
"Untung tanganmu tidak patah!" Alex memukul pelan kepala Ares. Ia merangkul adik bungsunya itu dengan sayang.
Tangan Ares tampak dibalut dengan perban dan diberi penyangga lengan yang dikalungkan ke leher. Alex sempat khawatir saat mendapat kabar bahwa adiknya masuk rumah sakit. Anak itu memang sudah biasa berkelahi, namun dikabari tangannya sampai patah sudah sangat mengkhawatirkannya. Ia sampai izin pulang cepat dari kantor demi melihat kondisi Ares.
Bahkan rasa marah gara-gara kejadian siang tadi di kantor sudah ia lupakan. Adik nakalnya tetap menjadi anak yang membuatnya khawatir.
"Oh, iya. Irene mana?" tanya Alex.
"Dia sudah pulang."
"Mana kunci motormu? Aku akan menitipkan di resepsionis supaya diambil anak buahku."
"Sudah dibawa pulang oleh Irene."
Alex menghentikan langkah. Ia kaget dengan perkataan Ares. "Irene membawa pulang motormu?" tanyanya meyakinkan.
Ares mengangguk. "Kaget kan, Kak?" Ia sudah menebak kalau kakaknya juga tidak akan berekspektasi begitu. "Dia itu juga yang membantuku melawan Fathir dan teman-temannya. Dia juga yang mengantarku ke rumah sakit menaiki motorku. Pokoknya dia tidak sepolos dari penampilannya. Aku rasa dia mantan preman."
Ares bercerita panjang lebar tentang Irene. Selain dirinya, Alex juga dibuat terkejut dengan Irene. Apalagi jika dihubungkan dengan kejadian tadi siang di perusahaan. Jika Ares sendirian yang mengutak-atik sistem di kantornya, dia tidak mungkin sepandai itu. Pasti Irene yang memiliki andil besar dalam kekacuan yang dibuat. Apalagi cara Irene bicara terlihat sangat tenang dan percaya diri, menunjukkan bahwa dirinya memiliki kompetensi yang tinggi.
Awalnya Alex sempat meragukan pilihan sang kakek. Tidak mungkin Beliau memilihkan calon menantu secara asal-asalan tanpa pertimbangan. Melihat penampilan Irene yang urakan dan kampungan membuat Alex tercengang. Namun, ia tetap berusaha menghormati kehadiran tamu yang diundang secara khusus oleh kakeknya.
Berkat Irene, kelima bersaudara bisa kembali tinggal di rumah yang sama. Masa-masa kecil yang menyenangkan seakan terulang kembali. Apalagi kini telah bertambah Irene yang membuat suasana rumah semakin meriah.
Meskipun awalnya sering ribut, lambat laun ia dan saudara-saudaranya bisa menerima keberadaan Irene. Bahkan, sekarang Irene sudah seperti anggota keluarga sendiri.
Irene memiliki penampilan yang bisa dikatakan sangat biasa. Namun, ketika mencoba untuk lebih dekat dengannya, Irene merupakan pribadi yang sangat menyenangkan dan mudah beradaptasi.
Alex dan saudaranya memiliki sifat yang berbeda-beda. Irene bisa bersikap sesuai dengan karakter mereka. Saat diajak bicara selalu bisa nyambung dengan topik yang dibahas. Seakan menunjukkan bahwa Irene memiliki wawasan yang sangat luas.
__ADS_1
"Kak ...," panggil Ares.
"Kenapa?" Alex menoleh kepada Ares.
"Kapan Kakek pulang?" tanyanya.
"Kenapa tidak telepon sendiri? Tanyakan langsung kepada Kakek."
Ares menghela napas. "Ya sudah, tidak jadi!" Ia ngambek duluan. "Kita pulang sekarang saja, Kak." Ares kembali mengajaknya berjalan menuju tempat parkir.
"Memangnya kenapa kamu ingin tahu kapan Kakek pulang? Kamu tidak sabar untuk melamar Irene?" ledek Alex.
"Oh, come on! Memikirkan saja aku ingin muntah rasanya." Ares mempercepat langkahnya. Ia kesal kakaknya membuat dirinya sebagai bahan gurauan.
Alex tertawa puas bisa membuat Ares marah. "Aku kira kamu sudah tergila-gila dengannya. Soalnya dari kita berlima kamu yang paling sering bersamanya. Bahkan kalian satu kampus pasti juga lebih sering bertemu."
