Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 150


__ADS_3

"Bagaimana caramu mengatasi masa-masa sulit di perusahaan kemarin?" tanya Alberto.


Usai makan malam, ia mengajak Alan untuk bermain catur bersamanya. Tidak ia sangka jika Alan cukup lumayan menjadi lawan. Biasaya ia akan dengan mudah mengakhiri permainan dengan mengalahkan lawannya.


"Tentunya dengan dukungan orang-orang yang masih berada di pihak saya. Tanpa bantuan mereka, saya tidak mungkin bisa," jawab Alan.


Selain jago bermain catur, Alan juga nyambung diajak berdiskusi oleh Alberto. Meskipun tahu jika Alberto bukan orang sembarangan, Alan tetap bisa tenang berada di hadapannya. Lelaki itu memiliki rasa percaya diri yang tinggi.


"Tidak aku sangka Irene bisa menemukan orang sepertimu sebagai kekasihnya. Aku masih belum percaya sampai saat ini," gumam Alberto.


Alan mengembangkan senyumannya. "Saya juga tidak menyangka jika Irene merupakan anak angkat Anda. Rasanya apa pantas jika saya menjadi kekasih dari anak kesayangan Anda."


"Hahaha ... Irene berhak menentukan pilihannya sendiri. Sebagai orang tua aku hanya berharap ia bisa memastikan dia mendapatkan yang terbaik."


Bryan menyisih dari sana. Ia malas mendengarkan percakapan Alberto yang tak henti-hentinya memuji Alan.


Ia pergi ke lantai atas menuju balkon untuk menikmati udara malam. Sebatang rokok ia nyalakan dan mulai menghisapnya. Bagaimana bisa dia merasa tidak berdaya di hadapan mereka.


"Kenapa kamu di sini?"


Zenta, asisten Bryan menghampirinya di sana.


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin sendiri," kilah Bryan.


Zenta berjalan meghampiri Bryan. Ia meminta sebatang rokok dan menemani Bryan merokok di sana.


"Apa Anda tertarik dengan putri angkat Tuan Besar?" tanya Zenta.


Bryan hanya terdiam. Ia menghisap rokoknya lebih dalam lalu menghembuskan asapnya.


"Kamu pasti sudah tahu kan, kalau sebenarnya Nona Irene sangat cantik?" tanya Zenta lagi.


"Apa di sini hanya aku yang baru tahu?" Bryan merasa telat untuk menyadari seistimewa itu wanita yang bernama Irene.


"Kalau orang yang sudah lama ikut dengan Tuan Besar pasti akan tahu kalau Nona Irene sangat cantik. Dia pernah tinggal di kediaman Tuan Besar selama menyelesaikan pendidikannya."


"Jadi, dia benar-benar memiliki gelar ganda?" tanya Bryan memastikan.


"Benar sekali. Nona wanita yang cerdas, bisa dibilang jenius. Itu sebabnya Tuan Besar sangat menyayanginya."

__ADS_1


Bryan baru tahu akan hal itu. Ia diperhatikan oleh Alberto juga karena kecerdasannya. Tidak mungkin jika Irene hanya wanita biasa tapi mampu mengambil hati seorang Alberto Miguel.


"Kalau kamu tertarik pada Nona Irene, aku bisa memberimu nasihat," kata Zenta.


Bryan menyimak baik-baik lelaki yang ada di sebelahnya. "Katakan, apa yang bisa aku lakukan untuk dekat dengannya?"


Zenta membisikkan sesuatu pada Bryan. Tampaknya ide yang diberikan membuat ia tertarik.


"Zenta, tolong bantu aku melakukannya," kata Bryan.


"Kamu yakin ingin aku melakukannya?" tanya Zenta memastikan.


Bryan mengangguk. "Jangan sampai ketahuan, Zenta," pintanya.


Zenta menepuk pundak Bryan dan pergi dari sana meninggalkan Bryan.


***


Irene mengganti pakaiannya dengan pakaian khusus bekerja. Pakaian tersebut terlihat bagus dan membuat bentuk tubuhnya terlihat indah. Bahkan dengan riasan wajah yang biasa, penampilannya bisa termaafkan.


Ia keluar dari ruang ganti menemui Alan yang sudah lebih dulu selesai berganti pakaian. Lelaki itu juga terlihat tampan dengan pakaian berkudanya.


"Sudah selesai?" tanya Alan dengan seulas senyum.


"Tidak. Ini sangat cocok denganmu. Kamu cantik," puji Alan.


