Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 43 : Partner in Crime


__ADS_3

"Masukkan kartun Shinchan, ya ... kita beri kejutan untuk Kak Alex. Dia pasti suka. Hahaha ...." Irene tertawa lepas sembari memperhatikan layar monitornya.


"Aku tidak tahu lagi, tapi sepertinya beberapa menit lagi kita akan mati." Ares turut fokus pada monitor. Keringat sampai menetes di wajah saking tegangnya.


"Tidak apa-apa, kamu tidak akan mati sendiri," jawab Irene.


"Hahaha ... terima kasih, jawabanmu sama sekali tidak menenangkan hatiku."


Hari itu, Irene dan Ares menjadi pasangan yang sangat kompak. Isi kepalanya sama, ingin membuat Alex marah karena telah berani mengabaikan mereka. Sebagai anak muda, resiko atas perbuatan yang mereka lakukan tidak dipikirkan. Mereka hanya tahu tentang kesenangan.


"Ups! Sepertinya kita sudah ketahuan. Cepat matikan!" Irene panik karena hacker perusahaan telah mengetahui keberadaan mereka.


"Keren juga hacker mereka. Hah! Goodbye kesenangan." Ares turut mematikan komputernya.


"Ye ...."


"Kita memang hebat. Hahaha ...."


"Setu sekali meretas sistem perusahaan orang. Hahaha ...."


Keduanya saling tertawa karena merasa puas sudah berhasil menjahili Alex. Mereka berjingkrak-jingkrak kegirangan sampai tidak sadar keduanya berpelukan. Sesaat setelah menyadari pelukan itu, mereka sama-sama melepaskan. Sangat jelas jika mereka salah tingkah.


Ares tidak paham dengan perasaannya sendiri. Irene semakin ia kenal semakin membuatnya merasa tertarik. Otaknya sepertinya sedang rusak, bisa berpikir bahwa ia menyukai wanita jelek itu. Sungguh mustahil, seleranya begitu rendahan. Kenapa harus Irene saat ada banyak wanita di luaran sana yang lebih cantik dan jatuh hati kepadanya.


"Kita duduk saja di sofa, makan-makan dan pura-pura tidak tahu," usul Irene.


"Oke, aku setuju denganmu. Kita lihat bagaimana respon Kak Alex."


Keduanya kembali duduk di sofa sembari membuka beberapa camilan yang tersedia di sana.


"Aku tidak menyangka kalau kamu pintar meretas sistem," guman Ares.

__ADS_1


"Memangnya hanya kamu yang boleh bisa?" Irene memakan camilannya dengan santai.


Ares tidak tahu betapa keras perjalanan hidup yang harus Irene jalani, terutama dalam mengasah skill. Memang, ia adalah orang yang hobi belajar. Akan tetapi, tidak semua hal yang dipelajarinya merupakan keinginan dirinya sendiri.


Sejak kecil sang kakek sudah menuntutnya untuk menguasai berbagai macam. Mulai dari bidng akademik, bela diri, hingga coding. Ia bisa berhasil menyelesaikan double major dalam usia muda juga tidak lepas dari dorongan sang kakek.


Irene belum tahu pasti alasan sang kakek mewajibkan banyak hal padanya. Setelah beranjak dewasa, ia semakin paham ternyata apa yang dilakukan kakeknya kini bisa membantu kehidupannya. Irene yang sekarang bisa tumbuh menjadi seorang wanita yang tangguh, mandiri, dan kuat.


"Aku juga tidak akan bisa menembus sistem ini sendiri tanpa bantuanmu. Yang tadi itu sangat keren." Ares mengacungkan jari jempolnya untuk Irene.


"Kamu juga hebat. Aku juga tidak bisa bekerja sendiri."


"Mungkin kita memang cocok menjadi partner in crime. Hahaha ...."


Klek!


Irene dan Ares diam saat engsel pintu ruangan mereka terbuka. Muncul dari balik pintu, Alex dengan wajah masamnya. Ia tak datang sendiri, melainkan bersama tiga lelaki lainnya.


Ares tersenyum melihat kedua pamannya juga ada di sana bersama kakaknya. "Halo, Om Januar, Om Harris ...," sapanya. Sudah lama Ares tidak berjumpa dengan mereka berdua.


