
"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Irene.
Ia baru saja keluar dari kamar mandi. Terlihat Alan tengah sibuk mondar-mandir seperti sedang gugup.
"Arvy katanya hilang. Aku mau pergi mencarinya," jawab Alan seraya menghampiri sang istri dan menciumnya.
Irene memegangi lengan Alan. "Arvy hilang?" tanyanya heran.
"Iya, katanya dia terbawa ombak waktu sedang syuting. Baru saja Papa mengabari begitu. Aku sudah menghubungi tim sar terbaik untuk membantu. Ini aku mau berangkat melihat kondisinya."
"Ikut!" kata Irene.
"Kamu di rumah saja. Atau kalau tidak, pergilah ke rumah Mama dan temani dia. Tadi Mama sepertinya sedang menangis," pinta Alan.
"Aku ikut! Aku juga mau mencari Arvy!" rengek Irene.
"Ini sudah sore. Aku rasa sampai di lokasi juga malam hari. Jadi lebih baik kamu tidak usah ikut," ujar Alan.
Irene menggeleng. Ia tetap memegangi lengan Alan dan meminta ikut.
Alan menghela napas panjang. Baiklah, cepat ganti baju!" katanya.
Irene kembali berlari ke arah walk in closet untuk mengganti pakaian yang lebih nyaman. Tak butuh waktu lama, ia sudah siap mengenakan kaos dan celana jeans menemui Alan kembali.
"Pakai jaketnya! Jangan sampai masuk angin!" kata Alan sembari memasangkan jaket pada tubuh Irene.
Ia menggandeng sang istri dengan mesra. Keduanya keluar dari unit apartemen dan menaiki lift. Setibanya di basement, Alan membukakan pintu mobil agar Irene masuk ke dalamnya. Alan segera mengemudikan mobilnya.
__ADS_1
"Memangnya Arvy hilang di mana?" tanya Irene yang masih penasaran.
"Daerah pantai X," jawab Alan sembari tetap fokus pada kemudinya.
"Aku rasa sekarang memang sedang musimnya ombak besar. Berani-beraninya tim produksi memaksakan memilih tempat syuting di sana? Itu sama saja sengaja mengundang bahaya," ujar Irene.
"Entahlah! Kita berdoa saja supaya Arvy bisa selamat."
Alan terus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi sampai akhirnya mereka sampai di wilayah bandara.
"Sayang, kenapa kita kesini?" tanya Irene yang masih keheranan. Tangannya digenggam erat oleh Alan. Ia diajak melangkah dengan gerakan yang cepat.
"Kita akan ke sana naik helikopter," jawab Alan tanpa menghentikan langkah mereka.
Untung saja Alan memiliki helikopter sendiri sehingga bisa digunakan pada saat-saat yang mepet.
"Pak Alan, semuanya sudah siap," kata sang pilot.
"Kami siap membawa Anda terbang," sambung sang co pilot.
Alan mengangguk. Ia membawa sang istri masuk ke dalam badan helikopter. Pilot dan co pilot duduk di bagian depan untuk mengatur navigasi. Sementara, di bagian belakang kursi Alan dan Irene ada satu lagi staf yang bertugas memastikan keduanya aman di atas sana.
Usai sabuk pengaman terpasang dengam aman, helikopter mulai bergerak naik ke atas. Irene bisa menyaksikan pemandangan dengan jelas dari atas sana.
Butuh waktu satu jam hingga mereka bisa sampai di tempat kejadian. Kondisi di sekitar pantai masih terlihat ramai oleh tim pencari.
"Sayang, apa di sini tempatnya?" tanya Irene.
__ADS_1
"Iya," jawab Alan dengan singkat. Ia mencemaskan kondisi adiknya.
"Itu sudah banyak tim penyelamat yang datang. Sejauh ini apa sudah ada kabar?"
Alan menggeleng. "Belum. Sama sekali belum ada kemajuan," katanya dengan raut kecewa.
Irene tak berani bertanya lagi.
Helikopter masih terbang tinggi di seputaran tempat kejadian. Mereka berputar-putar di atas lautan yang luas.
"Bagaimana?" tanya Alan kepada sang pilot lewat alat komunikasi yang terpasang di kepalanya.
"Kami belum menemukan tanda-tanda apapun, Pak," jawab sang pilot.
Alan merasa semakin khawatir. Di tengah laut tak ada tanda-tanda keberadaan adiknya. Hanya ada sekumpulan air yang bisa terlihat.
"Ah, sial! Kenapa gelombang lautnya tinggi begini," gerutu Alan. Tim pencari tidak berani menggunakan kapal untuk melakukan pencarian. Mereka hanya sibuk menyisir di sekitaran pantai.
"Bagaimana kalau kita lanjutkan pencariannya besok saja, Sayang? Hari sudah semakin gelap. Tidak mungkin kita bisa menemukan mereka," usul Irene.
"Aku khawatir kalau Arvy tenggelam. Para penyelam juga tidak berani melakukan pencarian," ujar Alan memasang wajah cemasnya.
Irene menggenggam tangan Alan. "Arvy bisa berenang. Aku yakin dia akan baik-baik saja. Mungkin dia sudah terdampar di pesisir pantai, Tau malah di salah satu pulau kecil yang ada di sekitar sana," katanya sembari menunjuk ke arah yang dimaksud.
Alan merasa penjelasan Irene ada benarnya. "Baiklah, kita istirahat dulu dan besok kita lanjutkan pencarian," katanya sepakat.
Ia meminta pilot untuk membawa helikopter kembali ke daratan.
__ADS_1
Alan menginap di salah satu resort yang ada di sekitar pantai. Di sana ia tetap berkoordinasi dengan tim penyelamat untuk menentukan strategi esok hari.