Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 256: Hari Pernikahan


__ADS_3

Irene berdiri di depan cermin, mengenakan gaun pengantin yang indah. Walaupun terlihat cantik dan anggun, namun hatinya terasa berat. Ia tidak menyukai pernikahan ini dan merasa seperti terjebak dalam keadaan yang tidak ia inginkan. Sejak dulu mengenal Hamish, Irene memang tidak merasa adanya ikatan batin yang kuat, tidak ada perasaan yang mampu mempersatukan mereka sebagai pasangan yang saling mencintai. Ia masih menganggap Hamish sebagai kakaknya.


"Nona, kenapa sejak tadi keluar air mata terus? Biar aku perbaiki makeup-nya," ucap seorang wanita yang bertugas mendandani Irene.


Irene kembali duduk dan membiarkan wanita tersebut mengusap air mata serta menyapukan bedak untuk memperbaiki riasan yang agak rusak.


"Apa Anda tidak menyukai pernikahan ini?" tanya wanita itu sembari mendandani Irene.


"Ah, apa yang kamu katakan." Irene tersenyum untuk menutupi luka hatinya.


"Beberapa kali aku mendapatkan client wanita yang sebenarnya tidak menginginkan pernikahan. Pada akhirnya mereka memilih lari daripada harus terikat pada hubungan tanpa didasari rasa cinta."


Ucapan wanita itu begitu mengena di hati Irene. Seandainya bisa, ia juga ingin menolak pernikahan itu. Tapi, Hamish menegaskan akan tega menghabisi kakek dan neneknya jika ia kabur.


Wanita itu memasangkan selembar kain putih transparan menutupi wajah Irene. Meskipun tertutup namun tidak menghalangi kecantikan Irene dalam pernikahan itu.


"Apa pengantin wanitanya sudah siap?" seorang wanita muncul dari balik pintu. Dia salah satu tim yang mengatur acara pernikahan itu.


"Pengantinnya sudah siap. Apa waktunya sudah tiba?" tanya wanita yang mendandani Irene.


"Bawalah ke depan. Semua orang sudah menunggu!"


"Mari, Nona. Saya antarkan Anda ke depan."


Irene memberikan tangannya kepada wanita yang telah meriasnya. Mereka berjalan bersama keluar dari ruang make up tersebut. Sudah ada banyak tamu yang duduk untuk menyaksikan pernikahan itu. Irene tak mengenal satupun dari mereka.


Alunan musik pernikahan mengalun mengiringi langkah kaki Irene. Ia melangkah ke altar gereja, berjalan pelan dengan senyum palsu di bibirnya. Tetapi, sesampainya di depan altar, senyumnya memudar dan ia hanya bisa menatap kosong ke arah depan. Ia tidak pernah membayangkan dirinya menikah dengan lelaki yang tidak ia cintai. Bahkan, ketika Hamish mengulurkan tangan untuk memegang tangannya, Irene tidak merasakan getaran cinta yang ia inginkan.


"Kamu cantik sekali," puji Hamish dengan senyuman merekah di bibirnya.


Kedua mempelai bergandengan tangan menuju ke altar yang sudah dihiasi dengan bunga-bunga dan pita merah putih. Di hadapan pendeta Gabriel, Irene dan Hamish saling memandang.


Pendeta Gabriel memimpin prosesi pernikahan dengan membacakan doa-doa dan memberikan pengajaran tentang makna pernikahan.

__ADS_1


"Baiklah, mari kita mulai upacara pernikahan ini dengan doa," ucap Pendeta Gabriel.


Perasaan Irene semakin terpuruk ketika ia memikirkan tentang pernikahannya. Ia merasa seperti kehilangan sesuatu yang sangat berarti dalam hidupnya, dan mengkhawatirkan masa depan yang tidak ia harapkan. Bahkan ceramah dari sang pendeta sama sekali tidak ia dengarkan.


Irene dan Hamish kembali saling memandang, tangan mereka saling tergenggam dengan erat.


"Irene Abraham, apakah kamu bersedia menerima Hamish Abraham sebagai suamimu, untuk saling mencintai, menghormati, dan setia selama hidupmu?"


Irene terdiam sesaat. Di tengah-tengah acara pernikahan, Ia menyadari betapa sulitnya hidup tanpa cinta. Ia merindukan cinta dan kasih sayang yang hanya bisa diberikan oleh Alan. Ia mengharapkan lelaki itu tiba-tiba datang di sana dan membawanya pergi.


Irene memejamkan mata sejenak, mencoba meraih ketenangan hatinya. Namun, ketika ia membuka mata, ia tetap tidak bisa melepaskan perasaannya. Ia melihat Alan berdiri di tengah-tengah kerumunan tamu undangan, menatapnya dengan penuh rasa penyesalan. Irene tahu bahwa Alan masih mencintainya, dan itu membuat hatinya semakin terpuruk. Apalagi yang dilihatnya hanyalah pemandangan semu belaka.


Hamish memberikan kode pada Irene agar menjawab pertanyaan pendeta.


"Irene, apa kamu mendengarku?" tanya sang pendeta karena Irene tak juga memberikan jawabannya.


