
"Jeha ... Winda ...," panggil Irene saat memasuki ruang perkuliahannya.
"Kya ... Irene ...," seru Jeha dan Winda kompak. Keduanya langsung berlari memeluk Irene. Mereka seperti tiga orang anak kecil yang baru bertemu lagi setelah lama berpisah.
"Kalian apa kabar? Kangen sudah lama tidak bertemu," ucap Irene.
"Kita baik-baik saja sih, mulai awal semester masuk sini rasanya menyenangkan juga. Tapi, kenapa kamu baru masuk sekarang?" Winda meninju pelan lengan Irene.
"Iya. Kita berdua sudah bilang akan menyusulmu berkuliah di sini. Pas ikut kelas tapi ternyata kamu tidak ada, aku kira kamu malah pindah," sahut Jeha.
"Aku kemarin pulang kampung. Niatnya cuma sebentar, tapi ternyata kakek nenek menyuruhku lebih lama tinggal di sana. Karena aku jarang pulang juga, akhirnya aku membolos kuliah dulu."
"Ah, begitu, ya ... Aku senang sekali bisa bertemu denganmu." Jeha memeluk hangat tubuh Irene.
Mahasiswa lain terlihat sedikit heran mengetahui dua anak baru yang ada di kelas mereka ternyata kenal baik dengan Irene. Tidak bisa dipercaya jika Irene bisa berteman dengan wanita secantik mereka.
"Oh, iya. Kenalkan dulu ini temanku, namanya Bian." Irene menarik lengan Bian agar menyapa kedua teman barunya.
"Hai, aku Bian, teman Irene. Salam kenal." Bian agak malu-malu berkenalan dengan kedua orang itu.
"Hai, Bian. Namaku Winda. Aku teman Irene saat kompetisi lomba dulu."
"Kalau aku Jeha, sama juga, ketemu Irene saat lomba."
"Eh, lebih baik kita duduk sekarang, ya! Sebentar lagi Pak Bambang datang!" ajak Irene.
Keempat mahasiswa itu duduk berdekatan di area pojok kanan paling belakang. Tujuannya sudah jelas, kalau mereka duduk paling belakang bisa sambil makan atau tidur tanpa ketahuan. Mereka juga bisa ngobrol selama pembelajaran karena hal itu yang mengasyikkan saat di kelas.
Ketika pelajan dimulai, Irene teringat dengan jadwal les privat Bahasa Persia yang akan ia lakukan dengan Alan. Ia sudah berjanji akan mengajari Alan sebagai ganti ia telah diajari cara memilih batu berharga yang baik.
Ia mengeluarkan ponselnya yang lain dan mengirimkan pesan kepada Alan dengan dengan identitas Alenta.
From: Alenta
[Pak, jangan lupa nanti malam jam 8 kita akan memulai pelajaran Bahasa Persia. Murid baru tidak boleh telat datang!]
Alan yang sedang rapat tersenyum-senyum membaca pesan yang masuk di ponselnya. Alenta merupakan partner yang lumayan menyenangkan menemaninya berbisnis selama di luar negeri. Meskipun beberapa kali mereka sempat berdebat, namun setelah kontrak mereka berakhir hubungan kedunya tetap baik.
__ADS_1
From: Alan
[Siap, Sensei!]
Irene tersenyum setelah pesannya dibalasoleh Alan. Ia bahkan tidak terlalu perhatian padahal yang sedang berdiri di depan menjelaskan merupakan Pak Bambang.
"Kenapa dari tadi senyum-senyum sendiri?" tegur Jeha dengan nada lirih. Ia yang sejak tadi terus memperhatikan tingkah aneh Irene akhirnya berani bertanya.
"Tidak, tidak apa-apa ...." Irene langsung menyimpan ponselnya.
"Pasti kamu sudah punya pacar ya, sekarang?" tanya Jeha lagi.
"Aduh, pertanyaan macam apasih!" Irene kaget ditanya seperti itu oleh Jeha.
"Aku kira tadi Bian pacarmu."
"Dia hanya temanku."
"Oh, iya! Pak Alan apa kabar, ya?" tanya Jeha malu-malu.
***
"Main ke mall, yuk! Kita kan sudah lama tidak bertemu," ajak Jeha usai perkuliahan selesai.
