Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 237: Pertemuan Kembali


__ADS_3

Alan termenung sembari memandangi foto yang ada di galeri ponselnya. Di galeri terdapat koleksi foto dia dan Irene. Tidak terlalu banyak dan sebagian besar diambil secara diam-diam.


Sebenarnya sudah sejak lama ia merasa curiga dengan Irene dan Alenta. Ada banyak persamaan di antara keduanya. Dan ternyata memang keduanya orang yang sama.


Entah mengapa ia masih merasa kesal kepada Irene. Ia menjadi ragu apakah masih bisa mencintai wanita itu secara tulus seperti sebelumnya. Ia benar-benar sudah menerima wanita itu apa adanya. Namun, kenyataannya selama ini Irene telah membohonginya.


Ia rasa antara Irene dan Alenta tak jauh berbeda. Sama-sama cantik dan menarik di matanya sekalipun dengan penampilan dan warna kulit yang berbeda.


"Kamu sedang apa, Al?"


Sebuah suara lembut dari seorang wanita membuat Alan terkejut. Dia adalah Indira Narendra, ibu kandungnya yang ternyata masih hidup.


Indira Narendra dan Vito Narendra, pasangan suami istri yang sebelumnya telah dikabarkan meninggal sejak belasan tahun yang lalu ternyata masih hidup dan mengasingkan diri di sebuah desa terpencil Negara Bagian Amerika Serikat, yaitu Alaska.


Entah bagaimana cerita aslinya mereka bisa sampai di sana, menurut yang Alan tangkap, orang tuanya menjadi target pembunuhan di masa lalu. Keduanya diasingkan ke luar negeri oleh suatu kelompok dan membuat mereka seolah telah mati di tanah air.


Tujuannya untuk pengambilalihan kekuasaan perusahaan Narendra Grup. Tetapi, orangtua Alan berhasil melarikan diri dan bersembunyi di sebuah pedesaan kecil yang ada di wilayah Alaska.


Tidak ada banyak hal yang bisa mereka lakukan selama masa-masa pelarian. Apalagi kondisi ayah Alan yang lumpuh akibat terkena peluru di kaki kanannya. Indira dan Vito hanya pasrah menunggu waktu di tempat itu.


Alan tanpa sengaja bisa menemukan orangtuanya melalui organisasi miliknya yang memang sedang ada misi di sana. Salah seorang anak buahnya mengatakan telah menemukan orang yang dirasa mirip dengan dirinya. Ternyata benar, mereka adalah orang tuanya.


Kini Alan tengah menunggu ayah dan ibunya menjalani perawatan medis di sebuah rumah sakit yang ada di sana. Ia ingin memastikan apa penyakit yang diderita oleh keduanya selama ini.


"Mama kenapa jalan sendiri? Seharusnya panggil perawat kalau ingin keluar."


Alan berbalik badan dan menghampiri ibunya yang tengah berjalan sembari memegangi botol infus sendiri. Ia langsung mengambil botol itu dan membantu memeganginya.

__ADS_1


Indira divonis dokter mengalami kurang gizi. Tubuhnya kurus dan diperkirakan sudah bertahun-tahun tidak mencukupi kebutuhan tubuhnya secara layak.


"Tidak semua hal harus merepotkan perawat. Mama masih kuat jalan sendiri," ucap Indira.


Meskipun telah lama tidak bertemu, hubungan hangat di antara mereka masih terasa. Memang Alan anak yang bisa dikatakan paling mandiri dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain. Namun, kasih sayang Indira dan Vito tak pernah kurang untuk dicurahkan kepada mereka semua.


"Oh, iya. Tadi foto siapa yang kamu lihat? Mama juga mau ikut lihat," pinta Indira.


"Ah, itu ...." Alan bingung untuk mengatakannya. Ada banyak hal yang telah terjadi selama orang tuanya pergi. Termasuk tentang pertunangan dirinya dan Irene.


"Ayolah, Mama juga ingin tahu," rayu Indira.


"Baiklah, tapi kita bicara di ruangan Mama saja," pinta Alan.


Indira menurut. Ia mau diajak kembali ke ruangannya.


"Cepat ceritakan, mama yakin tadi ada foto wanita di ponselmu," desak Indira.


Sudah lama mereka tak bertemu. Indira merasa waktu berlalu dengan begitu cepat. Alan yang dulunya masih remaja saat ia tinggalkan kini telah berubah menjadi seorang lelaki dewasa.


Alan mengambil ponselnya dan menunjukkan foto wajah Irene saat mengaku sebagai Alenta.


"Wah, dia cantik sekali. Wajahnya seperti keturunan bule ya, Al?" puji Indira. Ia terpesona saat melihat foto tersebut. "Lalu, apa dia itu pacarmu?" tanyanya.


"Dia tunanganku, Ma. Calon istriku," kata Alan.


Ia sendiri bingung bagaimana harus menjelaskan hubungannya dengan Irene saat ini.

__ADS_1


"Benarkah?" Indira terlihat semakin penasaran dengan sosok yang sepertinya sangat spesial bagi putranya.


"Satu tahun yang lalu kakek menghadirkan dia di rumah, katanya ingin dijodohkan dengan salah satu dari cucunya. Sebelum meninggal, Kakek memintaku untuk bertunangan dengannya karena adik-adikku seperti tidak ada yang mau dengannya," kata Alan.


Indira mengernyitkan dahi. "Adik-adikmu tidak menyukai wanita secantik ini? Apa yang salah dengannya? Dia juga kelihatannya gadis yang baik," ujarnya.


Alan terdiam. Ia tak bisa sampai menjelaskan kalau Irene yang dulu datang ke rumah mereka parasnya tidak secantik itu.


"Mama jadi merindukan adik-adikmu, Al ... Terutama Ares. Dia seperti apa sekarang?"


Mata Indira berkaca-kaca ketika mengingat putra bungsunya. Ares masih 4 tahun ketika ia tinggalkan.


"Ares sudah dewasa, Ma. Dia tinggi dan bermata biru persis Mama," kata Alan.


"Selama ini mama hanya bisa merindukan kalian. Setiap malam mama selalu menangis karena ingin melihat kalian. Tapi, tidak ada yang bisa mama lakukan."


Alan memeluk ibunya yang tengah menangis terisak-isak. Ia bisa memahami kesulitan yang dialami orangtuanya. Ibunya sampai kurus dan kurang gizi karena terlalu banyak bekerja demi menyambung hidup. Apalagi ayahnya tak bisa lagi bekerja. Ibunya yang merawat dan menggantikan peran ayahnya bekerja.


"Al, terima kasih sudah menemukan kami," kata Indira.


Ia sangat bersyukur karena doa-doanya selama ini akhirnya bisa terkabul. Ia ditemukan sendiri oleh putra sulungnya.


"Alan juga berterima kasih karena mama dan papa sudah bertahan sejauh ini," kata Alan dengan seulas senyum. Rencananya ia akan membawa pulang Indira dan Vito setelah kondisi mereka membaik.


"Oh, iya. Ngomong-ngomong, siapa nama calon istrimu yang cantik itu?" tanya Indira.


"Namanya Irene, Ma. Irene Abraham," kata Alan.

__ADS_1


"Apa?" Indira tampak syok ketika Alan menyebutkan nama Irene.


__ADS_2