Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 192: Lamaran


__ADS_3

Alfa mencoba memahami posisi Irene di hati kakaknya. Mungkin memang Alan benar-benar mencintai wanita itu sepenuh hati. Seharusnya ia merasa lega karen Ireneberada di tangan orang yang tepat. Irene juga bukanlah orang yang jahat.


Srek!


Tirai terbuka. Irene terlihat di sana mengenakan gaun rancangan Alfa yang telah dimodifikasi. Alan terkagum-kagum dengan keindahan gaun hasil perbaikan yang Irene lakukan. Meskipun terasa memalukan, ia sungguh mengagumi rancangan yang Irene ciptakan. Secara tampilan gaun itu terlihat sangat mewah dan mahal.


Alfa sedikit memikirkan suatu rancangan yang sepertinya hampir mirip dengan selera Irene. Ia pernah melihatnya di suatu tempat dan mencoba mengingat-ingatnya kembali.


"Irene, itu cocok sekali untukmu. Kamu terlihat cantik," puji Alan. Dari tatapan matanya, lelaki itu seakan tengah terhipnotis dengan wanita yang muncul dari balik tirai itu.


Irene tersenyum. "Terima kasih, Kak." ia merasa lega karena sepertinya Alan tak kecewa dengan hasil rancangannya. Bahkan lelaki itu tengah memakai setelan yang dibuatnya sendiri. Ada rasa bangga yang dirasakan dalam dirinya.


"Gaunnya sangat bagus, Irene," puji Alfa.


"Terima kasih, Kak. Aku hanya menangganti sedikit di bagian yang perlu. Rancangan Kak Alfa tetap yang terbaik." Irene balik memuji Alfa.


"Apa kamu terinspirasi dari desain seseorang? Sepertinya aku pernah melihat model potongan gaun semacam ini di Milan Fashion Week beberapa tahun lalu," ujar Alfa.


Senyuman Irene berubah kikuk. "Benarkah? Itu mungkin saja. Aku tidak tahu desain mana yang Kak Alfa maksud. Aku hanya membuatnya sesuai inspirasi yang ada di otakku saja," kilahnya.


"Aku tidak mengatakan kamu meniru karyanya. Hanya saja, sepertinya selera kalian sama."


"Oh, mungkin itu hanya kebetulan saja."


"Sudahlah, Alfa. Kalau memang Irene suka yang seperti ini kenapa dipermasalahkan lagi," tegur Alan. Ia seakan ingin mengingatkan jika Alfa tak boleh menyusahkan calon pengantinnya.


"Aku tidak bermaksud begitu, Kak. Aku hanya bilang karyanya sebagus dengan desainer internasional yang pernah aku lihat."

__ADS_1


"Irene, segera ganti pakaianmu. Kita akan pergi ke tempat lain," pinta Alan.


"Oh, oke, Kak!" jawab Irene.


"Em, Irene, nanti setelah acara pertunanganmu selesai, boleh kan aku pajang gaun itu di display butik milikmu?" tanya Alfa.


Irene tertegun.


"Aku kan sudah membayarnya," protes Alan.


"Akan aku kembalikan uangmu, Kak. Aku mau baju itu ada di butikku setelah kalian bertunangan!"


"Tidak bisa! Itu akan menjadi milik Irene!"


Alan dan Alfa terlibat perdebatan. Keduanya saling ngotot mempertahankan kemauan masing-masing.


"Sudah, Kak! Ini kan hanya gaun saja. Paling juga dikenakan satu kali. Kalau memang Kak Alfa mau memajangnya di butik, aku setuju-setuju saja."


"Awalnya kamu bilang rancangan Irene jelek, kan? Kenapa sekarang jadi menginginkan gaunnya?" sindir Alan.


"Kapan aku bilang jelek? Irene memang sepertinya punya bakat," kilah Alfa.


"Lalu, untuk apa pekan lalu kalian ribut?" tanya Alan.


Alfa terdiam.


"Aku sudah selesai, Kak!" ucap Irene yang telah kembali berganti dengan pakaian biasa.

__ADS_1


"Aku pergi dulu. Jaga baik-baik gaun pertunangan kami, ya!" ucap Alan saat berlamitan pada adiknya.


***


"Kita mau apa ke sini?" tanya Irene heran saat Alan mengajaknya ke sebuah toko perhiasan.


"Kamu tunggu sebentar di sini!"


Alan meminta Irene duduk di sofa tunggu, sementara ia menemui manajer toko perhiasan tersebut.


"Tuan, ini barang yang telah Anda pesan," ucap manajer tersebut sembari menyerahkan sebuah kotak perhiasan kecil berwarna biru.


"Terima kasih."


Alan membawa kotak perhiasan tersebut dan kembali menghampiri Irene. Ia langsung berlutut di hadapan Irene, membuka kotak cincin di hadapan wanita yang dicintainya. Sebuah cincin berlian berwarna merah terlihat begitu bersinar saat terkena cahaya lampu.


"Irene, maukah kamu menikah denganku?" tanyanya.


Irene mematung seketika. Apa yang Alan lakukan secara tiba-tiba hampir membuat jantungnya copot. Apalagi Alan melakukannya di hadapan orang banyak. Mereka menjadi pusat perhatian.


"Kak, kita dilihat banyak orang. Cepat berdiri!" pinta Irene. Ia merasa tak begitu nyaman diperhatikan oleh banyak orang.


"Ini aku serius melamarmu, lho ...," kata Alan meyakinkan. Irene sepertinya menganggap dirinya sedang bercanda.


"Jadi bagaimana, kamu mau menerima lamaranku, kan?" tanya Alan lagi.


Irene mengusap wajahnya sendiri. Jantungnya masih berdebar kencang. Ia merasa gugup melihat Alan tepat berada di depannya, menyodorkan sebuah cincin untuk melamarnya.

__ADS_1


"Irene ...." Alan tak sabar menerima jawaban dari wanita itu.


"Iya, Kak. Aku mau," katanya dengan ekspresi malu-malu.


__ADS_2