Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 134


__ADS_3

"Aduh, Kak Alan sama saja dengan Kak Arvy ... Kenapa mereka sangat suka telat kalau mau menjemputku," keluh Irene.


Sejak tadi ia terus memandangi jam di ponselnya. Alan tidak juga kunjung datang menjemputnya. Sementara, Winda dan Jeha sudah lebih dulu pergi meninggalkannya.


"Kalau aku bawa mobil sendiri nanti malah mereka curiga. Kesal harus tergantung pada para tuan muda!" gerutu Irene.


Suasana hatinya benar-benar tidak baik. Ia ingin marah-marah dan memukuli Alan.


Tempat Irene duduk menunggu Alan menjadi semakin sepi. Kebanyakan mahasiswa yang telah selesai perkuliahannya akan memilih pulang mengingat sudah masuk akhir pekan.


Lima orang lelaki yang sebelumnya Irene lihat di depan gerbang berjualan tiket fan meeting berjalan mendekat ke arahnya. Raut wajah mereka terlihat tidak suka dengan Irene.


"Kamu yang tadi mengganggu kami berjualan, kan?" tanya salah seorang dari mereka.


"Benar! Wanita jelek ini yang tadi sok tahu mau mengganggu para calon pembeli kita," sahut lelaki lainnya.


Irene merasa semakin kesal dengan kehadiran tamu yang tak ia harapkan.


"Heh! Apa kamu tuli? Kenapa tidak menjawab pertanyaan kami?" bentak salah satu dari mereka.


"Kalian mau aku bagaimana?"


Irene balik membentak mereka. Matanya terbuka lebih lebar mengisyaratkan bahwa ia sangat murka telah diganggu kelima lelaki itu.

__ADS_1


"Wah, wanita ini ngelunjak. Kita hajar saja supaya dia tidak bisa bertingkah lagi."


"Cukup patahkan saja salah satu kakinya. Dia pantasnya memang jadi pengemis, hahaha ...."


Kelima lelaki itu menertawakan Irene.


"Nih, kalau aku elus kepalanya mungkin dia bisa jadi jinak seperti kambing," ledek salah satu lelaki itu.


Irene tidak tahan menjadi bahan ejekan mereka. Ia menarik tangan lelaki yang berani memegang kepalanya. Ia pelintir tangan itu dan membantingnya tanpa ampun.


"Aduh!" teriak lelaki yang Irene banting.


"Wah, wanita ini sepertinya lumayan."


Keempat lelaki lainnya tidak terima melihat temannya dibanting Irene. Mereka maju hendak mengeroyok Irene. Namun, belum sempat tinjuan mereka menyentuhnya, Irene lebih dulu menangkis dan bahkan mengembalikan pukulan itu ke tubuh mereka.


Satu persatu dari mereka berhasil Irene tumbangkan. Mereka lari tunggang langgang setelah mengakui kehebatan Irene dalam hal bela diri.


"Dasar sampah masyarakat!" umpat Irene menyindir kelima lelaki yang baru saja kabur itu.


Irene mematung saat berbalik badan. Tidak ia sangka jika Alan sudah berada di sana tengah berdiri memandanginya dalam diam seperti patung.


"Lumayan juga cara berkelahimu, hebat! Mereka sampai ngompol di celana ketakutan karenamu," kata Alan.

__ADS_1


Irene bingung dengan perkataan Alan apakah merupakan pujian atau ledekan untuknya.


Dengan wajah kesal, Irene ikut masuk ke dalam mobil Alan. Ia masih tidak terima dengan keterlambatan Alan yang membuatnya kehilangan waktu berharga untuk sesuatu yang sia-sia.


"Maaf sudah telat menjemputmu, Irene. Mendadak ada yang berkunjung ke perusahaan dam tidak bisa aku tinggal," kata Alan


"Itu terus alasannya! Kalau memang tidak bisa jemput, bilang saja! Aku akan meminta Kakak saja agar mau menjemputku!" kesal Irene.


Alan tersenyum. "Nona ini kalau marah memang sangat seram, ya ... Tapi, kalau diperhatikan, kamu jaga jadi kelihatan imut!"


Alan memperhatikan Irene dalam jarak dekat. Sembari mengulaskan senyum, ia terus mendekatkan wajahnya.


Apa yang Alan lakukan membuat Irene merasa gugup. Tatapan Alan seperti orang gila yang hendak menciumnya. Semakin lama wajah Alan semakin mendekat. Bahkan Irene sampai memejamkan mata saking paniknya


"Kak Alan mau apa? Cepat menjauh!" seru Irene.


Menyadari Irene tengah berpikiran buruk padanya, Alan tertawa terbahak-bahak. "Hahaha ... Memangnya kamu kira aku mau apa? Kamu pikir aku akan menciummu?" ledek Alan.


Irene membuka kembali matanya. Pipinya bersemu merah menahan malu.


"Aku hanya mau membantumu membenarkan sabuk pengamannya," kata Alan sembari menarik talinya dan memasangkan untuk Irene.


"Besok kamu libur, kan?" tanya Alan seraya menyalakan mesin mobil dan melajukannya pelan.

__ADS_1


"Iya, aku libur, memangnya kenapa?" tanya Irene.


"Kalau begitu, ikut aku saja!" ucap Alan.


__ADS_2