Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 34 : Teman Serba Guna


__ADS_3

Kakek John hanya bisa menghela napas saat Hamish pergi dari rumahnya. Meskipun cucunya itu telah pergi, beberapa pengawalnya masih berjaga di sana. Sepertinya ia tak lagi bisa bebas mulai saat ini.


Kakek John berjalan menuju telepon rumah yang ada di ruang baca. Ia hendak menghubungi sahabatnya, Dimas Narendra, kakek dari kelima tuan muda yang ia jodohkan dengan Irene.


"Aku harap dia sudah kembali ke tanah air," gumamnya sembari menekan nomor telepon yang diingatnya. Akan tetapi, tidak ada jawaban dari seberang telepon. Perasaannya sudah mulai aneh. Ia mencoba kembali untuk menghubungi nomor tersebut. Tetap sama, tak ada jawaban.


"Tuan, sambungan telepon di rumah ini telah diputuskan atas perintah Tuan Hamish," ucap kepala pelayan yang biasa melayani keluarga Abraham.


Kakek John meletakkan kembali gagang teleponnya. Ia tidak menduga jika Hamish akan bertindak sejauh itu. Komunikasinya dengan dunia luar sudah dibatasi. Ia tak bisa mengingatkan Irene untuk berhati-hati.


"Kalau begitu, keluarlah dan coba hubungi Irene," pinta sang kakek.


"Maaf, Tuan. Seluruh pelayan di rumah ini juga dalam pengawasan. Jika kami berbuat kesalahan, para penjaga tidak akan segan untuk menembak kepala kami."


Tidak ada lagi yang bisa Kakek John lakukan sekarang. "Mudah-mudahan dia di sana baik-baik saja," lirihnya.


Ia berharap kelima tuan muda keluarga Narendra bisa menjaga Irene. Cucu perempuannya tidak boleh ikut masuk dalam dunia Hamish yang berbahaya. Sudah cukup ia kehilangan dua anak kandung dan menantunya.


***


"Ah! Sial!" Bian tampak kesal dengan laptop miliknya.


"Kenapa?" tanya Irene sembari memakan nasi gorengnya.


Mereka sedang menikmati waktu istirahat di kantin kampus sembari mencicil tugas yang diberikan dosen.


"Ada yang aneh dengan tombol laptopku. Tiba-tiba tidak muncul huruf kalau aku tekan." Bian mendengus kasar. "Sepertinya memang sudah saatnya aku mengganti dengan laptop baru."


"Coba lihat sebentar." Irene menghentikan makannya. Ia tarik laptop mirip Bian dan dihadapkan padanya. Terlihat lembar kerja yang sedang Bian ketik namun harus terhenti karena bermasalah dengan keyboard.


"Jangan malah tambah kamu bikin rusak ya, Ren! Kalau tidak bisa, biarkan saja begitu." Bian khawatir laptopnya dipegang oleh Irene. Ia takut laptopnya akan semakin parah kerusakannya.

__ADS_1


"Namanya juga usaha, Bian. Kemungkinannya hanya ada dua, rusak total atau kembali normal.


Irene fokus pada laptop yang ada di hadapannya. Jemarinya bergerak menekan-nekan tombol tertentu hingga nampak kode-kode pada layar laptop.


"Ada banyak data-dataku di dalam, Ren ... aku belum memindahkannya. Kamu jangan sembarangan menekan-nekan laptop milikku."


"Sstt! Jangan ganggu konsentrasiku." Irene tak terpengaruh dengan keluhan Bian. Ia terus mengutak-atik barang yang bukan miliknya itu.


"Majikanmu yang artis itu tidak datang lagi ke kampus?" tanya Bian.


"Kalau bicara jangan keras-keras, takut ada yang dengar malah aku kerepotan oleh fans Kak Arvy."


"Oh, iya. Aku sampai lupa."


Irene pernah bercerita kalau dirinya hanya seorang anak pembantu di rumah besar milik Arvy. Akan aneh kalau dia mengaku sebagai calon istrinya. Seisi kampus pasti akan gempar.


"Kamu beruntung sekali bisa bekerja di rumah artis dan pengusaha. Kalau ada yang tahu, mereka pasti akan iri."


Bian juga pernah bertemu dengan Alex dan Alan saat mengantar atau menjemputnya di kampus. Dia sudah tahu kalau mereka bersaudara dan Irene bekerja untuk mereka. Tapi, Bian belum tahu kalau Ares juga satu keluarga dengan mereka.


