
Alan baru saja tiba di sebuah gereja yang diduga digunakan oleh Hamish untuk prosesi pernikahan. Ia segera berlari menuju ke arah gereja tersebut setelah sebelumnya menghubungi Alberto Miguel dan mengatakan semuanya. Ia merasa tak bisa menemukan Irene di kota tersebut sendirian. Ia berpencar mencari keberadaan Irene dan akhirnya anak buah Alberto menghubunginya agar segera datang ke tempat itu.
Saat hampir tiba di depan pintu gereja, ia merasa ada yang janggal. Di arah samping gereja terdengar suara ribut.
"Aji, kamu masuk dulu ke dalam. Aku mau mengecek ke sebelah sana," kata Alan.
Keduanya akhirnya berpencar, Aji masuk ke dalam dan Alan menyisir ke serambi samping.
Alan melihat beberapa orang berlarian keluar lewat pintu samping. Ia membuntuti mereka. Netranya menangkap sosok Irene yang tampak pingsan dalam gendongan seorang lelaki.
"Irene!" teriak Alan.
Ia mempercepat larinya mengejar orang-orang itu.
Keberadaan Alan disasari oleh Hamish. Ia tak ingin kehilangan Irene. Ia cepat-cepat membawa Irene masuk ke dalam mobil yang telah ia persiapkan.
"Hadang dia!" perintah Hamish kepada anak buahnya yang lain.
"Irene! Irene!" Alan terus memanggil nama Irene.
Saat ia hampir mendekat ke arah mobil, beberapa orang menghadangnya. Alan menyadari bahwa ia harus mengalahkan mereka untuk menyelamatkan Irene, jadi dia mempersiapkan dirinya untuk bertarung.
Ketiga anak buah Hamish itu melangkah maju, siap menghadapi Alan. Mereka berusaha menyerang Alan secara bergantian, tetapi Alan dengan mudah menghindar dan membalas serangan mereka dengan teknik-teknik bela diri yang terampil.
Sementara itu, Hamish menonton dari dalam mobil bersama Irene yang masih pingsan di sampingnya, senyumnya menggoda saat ia melihat anak buahnya melawan Alan. Namun, dia merasa khawatir ketika Alan mulai mengambil kendali atas pertarungan.
"Lelaki sialan itu akhirnya sampai di sini juga!" kata Hamish dengan nada kesal.
Ketiga anak buah Hamish itu terus menyerang Alan, tetapi Alan terus melawan dengan penuh semangat. Alan berhasil melemparkan salah satu dari anak buah Hamish ke dinding dan mengirim yang lain terjatuh ke lantai.
"Ah!" pekik anak buah Hamish yang merasakan tulangnya seperti patah.
__ADS_1
Hanya satu anak buah Hamish yang tersisa, dan dia terus menyerang Alan dengan kemampuan bela dirinya yang terampil. Alan menghindari setiap serangan dan dengan cepat membalasnya dengan satu serangan yang kuat. Anak buah Hamish itu terlempar ke lantai, tak berdaya.
Alan memandang Hamish dengan pandangan yang penuh amarah dan berjalan menghampiri mobil mereka.
"Jalankan mobilnya!" perintah Hamish.
Menyadari mobil itu mulai berjalan, Alan berlari mengejar. "Tunggu! Irene! Ini aku! Irene!"
Sayangnya, kecepatan larinya tak sebanding dengan kecepatan mobil. Napas Alan sampai tersengal-sengal karena berusaha mengejar mobil yang membawa Irene pergi.
Tak berselang lama, Alberto dan anak buah Alan datang menghampiri.
"Irene sudah dibawa pergi," kata Alan dengan nada kecewa.
"Hamish itu benar-benar ...." Alberto mengepalkan tangannya sendiri. Perbuatan Hamish telah membuatnya geram.
"Kenapa kamu baru menghubungiku?" tanya Alberto. Ia juga kecewa dengan Alan yang telat memberi tahunya. Seandainya Alan lebih awal memberitahu, mungkin saja dia akan lebih cepat bertindak.
"Maafkan saya," kata Alan sembari menunduk. Ia juga merasa kecewa terhadap dirinya sendiri.