Ares dan saudaranya yang lain masih aman karena kakek mereka masih hidup. Jika kakek sudah meninggal, mungkin mereka akan kembali ribut.


"Kak Alex kenapa wajahnya seperti tegang begitu?" tanya Ares.


Keempat lelaki itu masuk. Gean langsung memeriksa monitor yang ada di atas meja kerja Alex. "Benar, Pak," ucap Gean.


Alex menghela napas, berusaha tidak emosi dalan masalah ini. Melihat kedua anak polos yang ada di hadapannya, rasanya Alex tidak percaya kalau pelaku peretasan yang berniat sengaja mempermalukannya merupakan adik-adiknya sendiri.


"Kamu sedang apa di sini, Ares?" tanya Harris.


"Mengunjungi Kak Alex, Om. Aku ingin tahu bagaimana kakakku bekerja karena aku juga ingin bekerja di sini." Ares berkata dengan nada yang seolah ingin membuat pamannya itu kesal. Kedua paman Ares tidak akan suka jika saudara Alex yang lain berminat masuk ke perusahaan.

__ADS_1


"Sepertinya kamu belum paham mengenai aturan di kantor, Alex." Harris melirik tajam ke arah Alex.


"Maaf, Om. Saya juga tidak tahu karena Ares tiba-tiba datang."


Alex sudah tahu bahwa kehadiran Ares dan Irene akan dijadikan alasan untuk menyudutkannya. Sepertinya mereka tidak sabar untuk mengganti posisi CEO yang dipegang Alex beralih pada anak mereka sendiri. Ditambah lagi dengan kekacauan yang terjadi dalam ruang rapat, serta proyek yang terancam batal.


Alex sudah meminta sekertaris dan Erika untuk menggantikan dirinya di ruang sidang. Ia harap sidang bisa berlanjut dengan lancar tanpa kendala yang berarti. Kalaupun pelakunya Ares, ia akan berusaha membelanya, karena Ares adalah adiknya sendiri.


"Ares, apa benar kamu yang sudah membuat kegaduhan di kantor ini?" tanya Januar.


"Maaf, Om. Sejak tadi kami terus di sini. Di depan juga banyak sekuriti. Kata Kak Alex, kami tidak boleh kemana-mana. Memang ada kegaduhan apa?"


Ares berlagak tidak tahu dan wajah dibuat polos supaya orang merasa kasihan padanya. Sementara, Irene tidak peduli dengan percakapan di antara mereka yang sangat sulit dipahami. Ia terus fokus memakan camilan-camilan yang tersedia dengan santai.


"Jawab saja dengan jujur, Ares. Kamu kan yang meretas komputer kantor?" tanya Alex dengan sabar. "Irene ...." Merasa Ares susah untuk ditanya, ia beralih pada Irene.


"Benar, Kak. Tadi kami mencoba main komputer di ruangan Kak Alex," jawab Irene datar.


Ares langsung mendelik ke arah Irene. Tadi mereka sudah sepakat tidak akan mengaku, sekarang Irene dengan santainya mengaku.


"Anak ini benar-benar ...." Harris tampak begitu geram.


"Kalian ... apa yang kalian lakukan?" Januar memijit dahinya yang pening.


"Ares, Irene ... ini adalah perusahaan. Tolong, hentikan pikiran main-main seperti anak-anak."


"Kami tidak sedang main-main!" kilah Irene.


"Anak ini ... siapa sebenarnya dia? Berani sekali berbicara terhadap pemilik sah perusahaan." Harris murka. Jika Januar tidak menahannya, mungkin ia sudah menjewer telinga Ares dan Irene.


"Pasti Kakak Hacker itu sudah tahu, kalau sebenarnya kami hanya nakal sedikit." Irene menunjuk pada Gean yang masih berjibaku dengan monitor milik Alex. "Tidak ada satupun data perusahaan yang kami curi atau otak atik, kok."

__ADS_1


"Yang tadi hanya sebatas ucapan terima kasih untuk Kak Alex yang sudah menyambut kami di kantor denga baik," sindir Irene.


Alex akhirnya sadar kalau kedua anak itu dendam kepadanya. Ia sampai menghela napas saking gregetan dengan jenis bercandaan mereka yang seperti asli.


__ADS_2