"Ah, iya, maafkan saya," ucap Irene.


"Baiklah, saya ulangi sekali lagi," kata Pendeta Gabriel. "Irene Abraham, apakah kamu bersedia menerima Hamish Abraham sebagai suamimu, untuk saling mencintai, menghormati, dan setia selama hidupmu?"


Hamish terlihat lega mendengar kesediaan yang meluncur dari mulut Irene.


"Dan kamu, Hamish Abraham, apakah kamu bersedia menerima Irene Abraham sebagai istrimu, untuk saling mencintai, menghormati, dan setia selama hidupmu?" tanya Pendeta Gabriel.


"Ya, saya bersedia," jawab Hamish dengan mantap. Ia mengulaskan senyuman lebarnya.


"Baiklah, sekarang mari kita dengarkan pengucapan ikrar janji setia kedua mempelai disaksikan oleh para hadirin di tempat ini."


Irene dan Hamish kembali saling memandangan.


"Saya, Irene Abraham, mengambil kamu, Hamish Abraham, sebagai suamiku. Saya berjanji akan mencintaimu, menghormati, dan setia selama hidupku," kata Irene dengan nada suara yang bergetar. Matanya berkaca-kaca saking beratnya mengucapkan hal itu tanpa ketulusan dari hatinya. Ia hanya ingin mengucapkannya untuk Alan Narendra.


"Saya, Hamish Abraham, mengambil kamu, Irene Abraham, sebagai istriku. Saya berjanji akan mencintaimu, menghormati, dan setia selama hidupku," balas Hamish.

__ADS_1


Dengan penuh keyakinan, Irene dan Hamish saling mengucapkan janji suci untuk saling mencintai, menghormati, dan setia selama hidup mereka bersama. Setelah itu, kedua mempelai diberkati oleh pendeta Gabriel sebagai tanda kesucian pernikahan mereka.


"Dengan janji suci ini, saya menyatakan kalian berdua sah sebagai suami istri. Kiranya kalian selalu hidup dalam cinta dan kasih sayang, dan selalu menghormati satu sama lain," kata Pendeta Gabriel.


"Sekarang, mempelai pria bisa membuka menutup kepala membelai wanita dan berciuman," imbuh sang pendeta.


Hamish melakukannya. Ia menyingkapkan kain tipis yang sejak tadi menutupi wajah cantik Irene. Meskipun sudah sering melihatnya, Hamish selalu takjub bahwa Irene tampak sangat cantik hari ini.


Irene mengepalkan tangannya, menahan diri agar tidak gemetar. Ia hanya bisa memejamkan mata saat bibir Hamish menyentuh bibirnya. Keduanya berciuman singkat di depan semua orang.


Setelah prosesi pernikahan Irene dan Hamish diakhiri dengan pembacaan ikrar pernikahan dan doa syukur, kedua mempelai kemudian berbalik menghadap tamu undangan dengan senyum bahagia dan tangan masih bergandengan.


Para tamu undangan menyambut mereka dengan ucapan selamat dan bunga-bunga yang dilemparkan di atas mereka sebagai tanda kebahagiaan dan keberkahan.


Pernikahan berlangsung dengan mulus, tetapi Irene tidak merasa bahagia sama sekali. Tubuhnya terasa lemas dan hampir pingsan. Ia tidak kuat lagi menjalani sesuatu yang selama ini tak pernah ia inginkan.


"Pernikahan ini tidak sah!"


Terdengar suara teriakan dari arah pintu. Sekelompok orang tiba-tiba saja datang ke tempat pemberkatan pernikahan Hamish dan Irene. Mereka dipimpin oleh Alberto Miguel, ayah angkat Irene.


"Ayah Angkat!" seru Irene. Ia langsung menangis melihat kedatangan orang yang diharapkan bisa menolongnya. Ia hendak berlari menghampiri Alberto, namun Hamish menahan tangannya.


"Batalkan pernikahan ini! Pernikahan yang dilakukan dibawah ancaman tidak sah!" ucap Alberto. Ia geram saat mengetahui Irene dipaksa menikah oleh Hamish.


"Hamish! Berani-beraninya kamu mengambil putriku tanpa ijin. Hadapi aku dulu!" teriak Alberto. Ia membawa serta anak buahnya untuk menjemput Irene pulang.


"Kak, lepaskan aku! Aku mau menemui ayah angkat!" kata Irene memohon sembari menangis.


"Tidak bisa, Irene. Kita sudah menikah. Kamu istriku sekarang," kata Hamish.


Irene berusaha melawan, namun akhirnya ia tumbang karena Hamish menggunakan sapu tangan berisi obat bius untuk membuat Irene pingsan.


"Halangi mereka!" perintah Hamish.

__ADS_1


Anak buah Hamish segera berdiri menjadi barikade untuk menghalangi Alberto dan anak buahnya. Sementara, Hamish pergi lewat pintu belakang membawa serta Irene yang pingsan bersamanya.


Suasana tempat pemberkatan itu seketika menjadi ramai. Kedua belah pihak saling serang. Pendeta merasa kebingungan. Ia ikut menyelamatkan diri agar tidak terlibat pertentangan antara dua kelompok itu.


__ADS_2