendalam.
"Tetaplah menjadi Irene yang baik. Terima kasih selama ini kamu telah memperlakukan Alex dengan baik," ucap Vito setengah berbisik.
Irene agak kaget mendengar hal itu dari ayah Alan. Tidak pernah sekalipun mereka nembahas Alex terutama di hadapan Alan. Semenjak peristiwa yang menimpa kakek, Alan tak pernah lagi ingin membahas tentang Alex.
Vito memberi isyarat agar Irene dia saja dengan ucapannya barusan. Ia tak ingin merusak momen bahagia yang tengah dirasakan Alan.
Indira menghampiri Irene dengan tatapan yang penuh penyesalan. Ia menahan air mata. "Irene, maafkan Mama. Dulu Mama sempat ragu dan tidak memberikan restu kepada kalian. Tapi, sekarang aku mengerti betapa besar cintamu kepada Alan dan betapa bahagianya dia bersamamu. Aku berharap kalian bahagia selamanya," ucapnya.
Irene menggenggam tangan Indira dengan lembut. "Ma, tidak ada yang perlu dimaafkan. Aku mengerti kalau setiap ibu pasti hanya ingin yang terbaik untuk putranya. Dan saya berjanji akan membersamai Kak Alan dengan sepenuh hati. Terima kasih atas restu dan dukungan Mama."
Air mata haru mengalir di pipi mereka berdua saat mereka saling memeluk. Setelah momen singkat itu, mereka bergabung dengan Alan, yang juga terharu menyaksikan momen penuh cinta itu.
Alan mencium pipi Indira. "Terima kasih, Mama, atas segalanya."
Irene tersenyum. "Ma, jaga kesehatan, ya! Kami sangat menyayangi kalian."
Indira tersenyum lembut. "Iya, Sayang. Pergilah dan nikmatilah bulan madu kalian. Kami akan selalu mendoakan kebahagiaan kalian."
Dalam pelukan terakhir mereka, Irene, Alan, Vito, dan Indira merasakan kehangatan keluarga yang tak tergantikan. Mereka berbicara dengan hati, tanpa kata-kata yang terucap, karena cinta dan pengertian telah mengisi setiap ruang hati mereka.
Saat Irene dan Alan berjalan menuju gerbang keberangkatan, mereka melihat Vito dan Indira yang berdiri di sana, tersenyum.
__ADS_1
Irene dan Alan melangkah menuju gerbang keberangkatan dengan hati yang penuh harapan dan cinta. Di belakang mereka, Vito dan Indira masih memandang dengan mata penuh kebanggaan dan kasih sayang.
Vito tersenyum lembut "Kalian berdua pergilah! Jaga satu sama lain dengan baik. Kami akan selalu bersamamu dalam doa-doa kami. Kalau bisa pulang langsung bawa cucu untuk mama dan papa," ledeknya.
Alan mengangguk. "Terima kasih, Papa."
Saat mereka melewati pintu itu, pandangan mereka berpaling untuk melihat Vito dan Indira yang masih berdiri di sana, menyemangati mereka dengan senyum dan gestur tangan terakhir. Hati mereka dipenuhi dengan perasaan campur aduk, antara kegembiraan akan bulan madu dan kerinduan akan orang tua mereka.
Alan menarik Irene agar berjalan dekat dengannya. "Kamu dengar tadi pesan Papa, kan? Kita harus bekerja keras untuk membuat cucu untuk mereka," ucapnya.
Irene melebarkan matanya mendengar ucapan Alan.
"Sekarang kamu tidak boleh kabur lagi. Kalau kamu terus bilang belum siap melakukan malam pertama, kita tidak akan bisa punya anak," sindir Alan.
"Bisa tidak Kakak jangan membahas hal itu di sini," protes Irene yang merasa malu mendengarkan ucapan Alan. Padahal mereka tengah berada di tempat umum.
Setelah pernikahan, Irene memang menolak saat Alan mengajaknya untuk bercinta. Ia merasa sangat canggung dan tidak bisa membayangkan untuk tidur setiap hari berdampingan dengan lelaki itu.
Ia masih sangat malu-malu dan meminta Alan untuk menunda malam romantis mereka sampai perjalanan bulan madu.
"Aku kan sudah terbiasa memanggil seperti itu," kilah Irene.
"Makanya dibiasakan, kamu bisa memanggilku 'sayang' atau 'suamiku tercinta'."
Irene memutar malas bola matanya. "Itu hanya panggilan, bukannya sama saja?"
"Beda, tentu saja beda. Kalau kamu masih memanggilku 'kakak', aku akan menciummu di depan orang-orang! Kamu lihat kan, banyak yang memandangi kita," ancam Alan.
Irene memperhatikan sekeliling, ia berusaha melepaskan Alan darinya karena sepanjang jalan menjadi pusat perhatian.
"Kak, lepas, dong! Sudah tahu banyak yang lihat kenapa masih nempel-nempel begini," keluh Irene.
__ADS_1
"Hm, kamu masih memanggilku seperti itu? Apa perlu aku melakukan hal yang lebih agar semakin jadi pusat perhatian?" ucap Alan.
Irene hanya bisa menghela napas. "Apa kita ada yang salah? Kenapa mereka seperti terus melihat ke arah kita?" tanyanya heran.
"Mungkin karena kita berdua good looking!" jawab Alan enteng.
"Hah! Mulai sombong," kata Irene.
"Siapa yang sombong? Faktanya aku memang tanpan," kata Alan dengan percaya diri.
Keduanya kembali melangkah menuju lounge untuk menunggu penerbangan pesawat mereka. Beberapa staf dan calon penumpang yang ada di sana juga masih memperhatikan mereka.
"Tuh kan, aneh, kita dilihat orang terus," kata Irene.
Alan menghentikan langkahnya sejenak.
"Kenapa, Kak?" tanya Irene.
"Tuh, lihat ke layar depan!" pinta Alan.
Irene menolehkan kepala pada sebuah layar monitor besar di hadapannya. Di sana terpampang nyata video pernikahan serta foto-foto mereka berdua dengan ucapan selamat menikah.
Kini mereka baru tahu kenapa sepanjang jalan orang-orang terus melihat ke arah mereka. Ternyata Arvy yang melakukannya. Adik mereka memasang iklan mereka di bandara.
"Kak Arvy memang ada-ada saja," gerutu Irene yang merasa malu fotonya terpampang di sana.
"Untung kita juga tidak kalah tampan dan cantik seperti artis. Tidak usah malu karena keluarga kita memang ada yang jadi artis," kata Alan.
Irene menghela napas panjang. "Bisa tidak itu dimatikan?"
"Hahaha ... Kenapa? Anggap saja kita jadi artis sehari," kata Alan.
__ADS_1
"Awas saja kalau dia yang menikah nanti akan aku balas!" lirih Irene kesal.
Sejak dulu dari kelima tuan muda Narendra memang hanya Arvy yang paling membuatnya kesal. Meskipun sekarang ia sudah berbeda penampilan, Arvy tetap jahil dan suka menjahilinya. Apalagi di video yang terpampang itu juga dimasukkan fotonya yang jaman dulu.