
Irene masih menggambarkan desain gaun yang akan dikenakan Ruby. Bahkan setiap bagian gaun ia gambar pada masing-masing kertas agar lebih jelas detil yang akan dibuat. Ia mengerjakannya secara serius meskipun hanya untuk sebuah gaun pesta.
"Bagaimana, Ren?" tanya Alfa yang telah kembali ke ruang kerjanya menghampiri Irene.
"Oh, Kak. Urusan dengan Sovia sudah selesai?"
"Sudah. Dia masih fitting dengan asistenku si Nadia."
"Oh ...." Irene hanya mangguk-mangguk.
"Kalian nggak bertengkar kan tadi?" tanya Alfa penasaran.
"Hahaha ... Kak Alfa kira kami akan jambak-jambakan, ya?"
Alfa mengangkat kedua bahunya. "Yah, siapa tahu kan begitu," ujarnya.
"Kami tidak bagaimana-bagaimana, hanya ngobrol biasa sedikit."
"Kamu jangan terlalu mengurusi dia, Ren. Dulu dia memang punya sesuatu sampai Kak Alan susah lepas darinya. Entah bagaimana caranya mereka bisa putus, tapi aku juga ikut bersyukur. Sovia sangat licik, hati-hati dengannya," pesan Alfa.
Tanpa Alfa beritahu, orang seperti Sovia memang sudah bisa dibaca oleh Irene. "Oh, iya, Kak. Aku sudah menyelesaikannya. Kira-kira seperti ini." Irene memperlihatkan lembaran-lembaran kertas yang berisi gambar buatannya.
Alfa memperhatikan rancangan yang sudah dibuat dengan seksama. Apa yang Irene gambarkan sudah sama dengan yang mereka bahas sebelumnya.
"Ini bagus," puji Alfa.
Irene tersenyum puas. "Aku juga sudah mengambilkan sampel bahan yang ada di gudang Kak Alfa. Sepertinya tidak perlu request bahan dari luar. Ini dia yang akan digunakan untuk membuatnya."
Irene menunjukkan potongan-potongan sampel bahan yang akan dipakai.
"Untuk payet swaroski bagaimana? Apa di tempat payet kamu menemukan yang cocok? Soalnya aku tidak melihat stok," tanya Alfa.
"Ah, itu sepertinya tidak ada yang sama dengan projek ini. Kakak bisa pesan dulu dan tidak usah terburu-buru. Toh akan dipasang di akhir setelah jadi."
"Oke, nanti akan aku suruh asisten untuk mencarikannya. Kita minum dulu di luar, Ren. Aku sudah membelikanmu jajan dan minuman," ajak Alfa.
Mata Irene langsung berbinar mendengar kata makanan disebut. Air liurnya seakan tak sabar untuk mencecap makanan yang akan Alfa berikan.
__ADS_1
"Ayo, ayo!" katanya tanpa rasa sungkan.
Alfa hanya senyum-senyum. Irene memang selalu bisa kegirangan hanya karena makanan.
Ketika alfa dan Irene tengah menikmati makanan di ruang tengah, Sovia secara diam-diam masuk ke ruang kerja mereka. Ia melihat gaun yang belum sempurna yang terpasang pada manekin.
Di atas meja ada beberapa lembar gambar desain yang telah dibuat oleh Irene. "Sialan! Apa benar orang menjengkelkan itu yang sudah menggambar ini semua?"
Sovia terlihat kesal melihat gambar-gambar desain yang indah itu. Ia mengeluarkan ponselnya dan memotret satu per satu gambar yang Irene buat. Ia menyeringai.
"Sovia, kamu sedang apa di sini?" tegur asisten Alfa yang baru saja masuk ke ruangan untuk menaruh manekin di sana. Namanya Nadia.
Ia curiga dengan Sovia yang tengah berada di dekat rancangan Alfa sembari memegang ponselnya. "Kamu memotret rancangan itu, ya?" tebaknya.
Sovia terlihat sedikit panik. Ia khawatir jika kelakuannya dilaporkan kepada Alfa maka nama baiknya akan rusak dan karirnya hancur.
"Nad, tolong rahasiakan hal ini!" kata Sovia dengan nada lirih. Ia buru-buru berjalan menghampiri Nadia dan melihat kesekeliling, tidak ada orang lain selain mereka.
