
"Kalau aku bisa memilih, sepertinya aku lebih ingin mengasah bakatku main game. Kalau sampai bisa lolos jadi atlet e-sport, aku pasti juga bisa kaya sekaligus main game sehari-hari. Hahaha ...," ucap Ares sembari membayangkan menjadi atlet e-sport.
"Kamu mau jadi pro player dengan permainan yang seperti tadi?" tanya Irene.
Ucapan Irene terdengar di telinga Ares sedikit bernada mengejek. "Memangnya kenapa? Tidak suka mengakui kalau aku berbakat main game?" ucapnya ketus.
Irene ingin terkekeh. Menurutnya, level permainan Ares masih sangat jauh dari harapan menjadi seorang pro player tingkat nasional. Dia sendiri pernah masuk jajaran 5 besar pro player. Namun, karena bosan Irene beralih ke hobi lainnya.
"Bilang saja kamu malas kerja. Alasan saja mau santai-santai main game!"
"Kalau bisa kerja santai di bidang yang disukai, kenapa tidak? Bagus, kan ...."
"Aku masih ingat dulu kamu pernah bilang terpaksa kuliah karena takut dimarahi Kakek, kan? Bahkan kalau perlu tidak usah kerja seumur hidup mengandalkan kekayaan orang tua dan kakak-kakakmu. Itu memang bakatnya kamu pemalas!" sindir Irene.
"Itu namanya privillege yang patut disyukuri. Aku anak bungsu, punya empat kakak. Kasihan yang anak tunggal yatim piatu. Hahaha ...." Ares balik mengejek Irene.
Irene memanyunkan bibirnya. "Belum tahu rasanya kehilangan seluruh keluarga, ya?"
"Hah! Amit-amit! Jangan bicara sembarangan ya!" Ares segera menutup mulut Irene.
Irene menyingkirkan tangan Ares darinya. "Makanya jadi orang jangan pernah menggantungkan hidup pada orang lain. Kamu harus bisa berdiri di atas kaki sendiri. Dasar beban keluarga Narendra!"
"Ya ... Aku main game juga berharap jadi pro player suatu saat. Dengan begitu aku bisa sukses lewat jalur yang aku mau. Sayangnya, Kakek pasti tidak akan setuju. Seluruh cucunya kalau bisa harus jadi pengusaha. Padahal aku pusing sekali ikut kerja dengan Kak Alan. Enak main game."
"Jadi, kamu bisa membayangkan bagaimana rasanya jadi Kak Alan, kan? Kalau kamu tidak membantu, dia akan kesulitan sendiri," kata Irene bijak.
Ares mencerna kata-kata Irene yang ada benarnya. "Jaman sekarang makin beragam cara orang jadi sukses. Salah satunya lewat e-sport. Aku masih heran, kenapa permainan game bisa jadi salah satu cabang olah raga, ya? Orang yang hobi rebahan kan jadi senang."
__ADS_1
"Olahraga kan bukan hanya pakai fisik, tapi juga keterampilan. Contohnya catur juga masuk jadi salah satu cabang olah raga. Jadi, kenapa heran kalau sekarang game bisa masuk jadi cabang olah raga."
"Benar juga katamu," kata Ares sembari mangguk-mangguk.
"Oh, kalian mau pulang?"
Saat sedang berbincang, Alan datang. Langkah mereka terhenti.
"Ayo pulang bareng!" ajak Alan.
Irene dan Ares saling berpandangan. Mereka juga berniat pulang bersama karena Kak Arvy tidak datang.
"Kak Alan bukannya banyak kerjaan di kantor, ya? Ngapain capek-capek mampir ke sini?" tanya Ares.
"Tidak, aku tidak terlalu sibuk. Ini juga masih jam santai," kilah Alan.
Irene yang tiba-tiba tangannya digandeng terkejut. Ia melotot kepada Ares. Apalagi rencananya mereka juga akan langsung pulang, bukan ke perpustakaan.
"Oh, begitu," kata Alan sedikit kecewa.
Ares menarik tangan Irene untuk ikut bersamanya ke parkiran. Mereka meninggalkan Alan begitu saja. Ares menyuruh Irene masuk ke dalam mobilnya.
"Kamu kok bohong. Kita kan mau pulang!" protes Irene.
"Kita memang mau ke perpustakaan. Kamu juga ada tugas kuliah dari Pak Budiman, kan?" tanya Ares.
"Ya ... Iya juga sih. Tapi, nggak sekarang juga mau dikerjakan."
__ADS_1
"Mumpung aku baik hati ingin mengantar, diam dan duduk tenang. Oke?"
Sementara itu, Alan begitu penasaran dengan kedekatan Irene dan Ares yang terus terlihat hari demi hari. Ia tak lantas kembali ke kantor, tapi sengaja mengikuti kemana Ares dan Irene pergi. Ia tidak yakin jika keduanya memang benar-benar pergi ke perpustakaan.
Ternyata memang benar mereka pergi ke perpustakaan di pusat kota. Alan terus membuntuti Irene yang sedang memilih buku di antara susunan rak buku yang berjajar rapi.
Ribuan buku di sana tak ada yang mampu menarik perhatian Alan. Ia justru terus memandangi Irene yang terlihat serius membaca buku.
"Ehem!" Alan berdehem.
"Loh, Kak Alan kok ada di sini?" tanya Irene kaget.
"Kamu suka baca buku tentang apa? Kalau aku suka buku ini. Kamu pernah baca?" Alan menyodorkan sebuah buku kepada Irene.
Irene membelalakkan mata. Ia menutupi mulutnya sendiri yang terbuka lebar. Hampir saja Irene menjerit melihat buku yang Alan pegang.
"Kakak sudah gila, ya? Kakak mau aku belajar kamasutra?" ucapnya sembari memelankan suara. Ia takut diusir dari perpustakaan. Ia syok dengan kelakuan Alan barusan.
Alan melihat buku yang diambilnya tapi. Reflek ia jatuhkan kelantai saat membaca judul buku dewasa tersebut. Ia benar-benar merasa malu.
"Aduh, sepertinya aku salah mengambil buku," kata Alan sembari memijit keningnya.
"Ternyata Kak Alan diam-diam lelaki mesvm, ya! Aku sampai terkejut," kata Irene masih syok.
"Irene, aku benar-benar salah ambil buku. Setahuku yang aku bawa tadi buku tentang digital marketing! Kamu jangan bersikap seperti itu, aku benar-benar malu!"
Untung saja di dekat mereka tidak ada siapapun. Kalau ada yang mengetahui kejadian itu, mereka pasti akan menertawakan.
__ADS_1