
Sepulang sekolah, Irene mampir ke klinik kampus. Dokter Rita mengatakan ingin bicara sebentar dengannya. Entah apa yang akan dokter itu sampaikan, Irene tidak mengetahuinya.
"Irene, bagaimana kondisimu?" tanya Dokter Rita. Ia mempersilakan Irene untuk duduk santai di sofa.
"Saya sudah sehat, Dok. Memangnya Dokter mau membahas apa dengan saya?" tanya Irene penasaran.
Dokter Rita menatap Irene dengan serius. "Tapi kamu harus bicara jujur, ya!"
Irene semakin heran dengan sikap Dokter Rita kepadanya. "Iya, Dok."
"Luka di lenganmu bukan luka biasa, kan? Itu luka apa?" tanya Dokter Rita.
Irene terdiam. Ternyata Dokter Rita mencurigai tentang lukanya.
"Itu luka tembakan? Benar, kan?" telisik Dokter Rita.
Irene tak mau menjawab.
"Kamu sudah bilang mau berkata jujur, Irene ...." tegur Dokter Rita. Ia sampai menghela napas menunggu jawaban yang tak kunjung keluar dari mulut Irene. "Baiklah, kalau memang kamu tetap diam, mungkin aku harus menanyakannya kepada pihak keluargamu."
"Jangan, Dok!" cegah Irene.
Dokter Rita menjadi curiga. "Aku rasa mereka juga belum tahu tentang lukamu, kan?"
Irene menunduk. "Apa tidak bisa Dokter pura-pura tidak tahu? Saya juga bingung ingin mengatakannya bagaimana. Saya memang sempat terkena tembakan tapi sudah dioperasi." akhirnya, Irene berbicara jujur.
"Irene, bagaimana kamu mendapatkan luka tembak seperti itu? Ini bahaya sekali," tanya Dokter Rita khawatir.
"Hanya salah sasaran saja, Dok. Saya pernah ikut kelas latihan menembak dan tidak sengaja terkena peluru nyasar. Mereka sudah bertanggung jawab mengobati. Jadi, tolong Dokter jangan membocorkan ini kepada siapapun. Yang ada akan timbul masalah rumit padahal semua sudah selesai." Irene terpaksa berkilah.
Dokter Rita terdiam sesaat. "Yang seperti ini juga bahaya. Orang-orang sekitarmu tidak tahu kalau kamu terluka sampai kamu pingsan waktu itu. Aku harap kamu lebih hati-hati lagi," nasihatnya.
"Iya, Dok. Saya akan sangat berhati-hati."
Setelah menyelesaikan pembicaraan dengan Dokter Rita, Irene pamit pulang. Ia menghampiri Alan yang katanya masih menunggu di halaman depan kampus.
__ADS_1
Saat hampir sampai dindekat mobil Alan, ia melihat Sovia ada di sana. Mereka tampak tengah berbicara berdua.
"Alan, aku minta maaf atas kelakuan adik sepupuku. Aku rasa Miranda dan Irene hanya salah paham saja," kata Sovia.
Irene sengaja menghentikan langkah dan mendengarkan pembicaraan mereka secara diam-diam.
"Pergi sana! Aku tidak mau bicara denganmu!" usir Alan. Ia memang sudah tak ingin ada urusan dengan mantan kekasihnya itu.
"Kenapa sih kamu masih galak juga? Aku ini sudah jinak, Alan," protes Sovia. "Oh, iya. Sebenarnya aku ingin bicara berdua denganmu secara pribadi. Ini bukan tentang kita, tapi tentang Irene. Aku punya rahasia yang pasti belum kamu ketahui tentang dia."
Sovia sengaja mengatakannya untuk memancing rasa penasaran Alan. "Tapi, aku tidak akan mengatakannya di sini. Kalau kamu ingin tahu, mari kita bertemu di restoran XXX besok siang."
Irene malas melihat pertemuan dua orang yang pernah memiliki hubungan itu. Ia memutuskan untuk pulang sendiri.
Sementara, Alan menunggu dengan resah Irene yang tak kunjung muncul. Sovia telah pergi dari hadapannya. Ia memelepon nomor Irene, namun nomornya tidak aktif.
Alan menunggu sampai kampus terlihat sepi. Saat ia bertanya pada salah seorang mahasiswa yang baru keluar, katanya kelas perkuliahan Irene sudah berakhir sejak satu jam yang lalu.
