
"Habis atraksi di mana, Ren? Kok kakinya kayak orang pincang?" ledek Ares yang sedang bersantai di ruang tengah lantai atas. Ia keheranan melihat Irene datang dipapah oleh Alan.
"Atraksi di kandang macan!" jawab Irene ketus.
"Berangkat masih sehat pulang jadi begini. Pakai baju macam apa itu? Kok kayak seragam joki kuda? Kamu pasti habis maksa Kak Alan latihan berkuda, ya? Rasain jatuh. Hahaha ... Makanya bari libur seperti aku saja, santai di rumah main game."
Irene habis diledek Ares. Ia hanya berusaha mengabaikan dan ingin segera masuk ke dalam kamarnya.
"Berhenti meledek Iren, Res!" tegur Alan. Lirikan matanya membuat Ares langsung terdiam dan memilih melanjutkan nonton TV.
Alan membukakan pintu, membantu Irene masuk ke dalam kamarnya. Ia mendudukkan Irene di ranjang dan menyuruhnya berbaring.
"Banyak-banyak istirahat supaya cepat pulih," nasihat Alan.
"Hahaha ... Kenapa aku diperlakukan seperti luka parah? Ini hanya keseleo."
"Apapun namanya, kalau sakit ya harus istirahat!" tegas Alan.
Irene mengembangkan senyum. Ia merasa senang diperhatikan oleh Alan. "Makasih ya, Kak. Sudah dua hari menjadi pacar pura-puraku. Aku sangat berhutang budi padamu," katanya.
Alan menarik kursi yang ada di kamar itu dan duduk di dekat Irene. Ia pandangi wajah Irene yang terlihat sudah segar kembali.
"Bagaimana kalau kita pacaran sungguhan saja?" tanyanya.
Irene mematung. Ia merasa sedang berhalusinasi mendengarkan perkataan Alan. "Hahaha ... Bercandanya tidak lucu, Kak! Bagaimana bisa kita pacaran sungguhan. Bukankah itu terlalu aneh?" Irene tertawa ringan.
"Ah, kamu tahu saja kalau aku bercanda. Jadi, simpan hutang budimu untuk lain kali. Aku pasti akan menagihnya."
Alan menepuk lembut kepala Irene. Setelah itu, ia keluar dari kamar Irene.
***
"Terima kasih sudah mengantarku ke kampus. Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot begini," kata Bian yang merasa tidak enak pada Arvy.
Hari ini Bian dijemput di rumahnya oleh Arvy untuk diantar ke sekolah. Arvy sudah berjanji akan mengantar Bian selama sakitnya belum sembuh. Kaki Bian masih berbalut perban. Ia juga harus menggunakan bantuan tongkat untuk berjalan.
"Bukannya kita sudah menjadi teman? Kenapa harus merasa sungkan?" kata Arvy.
"Tetap saja aku sebenarnya tidak enak hati merepotkanmu begini. Jadwalmu pasti juga sangat sibuk."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, manajerku sudah mengatur waktunya."
"Oh, iya. Boleh aku meminta sesuatu?" tanya Bian.
"Katakan saja," kata Arvy.
"Pacarku sebenarnya juga penggemarmu. Bolehkan kapan-kapan dia bertemu denganmu?" tanya Bian sungkan.
"Oh, boleh. Ajak saja kalau kita bertemu," jawab Arvy.
"Baiklah kalau begitu, aku akan masuk." Bian mengambil tongkatnya yang diletakkan di bagian belakang.
"Aku minta maaf tidak bisa mengantarmu sampai ke dalam," kata Arvy menyesal.
"Tidak apa-apa. Aku tahu kondisimu. Nanti kalau kamu masuk, suasana kampus malah jadi ramai."
Bian keluar dari mobil Arvy dan berjalan menggunakan tongkat sebagai penyangga. Perlahan ia berjalan menuju ruang kelasnya. Sepanjang jalannya, banyak yang terkejut dengan kondisinya.
"Loh, Bian! Kamu kenapa?" seru Irene kaget melihat Bian yang baru masuk ke kelas dengan kondisi kaki pincang.
Bian duduk di samping Irene. Beberapa orang juga penasaran dengan kondisi Bian.
"Pantas nomormu tidak bisa dihubungi. Kenapa tidak mengabariku? Dasar s1alan!" kesal Irene. Ia sedikit marah karena Bian tidak menceritakan apa yang menimpanya.
"Aku tidak mau membuatmu khawatir. Lagipula, kondisiku juga sudah jauh lebih baik."
Pantas saja waktu itu Bian tidak masuk kelas. Ternyata pada hari itu Bian mengalami kecelakaan.
