Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 254: Rencana Pernikahan


__ADS_3

Irene baru saja keluar dari kamar mandi mengenakan bathrobe setelah menyelesaikan mandi paginya. Ia lihat di atas meja telah terhidang banyak makanan.


Irene berjalan mendekat ke arah meja mengambil secangkir teh dari sana. Dibawanya cangkir teh itu menuju ke arah balkon.


Dari sana ia bisa melihat pemandangan Menara Eiffel yang tampak tinggi menjulang dibandingkan bangunan-bangunan di sekitarnya.


Sudah tiga hari ia menikmati hari-harinya yang membosankan di kota itu. Hamish tak mengijinkannya pergi kemanapun kecuali pergi bersama. Ia seperti tawanan yang ditempatkan dalam sangkar emas.


Perancis berada di penghujung musim gugur. Dedauan telah berguguran dan suhu udara terasa mulai dingin. Menikmati secangkir teh sembari memandangi Menara Eiffel setidaknya bisa memberikan sedikit kehangatan bagi tubuh.


Irene terkejut saat merasakan sebuah pelukan datang dari arah belakangnya. Hamish telah kembali. Selama tiga hari lelaki itu kerap meninggalkannya sendiri di hotel mewah itu.


"Aku kira kamu belum bangun," ucap Hamish seraya mempererat pelukannya. Ia menghirup aroma wangi yang menguar dari tengkuk wanita itu.


Irene hanya bisa terdiam menahan rasa risihnya. Hamish semakin hari semakin berani menunjukkan perasaan cintanya. Perhatian yang dulu Irene anggap sebagai bentuk kasih sayang seorang keluarga telah berubah menjadi sesuatu yang membuatnya semakin merasa tertekan.


"Apa urusanmu sudah selesai?" tanya Irene.


"Kenapa? Kamu kesepian karena sering aku tinggal, hm?"


Irene meminum kembali teh di dalam cangkirnya. Ia juga mengarahkan cangkir itu agar Hamish bisa meminum dari gelasnya.


"Besok kita akan menikah. Aku sudah mempersiapkan semuanya," ucap Hamish.


Irene melebarkan mata mendengarnya. Itu terdengar sangat tiba-tiba. "Apa ini tidak terlalu terburu-buru?" tanya Irene.


"Menurutku tidak. Kita sudah sama-sama siap, kan?" ujar Hamish.


"Apa kita tidak akan mengundang siapa-siapa?" tanya Irene lagi.


"Siapa yang mau kamu undang? Apa perlu kita mengundang orang lain?"


Irene terdiam. Hamish bahkan menahan kakek dan neneknya di desa agar tidak menghalangi pernikahan itu.


"Sejak dulu kita hanya berdua, Irene. Tidak ada orang yang bisa dipercaya. Jadi, kehidupan ini cukup kita jalani berdua saja. Aku janji akan membuatmu bahagia."

__ADS_1


Hamish mengambil cangkir yang Irene pegang lalu meletakkannya di atas meja balkon. Ia menarik pinggang Irene dan mencium bibirnya dengan lembut, seolah ingin menegaskan bahwa wanita itu adalah miliknya.


Ia mengangkat tubuh Irene dan menggendongnya seperti seorang putri. Kedua mata mereka bertatapan.


Hamish menindahkan Irene ke atas ranjang dan melanjutkan ciumannya dengan pagutan yang semakin dalam. Tangan mereka saling menyatu. Hamish tak memberi kesempatan kepada Irene untuk melarikan diri darinya.


Sebagai seorang lelaki, ia sudah menahan diri untuk tidak menyentuh wanita itu. Menunggu Irene tumbuh besar dan menjadi pengantinnya merupakan suatu penantian yang teramat panjang. Kini, akhirnya ia bisa mencurahkan perasaannya yang sebenarnya tanpa takut akan gangguan dari orang-orang yang selalu menghalanginya.


"Ah!" seru Irene. Suaranya menghentikan tangan Hamish yang tengah berusaha menjelajah di atas kulit lembut itu.


"Kenapa?" tanya Hamish kaget.


"Aku kelaparan, Kak!" ucap Irene.


Irene mendorong Hamish dari atasnya dan bangkit dari ranjang. Ia segera beralih ke meja makan dan langsung melahap makanan yang tersaji di sana.


