Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 110


__ADS_3

"Coba makan ini!"


Alan mengambilkan sepotong sushi dengan sumpit dan menyuruh Irene memakannya. Dengan senang hati, Irene menerima suapa itu untuk yang ketiga kali. Entah mengapa hari ini Alan suka menyuapinya.


Alan juga merasa senang melihat raut bahagia yang Irene tunjukkan saat menikmati makanan. Ia suka melihat wanita itu makan.


"Wah, coba lihat siapa ini yang sedang pacaran di restoranku," sapa Ibu Inka si pemilik restoran.


Alan cukup terkejut dengan kehadiran sahabat dari ibunya secara mendadak sampai sushi yang ada di sumpitnya terjatuh.


Irene ikut menoleh ke arah wanita yang masih terlihat cantik meskipun sudah tua itu.


"Apa ini pacarmu, Alan? Kayaknya sudah lama kamu tidak kelihatan bareng siapapun setelah putus dari Sovia."


Alan merasa canggung mendengar nama Sovia disebut. "Tante apa kabar? Lama tidak bertemu," ucapnya mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Seperti yang kamu lihat, aku semakin tua, Alan."


"Tapi Tante masih cantik, belum terlihat tua," puji Alan.


"Hahaha ... Apa kamu sedang berusaha merayu wanita tua ini? Ucapanmu sangat manis."


"Menurutku Tante sama sekali tidak berubah sejak dulu, selalu cantik."


Inka tampak tersenyum. "Kamu memang anak yang pandai mengambil hati orang. Karena aku merasa bahagia melihatmu di sini, aku gratiskan makanan di sini. Pesan saja apapun yang kalian mau," ucapnya.


"Ini sungguhan?" sahut Irene. Justru dia yang antusias mendengar makanan di sana digratiskan.


"Tentu saja. Karena kamu datang bersama Alan, jadi kamu juga boleh mencicipi apapun," ucap Inka.


"Wah, terima kasih ..," ucap Irene kegirangan.

__ADS_1


"Silakan dinikmati hidangannya, aku pamit ke luar dulu. Alan, kalau ada waktu, sempatkan mampir ke rumah Tante."


"Baik, Tante."


"Itu siapa?" tanya Irene setelah Inka pergi.


"Teman ibuku," jawab Alan singkat.


"Oh ...." Irene mangguk-mangguk sembari mengunyah sushi di mulutnya.


***


"Apa perlu aku jemput nanti?" tanya Alan ketika ia telah sampai di depan kampus Irene.


"Tidak usah, Kak. Nanti aku pulang dengan teman saja," ucap Irene seraya turun dari mobil Alan.


"Baiklah, selamat kuliah. Rajin-rajin supaya cepat lulus," kata Alan sebelum mereka berpisah.


"Irene!"


Sapaan Alex mengejutkan Irene. Ia tidak menyangka lelaki itu akan berani menemuinya setelah membuat kekacauan di perusahaan.


Ia bingung bagaimana harus bersikap kepada Alex. Satu sisi ia menghargai lelaki yang pernah memperlakukannya dengan sangat baik. Namun, melihat akhir-akhir ini Alex berubah, ia tak bisa menyembunyikan kekecewaannya.


"Kenapa Kakak ada di sini?" tanya Irene.


"Aku ingin bicara denganmu."


"Kalau begitu, katakan di sini sekarang," kata Irene.


"Bagaimana kalau kita duduk di kafe sebentar?" ajak Alex.

__ADS_1


"Tidak, aku baru saja selesai makan dengan Kak Alan."


Alex mengepalkan tangannya merasa kesal mendengar nama Alan disebut. "Kamu sepertinya semakin menyukai kedekatanmu dengan Alan, ya?" ia sedikit tersenyum sinis.


Alex berubah. Bahkan ia tidak mau menyertakan titel kakak pada nama Alan lagi.


"Sebenarnya Kakak mau menyampaikan apa? Tolong jangan terlalu berbelit-belit karena aku harus segera masuk kelas."


"Jelas sekali sekarang kamu ada di pihak Alan. Aku sangat kecewa. Padahal aku sejak dulu satu-satunya yang bersikap baik padamu."


"Tidak ada yang namanya siapa memihak siapa, Kak. Kita adalah satu keluarga yang seharusnya saling menyayangi."


"Hah! Keluarga? Saling menyayangi? Itu mungkin hanya berlaku untuk kalian. Bagi anak haram sepertiku, tinggal disingkirkan setelah tidak diperlukan."


"Kak ...."


"Kalau kamu punya hati sedikit, bukankah seharusnya kamu bisa memahamiku, Irene? Apa kamu ikut menjauhiku karena aku tidak murni keluarga Narendra?"


"Berhenti, Kak! Berhenti untuk pura-pura peduli dan menderita," kata Irene. "Berhenti menggunakan tameng anak haram sebagai alasan untuk melakukan pembelotan terhadap perusahaan. Tidak ada yang pernah menganggap Kak Alex sebagai orang lain. Kakak sendiri yang menganggap diri Kakak berbeda."


"Kalau Kakak memang orang baik, tidak mungkin tega melakukan hal seperti kemarin."


Alex terdiam. Ia tidak bisa m3mbantah perkataan Irene yang memang sepenuhnya benar. Entah mengapa muncul ketamakan di dalam hati untuk mengusai Narendra Group.


"Aku ingin berhenti berpura-pura kalau kita punya hubungan khusus, Kak. Aku benar-benar tidak bisa lagi mengikuti jalan pikiran Kakak yang sekarang."


Alex meraih tangan Irene. "Aku ingin kamu berdiri di sampingku," katanya.


Irene melepaskan genggaman tangan Alex. "Jangan gunakan aku sebagai alasan untuk mendapatkan apa yang Kakak inginkan. Maaf, aku tidak bisa."


Irene pergi meninggalkan Alex menuju ruang kelasnya. Sementara, Alex tampak kesal diam di sana. Ia mengepalkan kedua tangannya menunjukkan betapa geram dirinya terhadap apa yang baru saja Irene putuskan. Dalam hatinya, ia semakin ingin menghancurkan Alan dengan segala cara.

__ADS_1


__ADS_2