"Aduh, maaf, ya ... Kayaknya aku tidak bisa." Irene terlihat menyesal untuk menolaknya. Seandainya tidak ada janji dengan Alex, mungkin dia akan ikut teman-temannya main ke mall.
"Ayolah ... Kamu sudah kelamaan pulang kampung, apa tidak mau main sama kami?" protes Winda.
"Memangnya kamu ada acara apa sih, Ren? Biasanya juga suka kalau diajak jalan," sahut Bian.
"Irene!" seseorang memanggil nama Irene.
Ternyata Alex sudah berada di sana mengenakan setelan kemeja yang tampak rapi. Mereka bertiga tertegun seorang lelaki tampan datang menjemput Irene.
"Em, aku pamit dulu, ya. Soalnya sudah dijemput," pamit Irene dengan nada tidak enak hati meninggalkan ketiga temannya.
"Iya, Ren. Hati-hati."
__ADS_1
Tampak wajah yang kecewa sekaligus keheranan melihat Irene pergi dengan lelaki tampan tersebut. Alex menggandeng tangan Irene, membawanya berjalan menuju tempat ia memarkirkan kendaraan.
"Rasanya sudah cukup lama juga aku tidak mengantar dan menjemputmu di kampus."
"Kakak kan sibuk. Lagian Ares yang satu kampus denganku. Jadi, kita bisa sering berangkat bareng kalau dia tidak sibuk."
"Sekarang dia sudah sibuk di perusahaan."
"Oh, pantas. Tadi juga nggak kelihatan di kampus."
"Dia lebih sering ikut kuliah online."
Alex membukakan pintu untuk Irene dan menyuruhnya masuk. Ia membawa Irene berjalan-jalan menyusuri kota dengan mobilnya. Saat hari telah larut, Alex baru mengemudikan mobilnya ke arah hotel mewah bintang lima.
"Kak, yakin kita mau ke sini? Aku nggak pakai pakaian formal, loh!" Irene keheranan Alex mengajaknya ke tempat mewah itu. Setahu Irene, tempat makan mewah semacam itu memang memiliki aturan tersendiri untuk berbusana formal. Sedangkan dirinya masih mengenakan seragam kuliahnya yang tampak acak-acakan.
"Tidak apa-apa, sesekali kita bisa bebas di dalam dengan kekuatan uang!" Alex menarik tangan Irene agar ikut dengannya .
Masuk ke dalam lift yang akan mengantarkan mereka menuju lantai yang sudah dipesan. Mereka berada di lantai tertinggi gedung tersebut, lantai 49.
Suasana di sana telah tertats dengan rapi dan indah, suasananya sepi, hanya ada mereka berdua. Dari lantai 49, mereka bisa menikmati keindahan malam kota lewat kaca-kaca besar yang ada di sana.
"Kak, rasanya aneh aku salah penampilan deh berada di sini." Irene masih canggung memikirkan penampilannya.
Alex tersenyum. "Kita bukan ingin adu outfit di sini, kita mau makan. Kamu masih suka makan, kan?"
Irene langsung mengangguk dengan semangat. Seorang pelayan menuangkan anggur ke dalam gelas mereka. Irene dan Alex melakukan cheers. Tak lama berselang, suara musik romantis mengalun. Lagu cinta yang dibawakan tim band membuat suasana terasa semakin syahdu. Ia jadi tidak sabar ingin sekali mencicipi menu-menu yang diberikan.
Alex berdiri dari tempatnya. Hal itu membuat Irenw bingung. Lelaki itu berlutut di hadapan Irene.
"Kakak sedang apa sih?" tanya Irene penasaran.
Alex mengacungkan kotak perhiasan kecil. Ketika kotak tersebut terbuka, ada sebuah cincin di dalamnya. "Irene, maukah kamu menjadi kekasihku," ucap Alex dengan nada lugas. Irene benar-benar tidak menyangka Alex akan mengucalkan hal tersebut kepadanya.
"Kak, kamu sedang apa-apaan, sih!" protes Irene. "Jangan bercanda, kita perlu makan, Kak!" Apapun yang terjadi, Irene terus memikirkan tentang makan.
"Aku sungguh-sungguh mengagumimu, Irene. Apa kamu bersedia menjadi kekasihku?"
__ADS_1