"Kalau aku tidak masalah."
Ares menghentikan langkah. Dia berbalik menghadap sang kakak yang tampak menyunggingkan senyum dengan ucapannya tadi.
"Kalau di antara kita berlima tidak ada yang menginginkan Irene dan Kakek tetap memaksa salah satu dari kita menikahinya, aku akan menikahi Irene." Alex menjawabnya dengan nada yang begitu tenang seakan ia serius mengatakannya.
Giliran ares yang terkekeh dengan ucapan kakaknya. Ia kira kakaknya sedang bergurau tentang pernikahan. Tidak mungkin kakaknya mau dengan Irene yang jelek.
"Jangan bercanda, Kak. Nanti aku bilang ke Irene Kak Alex bisa repot sendiri."
"Aku serius," ucap Alex. "Sejak pertama menjemputnya di stasiun, aku merasa kalian tidak ada yang tertarik padanya. Sementara, Kakek pasti memilihkan seseorang dengan suatu alasan. Aku sudah menentukan pilihanku di detik aku bertemu dengannya."
Ares tercengang mendengar jawaban kakaknya. "Tidak mungkin Kakak jatuh cinta pada pandangan pertama Irene." Kalau diingat-ingat kembali, Ares sangat kaget saat pertama melihat Irene. Wanita itu persis seperti pengemis di lampu merah.
__ADS_1
"Ini bukan masalh cinta, tapi tanggung jawab. Salah satu dari kita harus ada yang bersama Irene."
"Yakin, Kakak mau dengan wanita jelek itu?" Ares masih penasaran dengan kakaknya.
"Menurut kakak, wanita sama semua, punya kelemahan dan kelebihannya masing-masing. Menurut kakak, Irene juga tidak sejelek itu. Aku lihat foto penampilan Irene di majalah yang Alfa berikan, dia sangat cantik. Mungkin dia malas dandan saja makanya kelihatannya jelek."
"Lagipula, dia wanita yang cerdas. Bahkan kamu lebih tahu apa saja kelebihannya. Kakak sendiri tidak akan menyesal jika dipasangkan dengan Irene."
Entah mengapa perasaan Ares mendadak resah. Ia kelihatan tidak suka mendengar Alex memuji Irene. Wanita itu tetaplah wanita jelek. Meskipun punya beberapa bakat, Irene tetap jelek. "Lalu, bagaimana dengan Kak Erika?" tanyanya.
Alex mengerutkan dahinya. "Erika? Kenapa dengan Erika?"
"Bukannya Kakak menyukai dia?"
"Tentu, kakak sangat menyukainya. Tapi sebatas teman. Kamu pikir hubungan kami seperti apa? Pertemuan dan kedekatan kami hanya untuk bisnis."
Ares memutar malas bola matanya. Alex itu orang yang aneh. Kakaknya itu sangat peduli dengan saudara-saudaranya, namun sepertinya dia kurang peka dengan perasaan orang lain. Padahal, Ares sendiri bisa melihat ada rasa yang terlancar dari setiap tatapan mata yang Erika berikan kepada kakaknya. Mereka sudah dekat dan berteman sejak kecil, namun Alex tidak bisa melihat cinta yang ada di depan matanya.
"Tapi, kalau Irene tidak menyukai Kakak bagaimana?" tanya Ares lagi.
"Ya ... tidak apa-apa. Masa mau aku paksa?" Alex menjawabnya seperti tanpa beban.
"Lalu, Kakak sebenarnya mau menikah dengan siapa?"
"Ya, siapa saja asalkan wanita. Kamu itu ada-ada saja. Cepat masuk ke mobil!" Alex menyudahi perbincangan di antara mereka. Ia masuk ke sisi kemudi mobil Audy warna hitam miliknya. Alex membantu Ares memasangkan sabuk pengaman. Setelah itu, barulah ia mulai menginjak pedal gas mobilnya.
"Aku rasa Kakak lebih mencintai pekerjaan daripada apapun," ucap Ares.
Alex hanya tersenyum mendengar pendapat adiknya. Sebenarnya, hal yang paling ia cintai adalah keluarga, yaitu saudara-saudaranya. Itu menjadi salah satu alasan ia mau bergabung dalam perusahaan.
__ADS_1