Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 167: Beri Aku Uang


__ADS_3

"Nona, kapan Anda akan kembali?" tanya Jay.


"Mungkin dua hari lagi kalau sudah bertemu dengan Kak Hamish. Dia membuatku khawatir," jawab Irene.


"Kalau Anda ingin bertemu dengan Tuan Hamish, kenapa tidak mencoba menemuinya di perusahaan, Nona?"


Irene baru sadar mendengar ucapan Jay. Hamish sepertinya memang sengaja tidak menghubunginya atau tidak mau dihubungi. Lelaki itu mengatakan ada urusan penting tapi tidak mau memberitahunya.


"Kamu benar juga, ya! Kalau begitu, antarkan aku ke sana!" pinta Irene.


Keduanya segera menuju ke mobil untuk mengunjungi perusahaan Hamish di sana.


"Nona, bukannya Tuan Hamish pernah menawari Anda untuk tinggal bersamanya? Apa Anda mau jika diminta mengurusi perusahaan itu?" tanya Jay sembari mengemudi.


Irene menghela napas. Kalau mengingat lagi momen itu, rasanya membuat pusing. Ia tidak ingin mengakui jika sepupunya itu menaruh perasaan padanya. Namun, apa yang pernah kakeknya katakan sepertinya memang benar. Hamish pernah meminta agar mereka tinggal bersama. Lelaki itu bilang sudah membangun kerajaan bisnis di sana untuk Irene.


"Tidak, Jay. Aku rasa Kak Hamish yang paling cocok untuk menjalankan bisnis itu. Aku masih terlalu muda untuk dipusingkan dengan masalah serumit itu." Irene memijit keningnya sendiri. Semakin dewasa, Irene merasa kehidupan menjadi semakin rumit.


Jay mengirim pesan kepada asisten Hamish bahwa Irene akan segera tiba di perusahaan.

__ADS_1


Satu jam kemudian, mereka akhirnya sampai di depan perusahaan yang tampak megah itu. Sesampainya di depan pintu lobi, seluruh jajaran staf dan karyawan perusahaan berjajar rapi menyambut kehadiran Irene.


Irene sampai tercengang mendapatkan penyambutan meriah seperti menyambut seorang presiden.


"Selamat datang, Nona," sambut seorang lelaki yang Irene tebak merupakan asisten Hamish yang bernama Timothy. Sebelumnya Jay telah menceritakan padanya tentang lelaki itu.


"Aku ingin bertemu Kak Hamish," kata Irene."


"Ah, maaf, Nona. Tuan Hamish belum pulang dari perjalanan bisnisnya," kata Timothy.


Rasanya sia-sia Irene sudah datang jauh-jauh ke sana.


"Em, baiklah!" ucap Irene setelah berpikir sejenak.


Ia mengikuti Timothy masuk ke dalam perusahaan. Sepanjang jalan para karyawan menunduk memberi salam padanya, membuat ia sungkan. Ia merasa tidak pantas mendapat penghormatan semacam itu.


"Bisa kamu suruh mereka kembali bekerja? Jangan sampai kedatanganku mengganggu mereka," pinta Irene.


Timothy menurut. Ia memberi kode kepada mereka agar segera kembali ke tempat kerja masing-masing. Ia lantas membawa Irene naik ke atss menggunakan akses lift khusus.

__ADS_1


Irene dibawa masuk ke ruang kerja Hamish yang terlihat sangat megah dan mewah. Dari atas sana ia bisa melihat pemandangam kota melalui jendela.


"Nona, posisi Anda di sini kami anggap sebagai presiden direktur."


Timothy menunjukkan susunan kepengurusan perusahaan. Ia tercengang melihat nama dan fotonya ada di bagian teratas. Pantas saja para karyawan menyambutnya dengan cara seperti itu.


"Tuan Hamish memang sudah lama mengharapkan kehadiran Nona di sini. Perusahaan ini merupakan milik Anda," kata Timothy.


Irene tentu saja senang dengan keberhasilan sepupunya sampai bisa mendirikan perusahaan besar dan didedikasikan untuknya. Hanya saja, ia merasa apa yang Hamish lakukan cukup berlebihan untuknya.


Ti a-tiba dia teringat dengan balapan itu. Ia tidak menang lomba kemarin, jadi hadiah uang ia harapkan untuk membantu panti asuhan tidak ia peroleh.


"Em, Timothy, bisa aku meminta sesuatu?" tanya Irene sembari menyunggingkan senyum.


"Apa, Nona, silakan katakan saja!" pinta Timothy.


"Berikan aku uang 2 miliyar, apa bisa?" tanyanya iseng.


.

__ADS_1


__ADS_2