Bian tertegun saat Irene mengembalikan laptop miliknya. Rasanya baru sebentar Irene pegang tapi sudah selesai diperbaiki. Ia segera mengecek kembali laptopnya, takut bukannya diperbaiki malah tambah dirusak.


Ternyata memang benar, tombol-tombol keyboard laptop miliknya telah kembali berfungsi normal. Ia kagum dengan tangan ajaib wanita yang tidak pernah disangka-sangka bisa memperbaiki benda tersebut. Bian memang tidak bisa meremehkan Irene.


"Sudah beres, kan? Besok traktir aku ya, kalau mau berterima kasih." Irene melanjutkan kembali acara makannya yang tertunda.


"Bagaimana bisa kamu memperbaiki ini?"


Irene mengangkat kedua bahunya.


"Senang sekali bisa memiliki teman yang sangat berguna sepertimu." Senyuman Bian mengembang. Ia tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk memperbaiki laptopnya.

__ADS_1


"Aku juga bisa membantumu untuk dekat dengan Nida kalau memang kamu mau," celetuk Irene.


Perkataan itu membuat senyuman di bibir Bian memudar. Mengharapkan Nida, teman sejak ia kecil sepertinya hal yang mustahil. Ada begitu banyak perbedaan di antara mereka yang tidak mungkin disatukan. Perbedaan mendasar soal penampilan dan popularitas. Nida termasuk mahasiswi yang terkenal di kampus. Banyak yang menyukainya, termasuk Fathir.


"Kamu jangan bicara sembarangan, kapan aku pernah bilang suka dengan Nida?" Bian mencoba berkilah dari perasaannya yang sesungguhnya.


"Setiap hari matamu berbicara seperti itu. Aku bisa menangkap dari caramu memandang Nida. Entah Nida kurang peka atau dia hanya sekedar pura-pura tidak tahu, padahal perasaanmu sudah sangat tergambar jelas dari tatapan dan perbuatanmu."


Bian hanya tersenyum. Ia menyayangkan, kenapa yang peka terhadap perasaannya buka Nida, melainkan Irene.


"Kamu jangan menyebarkan berita yang tidak-tidak, ya ... aku takut Nida akan terganggu kalau kamu membuka mulut."


"Kamu tahu kan, aku bukan orang seperti itu." Akhirnya makanan Irene habis. Kini masih ada segelas jus jeruk yang harus ia habiskan.


"Untuk berdekatan dengan Nida saja aku harus hati-hati, takut ia dijauhi teman-temannya karena aku." Bian sadar diri sebagai orang yang tidak kompatibel bergabung dengan circle pergaulan Nida.


"Memangnya kenapa denganmu? Kamu bukan seorang pemabuk, pecandu narkoba, perampok, atau preman. Atas dasar apa pertemanan yang mereka bangun?" Irene tiba-tiba emosi. Bian merupakan teman pertama di Kota Surabaya, bahkan sampai sekarang masih menjadi teman satu-satunya. Bian anak yang sangat baik dan ramah. Tidak ada ruginya berteman dengan Bian.


"Kamu jangan pura-pura tidak tahu ... kita bisa berteman juga karena tidak ada lagi orang lain yang mau berteman dengan kita."


Irene mangguk-mangguk. "Hm, kata-katamu ada benarnya juga. Kita memang jelek. Hahaha ...." Irene terkekeh sendiri dengan kata-katanya.


"Ngomong-ngomong, kalau kamu diberi kesempatan untuk bisa bergaul dengan orang lain, termasuk circle Nida, apa kamu akan mengambil kesempatan itu?"


Bian meragukan pertanyaan yang Irene ajukan. Tidak mungkin ia diterima dalam peegaulan di kampus itu. Dari penampilan saja sudah tertolak.


"Tidak perlu menghiburku, aku sudah biasa merasakan kekecewaan."


"Siapa yang sedang menghiburmu? Aku bicara serius ...."


"Sudahlah, hal yang tidak mungkin tidak peelu dibayangkan. Untuk apa berandai-andai."

__ADS_1


"Aku bisa membantumu. Asalkan dalam dirimu ada kemauan untuk berubah dan mau menurut padaku."


Bian menatap serius wajah Irene. Wanita itu menyunggingkan senyum seolah meyakinkan bahwa Bian bisa asalkan punya kemauan yang kuat.


__ADS_2