"Jangan gila kamu, Sov. Itu rancangan Kak Alfa!" tegur Nadia.
"Aduh, kamu diam, deh! Ini bukan rancangan Alfa, tapi si culun itu. Sudahlah, kamu pura-pura buta saja kalau tidak tahu," bujuk Sovia. Ia mengeluarkan dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan lalu disodorkan kepada Nadia.
Nadia masih tertegun dengan apa yang Sovia lakukan padanya. Tapi, uang yang Sovia berikan juga lumayan banyak. Ia tak mungkin menyia-nyiakannya.
Nadia kembali bekerja seperti tidak terjadi apa-apa. Ia menaruh manekin yang dibawanya dijejer dengan manekin lain.
Irene kembali ke ruangan desain Alfa. Ia melihat kertas-kertas yang ada di meja tampak berantakan.
"Nadia, siapa yang tadi memegang-megang ini?" tanya Irene.
Nadia sedikit terkejut. Ia tidak menyangka jika Irene akan menyadari hal tersebut. Ia pura-pura sibuk menata manekin.
"Aku tidak tahu, dari tadi aku sendirian di sini. Mungkin karena terkena kipas angin," ucap Nadia.
Irene memandang ke langit-langit ruangan. Memang di sana ada sebuah kipas angin yang tengah berputar. Ia melihat kertas-kertasnya, bahkan ia ingat betul urutannya sudah berubah. Tidak mungkin angin bisa membolak-balikkan halaman kertas tersebut.
Irene mengabaikannya. Ia kembali melakukan pekerjaannya. Kali ini ia akan mulai mengambil bahan yang akan ia gunakan untuk membentuk gaunnya.
__ADS_1
"Apa aku perlu membantu?" tanya Nadia.
"Tidak usah, aku tahu kamu sedang sibuk untuk persiapan fashion show. Aku bisa sendiri," tolak Irene.
"Oh, baiklah, kalau begitu, aku akan keluar dulu," pamit Nadia.
Irene mengangguk. Ia merasa lebih nyaman saat bekerja sendiri agar bisa fokus membuat desainnya.
Alfa niat awalnya hanya ingin meminta bantuan sedikit pada Irene. Nyatanya, Irene harus melanjutkannya sendiri karena Alfa sibuk dengan rancangannya yang lain.
Irene masuk ke dalam gudang, mengambil beberapa bahan yang ia butuhkan. Ia juga menggunting sendiri keperluan bahan yang akan digunakan.
Tok tok tok
Saat Irene tengah serius bekerja, pintu gudang tersebut ada yang mengetuknya. Ternyata yang datang adalah Alan.
"Masih belum selesai?" tanyanya.
Irene tersenyum. "Belum. Kakak sudah selesai pekerjaannya?" tanyanya balik.
"Sudah, makanya aku ke sini. Kata Alfa kamu ada di sini," kata Alan. "Ikut aku, yuk! Jangan memforsir diri kerja terus," ajaknya.
Irene berhenti melakukan pekerjaannya. Ia menghampiri Alan. Lelaki itu menggandeng tangannya dan mengajak keluar.
"Kak, kita mau kemana? Aku belum selesai?" tanya Irene kaget saat Alan mengajaknya ke luar butik.
"Makan malam. Pasti kamu belum makan, kan?" tajya Alan.
Irene menggeleng. Ia memang belum sempat makan namun sudah makan jajanan yang Alfa sediakan.
"Apa tidak pamit dulu pada Kak Alfa?" tanya Irene sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil Alan.
"Aku sudah memberitahunya, jangan khawatir!" ucap Alan.
Alan duduk di kursi kemudinya. Melihat Irene yang belum mengenakan sabuk pengaman, ia berinisiatif mendekatkan tubuh untuk memasangnya.
Ia menyunggingkan senyum saat melihat wajah tegang Irene yang kaget saat ia mendekat. Mungkin wanita itu mengira ia akan melakukan sesuatu padanya.
__ADS_1
Ia menjadi berkeinginan untuk iseng. Sengaja ia cium pipi Irene dengan gerakan yang cepat, membuat wanita itu mematung di tempatnya.