Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 188


__ADS_3

"Aku masih penasaran bagaimana Adila bisa hilang ingatan, Kak. Bagaimana menurutmu?" tanya Irene.


Selepas dari rumah Adila, Alan tak bisa mengantar Irene pulang karena ada suatu urusan mendadak. Arvy menawarkan tumpangan karena sekalian ia kembali ke tempat syuting yang searah dengan rumah.


"Aku juga tidak bisa memikirkannya. Melihat Adila baik-baik saja, aku sudah sangat bersyukur. Mungkin aku akan mencarikannya dokter ahli saraf atau apa yang bisa mengembalikan ingatannya."


"Kak Arvy hubungi saja Ron. Dia bisa membantu mencarikan dokter yang bagus," usul Irene.


"Ron?" tanya Arvy heran.


"Kakak pernah bertemu dengannya di kantor manajemen artis Kak Arvy, kan? Yang suka mengurus artis baru."


"Ah, dia ...." Arvy mangguk-mangguk. "Kamu mengenalnya juga?" tanyanya.


"Iya, aku sedikit tahu tentang dia. Kak Arvy coba tanya saja padanya."


"Baiklah, nanti aku coba menemuinya siapa tahu juga ada di kantor. Aku mau langsung pergi te lokasi syuting."


Arvy pamit. Ia mengemudikan mobilnya meninggalkan Irene di depan rumah. Irene lantas masuk ke dalam rumah.


"Nenek ...," seru Irene seraya memeluk neneknya yang tengah bersantai di halaman depan.


"Oh, kamu sudah pulang. Mana Alan?" tanyanya.


"Kak Alan ada urusan mendadak. Aku pulang diantar Kak Arvy."


"Lalu, Arvy mana?" tanya Nenek.


"Dia sudah pergi lagi, soalnya ada syuting."

__ADS_1


"Keluarga ini sepertinya orang yang sibuk-sibuk semua, ya. Sampai kakekmu juga ikut pergi. Di rumah nenek hanya sendiri." Nenek terlihat ingin mengeluh.


"Oh, sekarang kan ada Irene yang akan menemani Nenek. Jangan murung begitu dong, Nek! Nenek harus semangat karena ada cucu kesayangan Nenek di sini!" ucap Irene dengan penuh semangat. "Kalau Nenek bosan, aku bisa mengantar nenek jalan-jalan."


"Aduh, nenek malah takut nanti kamu bawa ngebut bisa-bisa jantungan"


"Hahaha ... Aku juga pasti akan melihat-lihat siapa yang aku bawa, Nek. Aku sekarang bawa mobilnya pelan-pelan, kok." Irene mengerdip-ngerdipkan matanya.


"Oh, iya. Tantemu katanya mau datang. Dia akan tiba di bandara sekitar jam 10 malam."


Irene mengerutkan dahinya. "Maksudnya, Tante Myria?" tanyanya memastikan.


"Ya, siapa lagi kalau bukan dia?"


"Aku kira Tante Myria tidak akan pulang ke sini. Dia kan tidak mengenal Nenek dan Kakek!" ujar Irene.


Irene mengangguk paham.


"Kamu tolong nanti malam jemput Tantemu, ya! Nenek sudah bilang kalau saat ini tidak sedang berada di desa. Jadi, dia akan menyusul ke sini."


***


"Mama ...," seru Myria.


Ia berlari menghampiri Irene yang turut mengajak ibunya datang ke bandara. Ia memberikan pelukan hangat kepada wanita paruh baya yang lama tak ia temui.


"Mendengar Nenekku dipanggil Mama itu terasa sangat aneh. Tante tidak cocok menyebut Nenek jadi Mama," protes Irene.


"Ye ... Memangnya kenapa? Suka-suka aku mau memanggil ibuku apa. Kamu kan hanya cucu, tidak berhak ya, mengaturku," ucap Myria. Ia memegangi ibunya dengan erat seolah ingin pamer kedekatan kepada Irene.

__ADS_1


Irene sangat malas melihat kelakuan bibinya. Wanita itu memang sejak dulu sangat suka mengganggunya. Mereka seakan sedang melakukan persaingan antara cucu perempuan dan anak bungsu perempuan.


"Sudahlah, kalian ini sedang apa? Ini hampir larut malam. Irene, ayo cepat kita pulang!" pinta nenek.


"Bawakan sekalian koperku, ya!" perintah Myria.


Irene terlihat kesal. Bukan hanya harus menjadi sopir, ia juga harus menjadi tukang angkat barang untuk bibinya.


"Bisa-bisanya cucu kesayangan kalah dengan anak menyebalkan seperti dia!" gerutu Irene sembari menarik dua koper yang Myria bawa. "Orang itu mau liburan atau pindahan? Bawaannya banyak banget seperti orang miskin saja. Di sini juga bisa kan beli pakaian, kenapa harus bawa barang dari sana," gumamnya.


Irene kembali dibuat kesal karena dia harus duduk sendirian di kursi depan bagian kemudi. Sementara, Myria bergelayut manja pada nenek di kursi belakang.


"Aku benar-benar dianggap sopir olehnya," gerutu Irene.


"Ma, cucumu itu kenapa memilih jadi dekil begini? Padahal pacarnya ganteng banget, kan?" sindir Myria. Ia sengaja berbicara dengan nada keras agar Irene bisa mendengarnya.


Irene melirik sekilas ke belakang. Bibinya tepat sedang menjulurkan lidah meledeknya.


"Sudahlah, itu terserah Irene mau tampil seperti apa. Dia memang suka dengan penampilannya yang seperti itu," kata Nenek.


"Aku jadi mau coba menggoda Alan, siapa tahu dia lebih memilihku dari pada sama Irene yang jelek, kan? Jadi, nanti aku akan menikah duluan, Ma. Masa cucu Mama yang lebih dulu mau menikah? Harusnya kan aku yang menikah duluan," kata Myria semakin memanasi Irene.


"Kak Alan tidak mungkin tertarik sama tante-tante yang sudah kelihatan tidak pernah laku di luar negeri," balas Irene.


"Eh! Anak nakal! Aku punya banyak fans lelaki, ya? Bisa-bisanya kamu bilang tidak ada yang tertarik padaku!" gerutu Myria.


"Fans kan hanya sekedar penggemar karya. Kalau secara personal, nggak ada kan yang mau menikah dengan tante-tante," ejek Irene.


"Sebenarnya sih banyak! Aku yang tidak mau saja," ucap Myria membela diri. "Oh, iya. Kamu sudah menyiapkan gaun dan cincin pernikahan apa belum?" tanya Myria.

__ADS_1


__ADS_2