"Ya sudahlah! Tidak ada gunanya juga berdebat!" ucap Alberto. "Kita coba cari lagi saja keberadaan Irene. Mereka pasti masih ada di negara ini. Aku akan mencoba pelacakan lewat CCTV yang ada. Sebaiknya kita berpencar lagi," usul Alberto.
"Baiklah, saya akan mengikuti apa yang akan Anda lakukan. Terima kasih sudah mau membantu saya mencari Irene," kata Alan
"Ini bukan bantuan, tapi sudah kewajiban. Dia adalah putriku. Keselamatannya juga tanggung jawabku," jawab Alberto. "Saat putriku bilang kamu adalah kekasihnya, awalnya aku tidak percaya. Irene tipe wanita yang sangat mandiri dan hampir tak menyukai satupun lelaki. Aku sudah sering mengenalkannya kepada beberapa orang yang menurutku cocok. Sayangnya, Irene telah menolak semuanya. Dia mengatakan hanya tertarik padamu," lanjutnya.
Alan terharu mendengar cerita dari Alberto. Dulu, ia mengira Irene terlalu beruntung karena bisa masuk ke dalam keluarganya. Namun, saat ini ia pikirkan lagi, ternyata ia yang beruntung telah dicintai oleh seorang wanita multitalenta yang bisa diandalkan.
Ada banyak lelaki di luar sana yang lebih baik darinya, tapi Irene menjatuhkan pilihan kepadanya. Bahkan saat Irene menggunakan penyamarannya, ada begitu banyak orang yang tertarik pada Irene.
"Jadi, apa benar kalian berpacaran?" tanya Alberto memastikan.
__ADS_1
"Kami bukan sekedar pacaran, Tuan. Rencananya kami akan segera menikah jika saja tidak terjadi hal ini," kata Alan dengan raut wajah sendunya.
Alberto menepuk pundak Alan. "Jadi lelaki yang tegar. Mari kita cari Irene bersama-sama lagi!" ajak Alberto sekaligus memberi semangat.
Alan kembali berhasil menepis rasa putus asanya. Dengan dukungan dari Alberto, ia yakin bisa menemukan Irene kembali.
"Apa yang harus kami lakukan dengan orang-orang yang telah berhasil ditangkap, Tuan?" tanya salah satu anak buah Alberto.
"Hubungi kepolisian dan biarkan mereka yang mengurusnya!" perintah Alberto.
"Lalu, bagaimana dengan Pak Pendeta?" tanya orang itu lagi.
Alberto mengerutkan dahinya.
"Pendeta itu yang telah memimpin acara pernikahan Tuan Hamish dan Nona Irene. Tapi, pendeta itu mengaku bahwa ia tidak tahu menahu bahwa sang wanita ternyata dipaksa untuk menikah. Apa kita akan menuntutnya juga?" tanya orang itu.
"Tentu saja! Bawa juga dia ke kantor polisi untuk dimintai keterangan!" perintah Alberto.
Orang tersebut menurut. Ia kembali ke arah gedung untuk mengecek kembali orang-orang yang berhasil ditangkap.
Alan menunduk. Ia merasa telah sangat terlambat dan gagal. Irene telah menikah dengan Hamish.
"Jangan dipikirkan!" tegur Alberto. "Pernikahan yag didasari rasa keterpaksaan itu tidak bisa diakui. Fokus saja untuk membebaskan Irene. Aku yakin dia juga tidak mau mengalami hal ini," mata Alberto.
Alan tersenyum kecil. Meskipun sedikit lega, ia tetap merasa cemas jika sampai tak bisa menemukan Irene.
Mereka akhirnya kembali berlencar untuk melacak keberadaan Irene. Sepanjang perjalanan Alan terus termenung di sebelah Aji yang menjadi sopirnya.
Sesekali Aji melirik ke samping. Ia kasihan dengan Alan yang sudah kurang tidur juga ditambah kelelahan. Apalagi selama beberapa hari pekerjaan mereka belum juga membuahkan hasil.
Ia sendiri agak kecewa dengan perjalanannya kali ini. Ia sudah membayangkan untuk jalan-jalan di negara itu dengan santai. Apa yang dibayangkan sebelum datang ke sana sama sekali tidak ada yang terwujud.
__ADS_1