"Hahaha ... Kakak tidak perlu berpura-pura segombal ini kalau Ayah Angkat tidak ada," kata Irene. Ia menyangka jika Alan tengah berakting sebagai pacarnya.


"Maaf ya, Kak. Kontrakmu sebagai pacar pura-pura bertambah sehari," kata Irene. Padahal ia hanya mengatakan butuh bantuan untuk semalam. Ternyata ayah angkatnya menginginkan ia membawa kembali Alan pagi ini untuk berkuda bersama.


"Itu tidak masalah. Selama aku ada waktu, perpanjang saja kontrak pacaran kita. Ini juga cukup menyenangkan untukku," kata Alan.


"Apa aku perlu membayar kelebihan waktu kontrak ini?" tanya Irene.


"Tentu saja. Suatu saat kamu juga harus gantian membantuku," kata Alan.


"Ayo kita lihat kudanya," ajak Irene.


"Ah, tunggu sebentar. Sepertinya ada barangku yang ketinggalan di ruang ganti," kata Alan. "Tunggu di sini, aku akan mengambilnya dulu," pamitnya.

__ADS_1


Alan bergegas kembali ke ruangan ia mengganti pakaian sebelumnya. Ketika masuk ke dalam, ia bertemu dengan Bryan yang masih bersiap-siap di dalam. Dari tatapannya, Alan bisa tahu jika lelaki itu tidak menyukainya.


"Apa kamu bisa berkuda dengan baik?" tanya Bryan.


Alan memasang sarung tangan yang tadi tertinggal di sana. "Tidak terlalu. Aku jarang berkuda," jawabnya.


Bryan menyeringai. "Kalau tidak bisa berkuda dengan baik, itu bisa bahaya. Kamu harus berhati-hati," nasihatnya.


"Terima kasih sudah mengingatkan. Aku akan berusaha untuk hati-hati."


Alan meninggalkan ruangan itu setelah mengenakan sarung tangannya. Irene telah menunggunya di depan. Mereka berjalan berdampingan menuju ke kandang kuda untuk melihat kuda mana yang akan mereka naiki.


"Oh, kalian sudah siap rupanya," sapa Alberto. Ia telah bersiap menaiki kudanya. Zenta tampak memegangi tali kekang kuda membantu Alberto mengeluarkan kuda dari kandangnya.


"Mana kuda yang bisa kami naiki, ayah angkat?" tanya Irene.


"Yang mana, Zenta? Tunjukkan pada mereka!" pinta Alberto.


"Untuk Nona Irene kuda coklat yang kondisinya paling baik, Tuan Besar. Sesangkan untuk Tuan Alan kuda yang warna hitam di sebelah sana," kata Zenta menunjukkan kuda-kuda yang dimaksud.


"Segeralah naik! Aku tunggu di lapangan," kata Alberto.


Zenta menuntun kuda yang Alberto naiki menuju ke lapangan. Sementara, Alan dan Irene sama-sama menghampiri kuda yang akan mereka naiki.


"Kamu bisa naik? Biar aku bantu," ucap Alan seraya membantu memegangi kuda saat Irene naik.


"Sudah aku bilang, Kak. Tidak perlu akting di belakang ayah angkat. Kamu nanti kelelahan kalau seharian berpura-pura perhatian padaku," kata Irene.


"Hahaha ... Tidak apa-apa. Biarkan aku menjiwai peran," kata Alan. la menaiki kuda miliknya sendiri.


"Kamu bisa menangani ini, kan?" tanya Alan. Ia sedikit cemas kalau Irene tidak bisa menaiki kudanya dengan baik.


"Jangan khawatir, Kak. Aku sudah pernah beberapa kali berkuda," jawab Irene.


Sepertinya Alan memang tidak bisa meremehkan Irene. Wanita itu semakin lama semakin membuatnya penasaran. Awal pertemuan yang diawali dengan perasaan tidak suka perlahan berubah menjadi cinta.


Ia kira Irene hanya wanita desa yang datang ke kotanya dengan wawasan yang sempit. Siapa sangka jika wanita itu merupakan anak angkat salah satu orang terkaya di dunia.


Mereka kembali berpapasan dengan Bryan. Lelaki itu masih menatap benci kepada Alan.

__ADS_1


"Sepertinya dia tidak menyukaiku," kata Alan.


"Benarkah? Mungkin saja itu hanya perasaan Kakak saja," kilah Irene. Ia mengajak Alan untuk segera menyusul ayah angkatnya.


__ADS_2