Alan memutuskan untuk pulang ke rumah. Ia tanyakan kepada pelayan rumah, ternyata Irene memang sudah pulang duluan.
"Kenapa anak itu? Dia kan sudah tahu kalau aku masih menunggunya di depan kampus seharian?" gumam Alan.
Irene menghindari tatapan mereka bertemu. "Aku lupa kalau Kak Alan menungguku," kilahnya.
Alasan Irene terdengar tak masuk akal. "Pasti kamu ada masalah lagi, ya?"
"Tidak, Kak. Aku tidak ada masalah apa-apa. Aku cuma mau tidur siang, aku ngantuk!" jawab Irene ketus.
Brak!
Alan dibuat kaget saat Irene menutup pintu dengan keras. "Aku salah apa? Seharusnya aku yang marah, kan?" gumamnya.
***
Keesokan harinya, Irene berangkat ke kampus pagi-pagi sekali. Ia malas bertemu dengan Alan. Semalaman ia memikirkan kalau Alan akan bertemu dengan Sovia di belakangnya.
__ADS_1
"Kalau masih belum bisa move on, jangan pura-pura terima pertunangan deh!" gerutunya.
Sesampainya di kampus, Miranda juga sudah ada di sana. Sepertinya wanita itu sengaja datang untuk menunggunya.
"Kemarin Kak Sovia sudah berbicara dengan Pak Alan. Katanya aku tidak perlu meminta maaf lagi padamu," kata Miranda dengan nada bicara yang angkuh. "Kita cukup melupakan kejadian kemarin dan tidak saling mengganggu satu sama lain."
Seketika raut wajah Irene berubah. Ia tidak menyangka jika Alan alan mengakhiri masalah itu begitu saja.
Miranda memainkan jemarinya yang cantik dengan hiasan nail art. "Kak Sovia itu kakak sepupuku. Bagaimanapun juga, dulu dia punya hubungan yang sangat spesial dengan Pak Alan. Kalau kamu tidak datang dalam kehidupan Pak Alan, seharusnya mereka sudah menikah. Gara-gara perjodohan tidak masuk akal denganmu, mereka jadi mengakhiri hubungan mereka, kan?" sindirnya.
Miranda kemudian menyeringai. "Aku dengar mereka juga akan ketemuan siang ini di restoran. Apa kamu juga diberi tahu? Aku rasa tidak, ya?" ledeknya.
"Yah, mungkin perasaan mereka belum sepenuhnya berakhir. Kamu terima saja kalau di belakang mereka masih menjalin hubungan dengan baik. Kalau aku jadi kamu, seharusnya tahu diri, lah! Mana cocok orang sepertimu bersanding dengan Pak Alan."
"Kalau aku jadi kamu, seharusnya malu masih ada di kampus ini. Kamu sudah janji akan keluar dari kampus!" timpal Irene dengan kesal.
"Hahaha ... Bagaimana, ya? Pak Alan sudah memaafkan aku. Ini semua berkat Kak Sovia."
Miranda melenggang pergi meninggalkan Irene, membuat Irene semakin kesal. Alan tidak seharusnya melakukan hal itu kepadanya. Mereka sudah punya kesepakatan dan Miranda seharusnya dikeluarkan dari kampus.
***
Selama perkuliahan berlangsung, Irene gelisah memikirkan Alan dan Sovia. Ia penasaran apa yang akan mereka bicarakan nanti. Saat perkuliahan selesai, ia bergegas ingin pergi ke restoran yang kemarin disebutkan oleh Sovia.
"Mau kemana, Ren?" tanya Jeha yang melihat temannya buru-buru pergi.
"Aku ada urusan sebentar!" jawab Irene sembari membereskan barang-barangnya.
"Katanya mau makan siang bareng di kantn?"
Irene mengulaskan senyum. "Kapan-kapan saja, ya! Aku tidak bisa hari ini."
Irene berlari cepat meninggalkan ruang perkuliahan. Di depan kampus, ia mencegah satu taksi yang lewat.
"Pak, antar saya ke restoran XXX!" perintahnya.
__ADS_1
Sesampainya di restoran, Irene memasang topi dan kacamatanya lalu duduk di salah satu tempat duduk di sana. Ia memesan minuman sembari menunggu kedatangan Alan dan Sovia.
Di saat yang bersamaan, terlihat Alan tengah memesan makanan direstoran itu dan meminta pegawainya untuk membungkuskan makanan itu.