Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 263: Penerimaan Calon Mertua


__ADS_3

Mobil berhenti di depan gerbang besar yang mengawal masuk ke kediaman keluarga Narendra. Irene melihat ke arah Alan yang duduk di sampingnya, mencoba menahan perasaan cemas yang membuncah dalam dirinya.


"Irene, jangan khawatir. Semuanya akan baik-baik saja," ucap Alan sambil memegang tangan Irene.


Irene menoleh dan menatap Alan dengan raut wajah yang mencerminkan kecemasannya. "Tapi bagaimana dengan ibumu? Dia pasti tidak senang melihatku kembali ke sini," ucap Irene dengan suara yang sedikit gemetar.


"Aku masih ingat bagaimana ibumu menentang hubungan kita dan bahkan pernah mengusirku dari sini," sambung Irene dengan nada sedih.


Alan menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab, "Ibuku telah berubah, Irene. Dan dia bahkan sudah mengizinkan rencana pernikahan kita ini. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja."


Alan memastikan kepada Irene bahwa ibunya telah berubah dan akan menerima kehadiran Irene di rumah mereka. Alfa, Arvy, dan Ares juga mencoba meyakinkan Irene untuk turun dan melangkah masuk ke rumah.


"Come on, Irene. Semua orang di rumah pasti senang melihatmu," ucap Alfa sambil membuka pintu mobil.


Irene menghela napas panjang, lalu akhirnya mengambil keputusan untuk turun dari mobil. Ia merasa tidak mungkin terus menunda pertemuan dengan keluarga Alan. Irene keluar dari mobil diikuti oleh keempat Tuan Muda Narendra.


Mereka masuk ke dalam rumah dan disambut oleh para pelayan yang sudah menunggu di depan pintu. Pintu besar dari kayu jati dengan ukiran-ukiran indah terbuka lebar. Di dalam ruangan, mereka melihat ornamen-ornamen mewah seperti lukisan-lukisan klasik dan perabotan antik yang mempercantik ruangan. Rasanya baru kemarin ia pergi dari sana dan suasana di rumah itu langsung berubah total.


"Sungguh luar biasa," kata Irene takjub.


"Sudah biasa buat kami," ujar Alfa santai.


"Mama memang sangat menjaga keindahan dan kemewahan rumah ini," tambah Arvy. "Mama bilang tidak suka dengan penataan rumah sebelumnya. Jadi, banyak yang dirubah dari rumah ini."


"Tapi ini jadi tambah lebih bagus, kok!" ujar Irene.


Mereka berjalan menuju ruang tamu yang sudah siap untuk menyambut kedatangan mereka. Meja makan sudah dipenuhi dengan hidangan lezat, seperti rendang, tempe bacem, tumis kangkung, udang saus tiram, dan aneka menu masakan nusantara lainnya. Semua dipersiapkan pelayan saat mendengar kabar bahwa Alan dan Irene akam pulang.


"Wow, ini semua untuk kita?" tanya Arvy takjub. Biasanya makanan juga tak semewah hari ini.


"Benar, Tuan Muda, ini untuk Anda semua," jawab pelayan dengan sopan.


Mereka semua duduk di meja makan dan menikmati hidangan lezat tersebut. Sambil makan, mereka berbincang-bincang tentang berbagai hal, seperti liburan yang akan datang dan rencana mereka di masa depan.


"Dalam waktu dekat ini aku berencana akan mendirikan perusahaan baru. Atau setidaknya anak cabang dari perusahaan lama," kata Alan tiba-tiba.


"Iyakah? Perusahaan apa?" tanya Irene tertarik.

__ADS_1


"Perusahaan teknologi yang fokus pada pengembangan aplikasi dan software," jawab Alan.


"Kenapa tiba-tiba tertarik untuk mengembangkan bisnis itu, Kak? Bukankah lebih baik fokus pada satu bidang saja supaya perusahaan cepat berkembang?" tanya Ares heran.


"Aku rasa ini kesempatan yang bagus. Di sekelilingku ada banyak orang yang punya potensi dalam hal itu," kata Alan seraya melirik ke arah Irene.


"Aku? Memangnya aku bisa apa?" Irene terlihat kebingungan.


Alan mendekatkan wajahnya ke arah Irene sembari berbisik, "Cookie," ucapnya.


Irene langsung mematung seketika. Dilihatnya wajah Alan yang penuh senyum mengisyaratkan bahwa lelaki itu telah mengatahui tentang dirinya.


"Dari mana Kak Alan tahu?" tanya Irene serius.


"Ron. Dia yang memberitahuku," kata Alan.


Irene merasa kesal dengan anak buahnya yang telah teledor memberitahukan hal itu kepada Alan. Padahal, ia juga telah berencana untuk memberitahukannya sendiri kepada Alan.


