Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 19: Salah Paham


__ADS_3

"Arvy ...."


Seorang wanita memanggilnya. Ia kira tak akan ada yang mrngenali penyamarannya kali ini. Ternyata masih ada yang bisa mengenalinya. Wanita itu entah siapa, memakai setelan kaos dan celana jeans. Wajahny tertutup masker serta rambut panjangnya dikucir iuda dan memakai topi.


Saat wanita itu melepas maskernya, es krim yang dipegang Arvy jatuh. Matanya tertuju pada sosok wanita di depannya yang sedang memandang ke arahnya dengan tatapan mata kecewa. Tawa yang sedari tadi ia bagi dengan Irene seketika terhenti menyadari kehadiran wanita yang sangat penting baginya.


"Katanya kamu mau istirahat di rumah. Ternyata kamu asyik main-main di tempat ini dengan wanita lain, ya."


"Adila, dengarkan aku dulu." Arvy berusaha menjelaskan kesalah pahaman yang terjadi di antara mereka. Ia memang bilang akhir pekan inintak bisa peegi menemui Adila karena lelah dan ingin istirahat saja. Padahal ia pergi mengajak Irene untuk pergi jalan-jalan ke taman hiburan.


Irene bingung harus berbuat apa. Dalam posisi itu, dia seperti seorang selingkuhan yang ketahuan jalan dengan pacar orang. Kakeknya menaruh dirinya dalam posisi yang tidak menyenangkan.


"Kalau memang kamu sudah bosan denganku, bilang terus terang! Jangan menyakitiki seperti ini!" Adila mulai menitihkan air mata.


Arvy menoleh keadaan di sekitar yang masih terlihat sepi. Buru-buru ia memasang kembali masker milik Adila dan menarik tangannya agar mengikuti dirinya. "Irene, kami juga ikut!" Arvy menyuruh Irene mengikuti mereka.


Arvy memesan ruangan khusus di kafe ala Jepang yang berada di area taman hiburan. Kedua wanita itu dibawanya masuk ke dalam. Ia tak ingin memancing perhatian jika ribut di luar.


"Maksudmu apa membawaku bersama dia? Kamu tidak bisa menjaga perasaanku." Adila sangat sedih. Ia bahkan dijadikan satu ruangan dengan wanita yang diam-diam Arvy bawa jalan-jalan hari ini.


Arvy hampir tak bisa berkata-kata. "Adila, coba kamu kihat dia!" pinta Arvy. Ia ingin Adila memandang Irene secara cermat.


Adila menurut, ia menoleh ke arah Irene dan memperhatikannya secara sekilas. "Memangnya kenapa?" tanya Adila.


"Adila, Please ... masa kamu cemburu dengan wanita seperti dia?" Arvy heran saja Adila punya pikiran macam-macam tentang dia dan Irene.

__ADS_1


"Kenapa tidak boleh cemburu? Kamu jalan dengan wanita lain kenapa aku tidak boleh cemburu? Kamu membatalkan janji demi jalan dengan dia, apa aku tidak boleh marah dan cemburu?" Irene jadi emosi.


"Boleh, mau marah atau cemburu boleh ... tapi, masa kamu cemburu dengan Irene yang jelek? Aku tidak akan berselingkuh dengan dia."


Irene hanya diam di pojokan. Sebenarnya ia ingin meninju Arvy. Mulutnya sangat aktif kalau sedang menjelek-jelekkan dirinya. Padahal baru saja ia mulai mengucapkan terima kasih dan seperti telah menghapus permusuhan di antara keduanya. Sekarang, ia sudah kembali menabuh genderang perang.


"Wanita akan terlihat cantik di mata orang yang mencintainya. Fisik tidak terlalu penting saat rasa nyaman sudah ada."


Ucapan Adila sangat tepat. Irene sepakat dengan kata-kata seperti itu. Ia jadi berkhayal kalau suatu saat ada lelaki yang mencintainya dam wujud buruk rupanya saat ini.


Arvy tak bisa membalas kata-kata Adila. Ia bingung harus menjelaskan apa. Arvy belum cerita kalau sebenarnya Irene asalah wanita yang sedang dijodohkan dengannya. Kalau Adila tahu, sepertinya kesalah pahaman di antara mereka akan semakin besar.


