
"Nanti aku akan menjemputmu. Kabari kalau jadwal pulang lebih awal," kata Alan usai mengantar Irene sampai di gerbang kampus.
Irene mengangguk. Ia menunggu sampai mobil Alan pergi dan tak terlihat lagi.
Drrtt ... Drrtt ....
Ponsel Irene berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Ron.
"Kenapa, Ron?" tanya Irene.
"Nona, ini gawat."
Irene mengerutkan dahi. Segera ia mencari tempat yang cukup lengang agar bisa berbicara dengan anak buahnya. "Gawat kenapa?" tanyanya.
"Sistem pertahanan kita diserang seseorang, Nona. Kemungkinan hacker kali ini bisa membobol sistem data kita. Apa yang harus saya lakukan?"
Irene menggigit bibirnya. Selama ini rahasia data tentang dirinya dan keluarganya sangat aman di bawah kendalinya. Baru kali ini Ron terlihat gusar menghadapi peretas yang berusaha membobol pertahanan sistem mereka.
"Nona, cepatlah datang ke sini. Saya dan Bimbim akan mencoba bertahan sampai Nona datang," pinta Ron.
"15 menit lagi aku akan datang ke sana," ucap Irene seraya menutup teleponnya.
***
"Halo, Ben? Bagaimana pesananku, apakah kamu sudah menyelesaikannya?" tanya Alan.
Selepas mengantarkan Irene ke kampus, ia menghubungi orang yang bertanggung jawab membuat ikon perusahaan dengan batu giok darah miliknya.
"Sudah saya selesaikan, Pak. Anda bisa mengeceknya di galeri secara langsung."
"Kalau gelangnya?"
"Itu juga sudah saya selesaikan sesuai permintaan Anda."
"Baguslah, sebentar lagi aku akan datang ke sana," kata Alan.
***
Irene mendatangi apartemen yang Ron tempati di Kota S. Ia sangat penasaran dengan orang yang berusaha menguliknya.
"Nona, akhirnya Anda datang!"
Ron terlihat senang melihat kehadiran Irene. Ia langsung mengarahkan Irene ke ruangan yang tengah ditangani oleh Bimbim. Irene segera duduk menghadap layar monitor yang berada di samping Bimbim.
"Orang gila dari server mana yang berusaha masuk ke sistemku?" gerutu Irene sembari memainkan jemarinya di atas keyboard sembari mengecek bagian-bagian sistem yang berhasil diretas orang asing.
__ADS_1
"Kalau dilihat dari alamat IP-nya, dia berasal dari India," kata Ron.
Irene menyunggingkan senyum. "Baiklah kalau memang mau memancingku, kita hadapi saja. Apakah kamu bisa tetap masuk ke sistemku?"
Irene mempercepat usahanya memperbaiki bagian-bagian sistem yang telah kecolongan. "Bimbim, naikkan level sistem keamanan kita. Kunci setiap bagian yang bisa diretas kembali!" perintahnya.
"Baik, Nona." Bimbim turut membantu Irene mengamankan data-data mereka.
Sementara, Ron hanya melihat kedua orang itu yang sedang bekerja keras memperbaiki data.
"Aneh sekali orang ini. Sebenarnya apa yang dia incar dariku? Kenapa mau mengulik informasi pribadiku?" gumam Irene.
"Mungkin dia sedang ingin menarik perhatian Nona," kata Bimbim.
"Kalau mau belajar iseng meretas data, seharusnya masuk ke situs-situs pemerintahan saja. Sistemnya kebanyakan masih mudah ditembus. Kenapa iseng mengintai data perorangan sepertiku?" gerutu Irene.
Nging nging nging ....
Alarmnbahaya berbunyi. Irene mengusap kasar wajahnya. Sebagian datanya berhasil ditembus hacker lawan. Meskipun ia cepat-cepat memperbaiki kebocoran data, ada kemungkinan informasi pribadinya sebagian telah diketahui pihak lain.
Irene telah termakan jebakan hacker lawan. Sepertinya hacker kali ini memang sedang berusaha menarik perhatiannya.
"Bagaimana ini, Nona?" tanya Ron bingung.
"Kalian tambahkan saja sistem keamanan yang berlapis-lapis. Jangan sampai hal ini terulang kembali," kata Irene.
"Baik, Nona."
"Kalau begitu, aku pergi dulu."
Irene memakai kembali topinya. Dilihatnya jam tangan, ia sudah sangat ketinggalan jika ingin menghadiri perkuliahan.