"Kamu sendiri juga kenapa? Kakimu kok diperban seperti itu?" tanya Bian.
"Ah, ini. Aku terkilir, jatuh dari kuda," jawab Irene.
***
"Jo, aku mendapatkan foto-foto yang bagus."
Seorang wanita misterius yang mengenakan masker menemui Jonathan. Ia memberikan sebuah amplop coklat kepada Jonathan.
"Beberapa hari ini aku membuntuti Arvy. Dia aku lihat tampak masuk dan keluar dari rumah sakit bersama dengan seorang wanita. Tapi, aku belum tahu siapa wanita yang bersama Arvy dan apa yang mereka lakukan di sana."
__ADS_1
Jonathan membuka amplop itu. Ia tersenyum lebar memandangi foto-foto yang didapatkan orang bayarannya.
Beberapa foto menunjukkan kemesraan antara Arvy dan seorang wanita memakai hoody dan masker. Memang tidak jelas identitas wanita itu. Yang jelas, ada kemajuan baginya untuk menjatuhkan Arvy.
"Sepertinya mereka ada hubungan dekat. Mereka aku pergoki tiga kali mengunjungi rumah sakit yang sama."
"Apa mungkin ini pacar Arvy? Untuk apa mereka ke rumah sakit? Jangan-jangan mereka ab0rsi," tebak Jonathan. Pemikiran seperti itu terlintas begitu saja di pikirannya.
"Aku tidak tahu pasti. Tapi, aku bisa membuat media mengeluarkan berita yang bisa menghancurkannya kalau kamu mau."
Wanita itu melepaskan maskernya. Dengan tingkah menggoda, ia mengalungkan tangan ke leher Jonathan. "Tapi kamu tahu, kan? Bantuanmu tidak cuma-cuma. Aku butuh imbalan," katanya.
"Apa maumu, Sisil?" tanya Jonathan.
"Aku mau kamu!" Sisil mengusap pipi Jonathan seperti wanita yang tengah merayu.
Jonathan tertawa kecil. "Apa kamu gila? Sekarang aku tunangan Sovia, teman baikmu," kata Jonathan. Ia tidak menyangka jika wanita itu menginginkan dirinya.
"Aku tahu ... Aku juga tidak bermaksud merebutmu. Aku hanya ingin merasakan kehangatan tubuhmu. Kamu boleh merahasiakan dari Sovia. Aku pandai menutup mulut," rayu Sisil.
Dengan berani wanita itu mulai membuka satu per satu kancing memeja yang Jonathan kenakan. "Kamu sudah menjadi seorang artis yang terkenal. Itu membuatku semakin menginginkanmu."
Tanpa rasa malu, Sisil menyentuhkan tangannya pada dada bidang Jonathan. Lelaki itu selain memiliki suara yang merdu juga memiliki tubuh yang bagus juga. Ia jadi iri kepad Sovia yang bisa mendapatkan lelaki seperti itu.
Lebih berani lagi Sisil mulai melepaskan ikat pinggang yang melilit di pinggang Jonathan.
"Hentikan, Sisil," pinta Jonathan.
Sisil menepis tangan Jonathan. "Kamu tahu kan, kalau aku dekat dengan media. Bukannya kamu sangat menginginkan kehancuran Arvy? Aku akan membantu mewujudkannya. Jadi, kita lakukan saja apa yang sama-sama menguntungkan," rayunya.
"Aku sudah mempersiapkan uang yang kamu mau." Jonathan masih berusaha menolak.
Sisil tersenyum. "Kali ini aku tidak menginginkan uangmu. Aku hanya ingin tidur denganmu. Kalau kamu setuju, ayo kita lakukan sekarang."
Jonathan berpikir sejenak. Ia sebenarnya tidak tega mengkhianati Sovia. Namun, ia juga tidak bisa mengabaikan mimpinya menjadi bintang yang paling bersinar. Selama ada Arvy, karirnya hanya menjadi bayang-bayang.
"Bantu aku menghancurkan Arvy," kata Jonathan.
Sisil mengembangkan senyuman. Ia langsung menyambar bibir Jonathan dan memagutnya. Jonathan tak bisa menolak, ia juga menyambut pagutan Sisil. Keduanya berciuman dengan begitu panas. Satu persatu pakaian mereka mulai terlepas.
__ADS_1
Mereka seakan telah melupakan segalanya. Hanya na fsu yang menguasai. Peluh dan keringat yang menetes tak menghentikan aktivitas in tim yang mereka lakukan. Keduanya saling mengejar kepuasan hasrat yang telah membara dan tak terpadamkan.