"Kita putus!" tegas Adila.


"Kamu bisa berkata seperti itu kepada semua wanita di dunia ini." Adila sudah terlanjur kecewa. Ia yang bersabar dan menahan diri dari rasa rindu, mencoba memahami Arvy yang katanya lelah kerja dan ingin istirahat, malah merelakan waktunya dengan orang lain. Padahal, Adila juga kesulitan mengatur waktu pertemuan dengan Arvy. Dia juga sibuk dengan pekerjaannya.


"Aku mohon, Adila ... maafkan aku." Arvy sampai berlutut di hadapan Adila. Ia tak mau putus dengan wanita yang sangat dicintainya.


"Lepaskan, Arvy! Kamu tidak malu dengan wanita itu?"


Irene tidak tahan lagi untuk ikut campir dalam masalah dua orang artis itu. Ia juga akan ikut bersalah jika hubungan keduanya retak.


"Kak Adila, aku mau bicara denganmu sebentar."


Adila melirik ke arah Irene dengan tatapan kebencian. "Mau bilang apa? Supaya aku meninggalkan Arvy? Aku akan melakukannya, jangan khawatir!" Adila berkata dengan air mata yang berderai.

__ADS_1


"Duduk dulu, kamu tidak akan tahu jika belim mendengarkan aku sampai akhir."


Irene mengajak Adila duduk berhadapan dengannya. Arvy ikut duduk di sebelah Adila sembari memegangi tangan wanita itu terus.


"Perkenalkan, namaku Irene. Aku berasal dari Jakarta. Kedatanganku ke kota ini karena kakek berniat menjodohkan aku dengan salah satu putra keluarga Narendra, termasuk Kak Arvy."


Mendengar penuturan Irene, Adila langsung melotot ke arah Arvy. Ia kesal dengan Arvy yang tak pernah menceritakan apapun termasuk juga tentang perjodohan itu. Jika mereka tidak bertemu di taman hiburan, mungkin Arvy akan menyembunyikan hal itu darinya selamanya. Arvy benar-benar lelaki jahat, ia tak mau terbuka padahal mereka sudah berpacaran cukup lama.


"Irene, kalau cerita yang jelas, aku lagi yang kena marah Adila," protes Arvy. Kepalanya pusing kalau harus memberikan penjelasan kepada Adila. Ia lebih memilih mempercayakan pada Irene.


"Perjodohan ini bukan hanya aku dengan Kak Arvy, ya. Tapi juga dengan Kak Alan, Kak Alex, Kak Alfa, dan Ares. Entah nanti aku akan berakhir dengan siapa, belum tentu juga aku dengan Kak Arvy atau yang lain. Bisa saja kami tidak ada yang berjodoh. Namanya juga sekedar perjodohan."


"Oh, ya ampun ... kamu serakah sekali menguasai lima tuan muda dari keluarga Narendra," gumam Adila. Ia ingin terkekeh mengetahui kenyataan semacam itu. Perjodohan zaman sekarang bisa dikatakan sudah langka. Jika ada yang masih mau dijodohkan, bukankah itu sebuah pemikiran yang kolot?


"Ini bukan kemauanku ataupun kemauan mereka, tapi kemauan kakek-kakek kami."


"Bagaimana kalau akhirnya kalian berjodoh? Aku lihat tadi kalian sangat bahagia tertawa bersama. Kalian pasti senang sekali melewati akhir pekan berdua. Sementara, aku terpaksa datang sendiri karena sudah terlanjur membeli tiket."


Arvy merasa bersalah kepada Adila. Ia tak menyangka wanita itu akan tetap pergi ke taman hiburan meskipun ia telah membatalkan janji mereka berdua. Kalau tahu Adila ada di sana, mungkin lebih baik kalau mereka jalan bertiga.


"Apa kamu tidak punya rasa percaya diri?" tanya Irene.


"Apa?" Adila tak paham dengan arah pembicaraan Irene.


"Kalau kamu memang tidak punya rasa percaya diri, cepat, putus saja dengan Kak Arvy!"

__ADS_1


__ADS_2