"Aku memikirkan perusahaan baru itu juga karena kamu, Res. Kamu kan suka dan jago main game. Alangkah baiknya juga bisa belajar untuk mengembangkan aplikasi game sendiri," ujar Alan.


"Aku sekedar suka main, Kak. Kalau pro player itu baru Irene. Aku tidak ada arah untuk berbisnis di bidang itu," kata Ares. Bidang kuliah yang ditekuni juga sangat jauh dari dunia game dan software.


"Kak Alan tidak sekalian membuat perusahaan di bidang hiburan atau musik, Kak?" sahut Arvy. Ia merasa dirinya tidak pernah nyambung dengan pembahasan itu.


"Memangnya kamu mau jadi pimpinan perusahaan? Kalau mau nanti aku buatkan," kata Alan.


Arvy berpikir sejenak. "Kalau jadi pimpinan sepertinya belum bisa. Aku masih mau jadi artis saja," katanya.


"Makanya kuliah, Kak!" celetuk Ares.


"Apa, sih? Anak baru kemarin sore sudah berani memerintahku!" kesal Arvy pada adiknya itu.


"Sudah, sudah ... Jangan bertengkar. Semua orang punya porsi dan bidangnya masing-masing," kata Alfa menengahi.


Usai makan, mereka berlima berpindah ke ruang tengah. Tidak lama kemudian, ibu Alan, Indira, datang ke ruang tamu untuk bergabung bersama mereka. Irene merasa sedikit gugup karena tidak tahu bagaimana ibu Alan akan bersikap kepadanya.


Sejak awal, ia tahu bahwa Indira tidak menyukainya dan menentang rencana pernikahan mereka. Tapi kali ini, Indira tampak berbeda. Ia tersenyum ramah dan terlihat sangat menyambut kedatangan mereka.

__ADS_1


"Selamat datang kembali ke rumah, Irene," ujar Indira sambil tersenyum.


Irene merasa lega karena ternyata ibu Alan bersikap ramah kepadanya. Mereka kemudian saling berpelukan dan memulai percakapan yang menyenangkan.


"Aku senang kalian berdua akhirnya kembali bersama," kata Indira kepada Alan dan Irene.


"Aku juga senang, Ma. Aku tidak sabar menikahi wanita yang aku cintai," jawab Alan dengan tegas.


Irene tersenyum malu-malu mendengar kata-kata Alan. ia tidak menyangka Alan bisa berkata seperti itu di hadapan keluarganya.


"Irene," panggil Indira.


"Iya, Tante?" jawab Irene.


"Maafkan perbuatan Tante waktu itu," ucap Indira dengan raut wajah penuh penyesalan. "Alan telah menceritakan semuanya dan aku merasa gegabah untuk memusuhimu. Aku sangat menyesal," lanjutnya.


Irene tidak menyangka jika Nyonya besar keluarga Narendra akan meminta maaf kepada dirinya.


"Waktu itu tante juga sudah berbohong mengatakan kalau kamu yang sudah mendorong tante sampai jatuh. Padahal tante jatuh sendiri. Karena itu Alan juga sempat membencimu," kata Indira.


Irene mengulaskan senyum di bibir tipisnya. "Tidak apa-apa, Tante. Semua memang hanya salah paham."


Irene memang wanita yang besar hati, mau memaafkan kesalahan orang laon padanya.


"Papa dimana, Ma?" tanya Ares yang mengalihkan perhatian. Sejak tadi ia merasa ada yang kurang, yaitu keberadaan ayahnya.


"Papa sedang check-up ke rumah sakit. Tadinya mau Mama temani, tapi Papa menolak. Katanya biar Mama tetap di rumah dan menemui Irene," jawab Indira. "Lalu, bagaimana dengan rencana pernikahan kalian?" tanyanya.


Irene dan Alan saling berpandangan.


"Kalau bisa secepatnya, Ma!" pinta Alan. Dia sudah tidak sabar lagi untuk menunggu pernikahannya dengan Irene.


"Kenapa, Kak? Takut disahut orang, ya?" sindir Arvy.


"Kalau aku belum menikah, kamu juga tidak akan pernah menikah dengan Adila, Res! Ingat anak pertama nikah paling pertama!" kilah Alan.


Ucapan Alan langsung membuat Arvy terdiam. Tentu saja ia juga mau secepatnya menikah dengan Adila.

__ADS_1


"Aduh, punya anak laki-laki ternyata merepotkan begini, selalu berbeda pendapat, aku sampai tidak tahan," kata Indira sembari menggeleng-geleng kepala.


"Adik-adikku memang suka mengganggu, Ma!" ujar Alan.


__ADS_2