Hamish hanya bisa menyunggingkan senyum sembari menggeleng-geleng kepala. Padahal memurutnya momen itu sudah sangat pas untuk bermesraan. Ia terpaksa menunda kembali hasratnya dan bergabung dengan Irene di meja makan.


"Bagaimana dengan baju-baju yang sudah aku belikan? Apa cocok untukmu?" tanya Hamish sembari menikmati sarapannya.


Semua yang Irene kenakan selama di Perancis merupakan pilihan Hamish.


"Aku ingin melihatmu mengenakan semua yang aku belikan untukmu," kata Hamish.


Irene memperlambat kunyahan makanannya. "Apa Kakak seorang yang ca bul? Tanyanya.


Hamish terkekeh. "Memangnya kenapa? Sebentar lagi kita juga akan menikah," ujarnya.


Irene hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Ia tak mau memikirkan bagaimana besok. Ia takut jika pernikahan itu benar-benar terjadi.


"Sebelum pernikahan besok, kamu mau kemana? Kebetulan hari ini aku tidak ada urusan. Aku bisa menemanimu sampai malam," kata Hamish.


"Terserah Kakak saja. Aku sudah pernah ke semua tempat wisata di negara ini," jawab Irene cuek.


Hamish berdecih. "Aku jadi menyesal pernah mengijinkanmu sekolah di luar negeri. Kalau aku ajak kemana-mana, kamu selalu bilang sudah pernah," gerutunya.

__ADS_1


***


Alan duduk lelah di depan sebuah kafe kecil di pinggir kota kecil di Perancis. Ia menyeruput kopi hitam yang disuguhkan oleh pelayan setempat. Anak buahnya turut duduk di sebelahnya, sedangkan beberapa lainnya terlihat menelepon dan mencatat sesuatu di buku catatan mereka.


"Alan, ada kabar terbaru tentang keberadaan Irene?" tanya Miko, salah satu kenalan Alan yang kebetulan ia temui di sana. Miko turut membantu Alan menyediakan tempat tinggal dan mencari informasi tentang Irene.


Alan menggeleng lemah. "Belum ada kabar sedikit pun. Aku sudah merasa hampir putus asa, kita sudah mencari di setiap tempat yang mungkin mereka singgahi."


Sesuai dengan perkataan kakek, Alan mencari Irene di beberapa pedesaan terpencil yang kata kakek menjadi tempat bermukim kelompok Big-O. Saat tiba di sana, Alan hanya menemukan bekas-bekas tempat tinggal mereka saja. Kemungkinan besar mereka telah pindah.


"Kamu sudah mencarinya di wilayah pusat kota?" tanya Miko.


Pertanyaan itu membuat Alan berpikir. Ia terlalu fokus mencari di daerah-daerah terpencil sampai melupakan untuk mencari di wilayah pusat kota.


"Aku belum mencarinya ke sana," kata Alan.


"Bagaimana kalau kita coba cari di area pusat kota? Meskipun akan sulit, siapa tahu ada titik terang nantinya," usul Miko.


Alan menoleh ke arah Aji.


Aji mengangguk, lalu menatap Alan dengan pandangan penuh semangat. "Kita tidak boleh menyerah. Kita harus terus mencari sampai kita menemukannya," katanya.


Alan tersenyum pahit. "Aku tahu itu, tapi di mana lagi kita harus mencari?"


Tiba-tiba, ponsel Alan berdering. Ada telepon masuk dari salah satu anak buahnya. Ia mengangkatnya dengan cepat, berharap itu adalah kabar baik tentang Irene.


"Dia ada di kota ini. Kami sudah menemukannya," suara di seberang telepon berkata.


Alan langsung bangkit dari kursinya, anak buahnya mengikuti di belakangnya. "Di mana dia sekarang? Aku akan pergi pergi ke tempatmu."


Alan sedikit merasa lega. Akhirnya ada titik terang tentang keberadaan Irene.


"Dia berada di hotel XXX. Saya akan mengirimkan alamat lengkapnya ke ponsel Anda sekarang."


Alan mengucapkan terima kasih, lalu menutup telepon. Ia menoleh ke arah anak buahnya dengan senyuman gembira di wajahnya. "Kita telah menemukannya. Mari kita pergi menjemput Irene!"

__ADS_1


__ADS_2