"Bolos kali ini," gumam Irene.
Saat Irene tiba di area mall lantai dasar, terlihat kerumunan yang cukup ramai. Banyak poster yang menampilkan wajah Julian Wilson terpasang di sana.
Orang-orang tampak berjajar mengantri untuk masuk ke area fan meeting yang diadakan di sana. Irene hampir tidak percaya orang seperti Julian akhirnya bisa menjadi idola. Dia salah satu artis yang menurut Irene sombong dan selalu meremehkan Arvy. Bahkan Julian pernah mengejek Arvy tidak pantas menjadi artis karena pendidikannya yang rendah.
Selain lagu milik Arvy, lagu yang Julian bawakan juga masuk dalam jajaran lagu populer. Sepertinya itu yang membawa Julian ke puncak kepopuleran sebagai penyanyi top seperti Arvy. Dalam waktu singkat, ia sudah memiliki banyak penggemar.
"Irene?"
Irene menoleh ke asal suara yang memanggilnya. Ternyata Sovia. Lagi-lagi ia harus dipertemukan dengan wanita ular itu.
"Kamu fans Julian Wilson juga? Mau ikut fan meeting?" tanya Sovia dengan nada meledek.
__ADS_1
"Tidak. Aku hanya kebetulan lewat," kilah Irene.
"Benarkah? Aku rasa tidak ada wanita normal yang akan menolak pesona Jonathan, apalagi suara merdunya," kata Sovia.
"Apa hubunganmu dengan Julian? Apa kalian pacaran?" tanya Irene.
Sovia berdecih. Kekesalannya kepada Irene kembali tumbuh teringat tentang hubungannya yang kandas dengan Alan.
"Kenapa kalau aku pacaran dengannya? Bukankah hal itu wajar? Orang cantik sepertiku mudah membuat lelaki jatuh cinta," kata Sovia dengan percaya diri.
Irene rasanya ingin muntah mendengar ucapan Sovia.
Tak berapa lama, terdengar musik diputar. Jonathan Wilson menyanyikan lagu populernya yang berjudul Semua Tentang Cinta. Suara merdunya menghipnotis semua penonton untuk memperhatikannya. Kharisma Jonathan begitu bersinar di atas pentas.
"Bukankah lagu yang dibawakannya sangat indah? Dia memang sangat bertalenta dan patut menjadi penyanyi top. Tidak seperti Arvy yang terkena kasus plagiat," sindir Sovia.
Irene tersenyum. "Sepertinya kamu kurang mengikuti berita terbaru tentang Arvy. Sangat memalukan kalau kamu tidak tahu," bantahnya.
"Lagipula, kalau Jonathan benar-benar bertalenta, kenapa hanya satu lagu itu saja yang terkenal? Apa dia tidak ada bakat membuat lagu lain yang enak didengar? Atau jangan-jangan satu lagu itu saja dia buat dari hasil plagiat?" Irene membalas perkataan Sovia.
Kali ini giliran Sovia yang kehilangan kata-kata. Irene langsung pergi setelah membuat Sovia mati kutu.
Sovia berjalan ke arah panggung menghampiri Jonathan yang baru selesai bernyanyi. "Penampilanmu sangat bagus, Jo," puji Sovia.
Jonathan tersenyum. "Terima kasih," ucapnya.
"Hai, Jo!" sapa Ron yang menyrmpatkan diri menemui Jonathan di belakang panggung.
"Oh, Kak Ron datang juga," kata Jonathan tidak menyangka.
Ron hanya tersenyum. "Tadi Hyena datang dan melihat penampilanmu," ucapnya.
Raut wajah Jonathan langsung berubah muram. "Lalu, dimana dia sekarang?" tanyanya.
"Dia sudah pergi."
Jonathan menghela napas. "Kenapa Hyena bisa membantu Arvy menciptakan lagu? Apa hubungan mereka sangat dekat?"
Lagi-lagi Ron tersenyum. "Kamu bisa menanyakannya langsung pada Hyena alasannya. Mengapa dia mau membantu Arvy Galaksi menulis lagu," katanya.
Jonathan terlihat kesal karena Ron tak mau menjawabnya. Bahkan Ron langsung pergi setelah mengatakan hal itu.
"Sudahlah, kamu tidak perlu terlalu memikirkan tentang Hyena. Yag penting lagumu bagus dan kamu sekarang jadi penyanyi terkenal," kata Sovia menghibur.
"Apa kamu bisa membantuku mencari tahu tentang Hyena?" tanya Jonathan.
__ADS_1